Politisasi CFD

 
Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) yang lazim dikenal sebagai Car Free Day (CFD) akhir-akhir ini sedang menjadi trending topic, topik hangat yang ramai diperbincangkan di tengah masyarakat. Popularitas CFD bukan karena perubahan gaya hidup kaum urban yang mendadak gemar berolah raga di akhir pekan atau sekedar wisata kuliner di sekitar CFD, namun karena diduga CFD menjadi ajang kampanye terselubung bermotif politis. 
Kejadian yang ramai diperbincangkan berkaitan dengan CFD tersebut terjadi beberapa saat lalu, di Ibu Kota Jakarta, dimana terjadi gesekan antara masa berkaus #DiaSibukKerja dengan massa pendukung #2019GantiPresiden. Keduanya yang bertemu di CFD Bundaran HI, Jakarta, sempat menimbulkan suasana CFD sedikit tegang karena terjadi adu sorakan dan teriakan boo ketika mereka saling berpapasan.
CFD yang pertama kali diselenggarakan di Belanda pada 25 November 1956, mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun 2001 silam. CFD sejatinya merupakan sebuah kegiatan kampanye untuk mengurangi polusi dan mempopulerkan kegiatan olahraga di ruang terbuka, kini telah mengalami pergeseran makna. CFD akhir-akhir ini marak diidentikkan dengan agenda politik terselubung, mulai dari agenda yang dilakukan oleh Partai Politik, Ormas, Organisasi Keagamaan bahkan kerap jadi promosi produk yang pada dasarnya menyimpang dari tujuan awal diselenggarakannya CFD. 
Maka wajar ketika beberapa Pemerintah Daerah, menerbitkan peraturan yang intinya melarang adanya kegiatan kampanye politik di CFD. Sebut saja DKI Jakarta, Kota Makassar dan Kabupaten Pamekasan. Ketiga daerah tersebut secara tegas menyatakan bahwa kegiatan kampanye politik dilarang diselenggarakan di CFD, yang sepertinya akan segera disusul untuk diadopsi di berbagai wilayah lain di Indonesia.
Kejadian di CFD Jakarta seharusnya menjadi bahan pelajaran bagi semua, bahwa arena dan ruang terbuka yang telah disediakan oleh emerintah, harus dipahami sesuai dengan konteks dan tujuannya. Kejadian tersebut mestinya bisa membuka mata kita semua, bahwa rakyat sangat butuh ruang terbuka sebagai ajang untuk menyampaikan aspirasi politik mereka.
jika kebutuhan tersebut tak mampu dipenuhi, maka rakyat akan mencari caranya sendiri, bisa melalui kegiatan formal dan resmi, serta bisa juga melalui kegiatan illegal seperti yang terjadi di CFD Bundaran HI. Sebab, bukan tidak mungkin kejadian tersebut akan terulang lagi di daerah-daerah, karena notabene CFD hampir diselenggarakan di setiap kota besar di Indonesia. Maka potensi konflik di tahun politik ini bisa jadi semakin meningkat.
Terlepas dari adanya isu bahwa telah terjadi provokasi dalam kejadian di CFD Bundaran HI beberapa waktu lalu, yang perlu kita cermati adalah upaya politisasi CFD ini. Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, CFD memang bisa dijadikan sebagai sarana utama untuk menyuarakan aspirasi di ruang terbuka dengan beragam cara. Lihat saja, beragam atraksi sering kita jumpai di CFD, mulai dari teatrikal, stand up comedy  pemeriksaan kesehatan gratis dan banyak lagi.

Berita Lainnya :