Ospek, Membina atau Menjajah



Dan sekaligus dengan dikeluarkannya Permendikbud tersebut, pemerintah Indonesia melalui Mendikbud ingin memberikan perlindungan (baca: memberikan rasa aman dan nyaman) terhadap para Maba untuk boleh mengikuti OSPEK dengan tidak dihantui rasa takut dan atau sejenisnya. Karena apabila pihak kampus selama menjalankan OSPEK masih menggunakan kekerasan, maka masyarakat setempat akan memandang pihak kampus tersebut dengan sebelah mata. Dan yang mengalami kerugian adalah pihak kampus tersebut. 
Selain itu, dalam Permendikbud Nomor 18 tahun 2016 tersebut, dijelaskan pula bahwa Ospek atau pengenalan lingkungan kampus bagi para Maba dilaksanakan dalam jangka waktu paling lama tiga hari (atau seminggu tergantung masing-masing kampus mengaktualisasikannya) pada minggu pertama awal tahun pelajaran dengan melakukan kegiatan wajib yang bermanfaat, bersifat edukatif, dan menyenangkan tentunya.
Serta juga mengimbau agar selama pelaksanaan Ospek berlangsung, sedapat mungkin pihak kampus tidak boleh melakukan pungutan liar. Dan kepada para Maba diwajibkan untuk taat serta mengikuti Ospek dengan segala tata tertibnya. 
 
Bukan Membina Hewan
Merujuk pada judul tulisan di atas, sesungguhnya pihak kampus melalui kepanitiaan sudah harus tahu bahwa yang dibina dalam Ospek adalah manusia bukan hewan. Siapa pun dia orangnya, tidak akan sepakat kalau dalam pelaksanaan Ospek masih ditemukan adanya bentuk-bentuk kekerasan baik verbal maupun non verbal. Kekerasan dalam bentuk apa pun, bukanlah budaya bangsa Indonesia.
Bangsa Indonesia menganut budaya sopan- santun dan saling menghargai antar sesama manusia Indonesia, baik tua, anak-anak hingga kaum dewasa. Bagi bangsa Indonesia, budaya kekerasan adalah bagian dari penjajahan yang harus ditiadakan di muka bumi ini. Jika budaya kekerasan masih ada dan hidup serta berkembang di dalam suatu kampus, maka secepatnya budaya itu harus disingkirkan. Termasuk menutup kampus yang masih kedapatan memakai kekerasan selama menjalankan Ospek. 
Hal mendasar yang harus diberi perhatian dan diubah selama dalam pelaksaaan Ospek adalah mindset (cara berpikir) dan budaya balas dendam (egoisme) dari panitia terhadap para Maba. Penting sekali dua langkah ini dilakukan agar tidak terkesan lagi bahwa yang di-OSPEK-kan adalah hewan. Kenapa dua hal ini harus mendapat perhatian lebih dari pihak kampus? Karena menurut hemat saya, kedua hal di atas merupakan sesuatu yang sangat sentral untuk menekan terjadinya kekerasan selama Ospek.
Karena belum semua kepanitiaan (khususnya mahasiswa-mahasiswi yang direkrut pihak kampus untuk menjadi panitia), tidak dalam keadaan sadar. Serta masih minimnya akan manfaat dari pelaksanaan Ospek tersebut. Jika pihak kampus tidak hati-hati dalam merekrut panitia untuk membantu dalam pelaksanaan Ospek, maka sesungguhnya pihak kampus-lah yang harus bertanggung jawab, bukan si pembuat malapetaka.*** 

Oleh Felixianus Ali, mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang, Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Berita Lainnya :