Pemilu Yang Menggebirakan


Oleh Sugeng Winarno
Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMM


Pemilihan umum telah memanggil kita, seluruh rakyat menyambut gembira.

Potongan syair lagu pemilu yang sangat populer pada zaman itu kiranya masih relevan untuk melihat pelaksanaan pemilu presiden (pilpres) dan pemilu legislatif (pileg) tahun ini. Rakyat akan memilih calon pemimpin Indonesia untuk lima tahun ke depan. Pemilu merupakan perwujudan pesta demokrasi, maka tak berlebihan bila semua rakyat perlu menyambutnya dengan gembira.
    Pemilu 2019 menelan biaya tak kurang Rp 25 triliun. Ongkos politik ini memang sangat besar, naik 61 persen dibanding anggaran pemilu 2014 lalu sebesar Rp 15,62 triliun. Untuk itu amat disayangkan kalau pemilu tahun ini tak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh masyarakat. Sambutan dan partisipasi rakyat sangat penting dalam turut menyukseskan pesta demokrasi ini. Mari menyambut dengan gembira dan datang ke TPS pada 17 April 2019.
    Dalam Pemilu 2019 ini ada dua pasang kandidat capres-cawapres, 16 partai politik (parpol) nasional dan 4 parpol lokal di Aceh. Total jumlah calon anggota legislatif (caleg) yang ikut berkontestasi sebanyak 7.968 orang, terdiri dari 4.774 caleg laki-laki, dan 3.194 caleg perempuan. Jumlah pemilih berdasarkan daftar pemilih tetap hasil perbaikan ke 2 per 15 Desember 2018, tercatat 192.828.520 orang, terdiri dari laki-laki 96.271.476 orang dan perempuan 96.557.044 orang.
    Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menyiapkan berbagai hal terkait pemilu 2019 ini. KPU menyediakan tak kurang 809.500 TPS di dalam dan luar negeri. Pemilu perlu peran serta masyarakat, karena salah satu indikator keberhasilan pemilu adalah tingkat partisipasi masyarakat. Seperti jingle pemilu 2019 yang dinyanyikan Kikan yang berbunyi mari kita memilih untuk Indonesia, menggapai cita lewat suara kita. Bagimu Indonesia, sukseskan demokrasi. Jadi pemilih Indonesia berdaulat, negara kuat.

Luber Jurdil
    Pemilu itu Luber Jurdil. Luber artinya langsung, umum, bebas, dan rahasia. Jurdil itu dari kata jujur dan adil. Banyak pihak mengerti azas pemilu ini, namun tak semua orang menerapkannya. Dari pemilu ke pemilu, azas Luber Jurdil telah digunakan sebagai pedoman dalam mewujudkan pemilu yang demokratis. Namun dalam kenyataannya, masih ada sekelompok orang yang tak menghendaksi terwujudnya pemilu yang Luber Jurdil.

Berita Lainnya :