Potret Literasi di Era Digital


Oleh Asri Kusuma Dewanti, Pengajar FKIP Universitas Muhammadiyah Malang

Zaman sekarang ini telah mengantarkan kita pada suatu era di mana informasi mengalir tanpa henti, melewati batas negara, multilayar, yang dapat diakses oleh semua orang dimanapun berada. Bahasa terkininya era informasi ini sering kita sebut sebagai era digital. Zaman yang kita kenal dengan era digital membawa konsekwensi tersendiri bagi masyarakat negeri ini.

Di satu sisi, tantangan peningkatan minat baca secara umum masih menghantui. Di sisi lain, besarnya pasokan informasi yang menerpa serta sifat sebagian besar tulisan yang tersedia di media digital telah menyebabkan para pengguna internet mengakses lebih banyak tulisan-tulisan pendek yang kurang keluasan dan kedalaman.  Memang seperti yang kita rasakan bersama bahwa era digital telah menghadirkan berbagai informasi ke seluruh belahan dunia, dapat diakses oleh siapa saja, di mana pun, dan kapan pun. meskipun pada satu informasi itu seragam, tetapi pada tingkat individu dapat diterima dengan berbeda, karena hal ini ditentukan oleh cara berpikir, sifat emosional serta tingkat spiritual individu yang menerima.
Kondisi yang demikian ketika masyarakat tidak siap dengan kemajuan itu, ekses negatif pun merebak. Akibatnya, melalui peranti digital dapat memicu konflik sosial di sejumlah tempat di Indonesia. Gara-garanya, banyak masyarakat yang sekadar membagi tautan dan konten ke akun media sosial tanpa mengecek kebenaran informasi yang disebarkannya.
Semua itu terjadi dalam kondisi ketika kita belum lagi berhasil dalam mengembangkan budaya baca yang merata, dan negeri kita masih didominasi oleh budaya tutur, masyarakat kita sudah masuk ke budaya audio-visual (radio dan TV) yang lebih mudah menyedot perhatian masyarakat. Tambahan lagi, dalam pergulatan penuh susah payah dengan budaya audio-visual itu, kita sudah terpaksa larut dalam budaya digital saat ini.

Tantangan literasi
Kenyataan tersebut menguak kembali kondisi literasi di Tanah Air yang masih memprihatinkan. Melek digital (digital literacy) yang selalu dihubungkan dengan kemampuan masyarakat membaca dan mengevaluasi informasi yang mereka peroleh. Sebenarnya, teknologi digital sampai batas tertentu juga mengembalikan budaya baca kepada masyarakat, baik lewat akses kepada berbagai tulisan di internet melalui search engine yang ada maupun melalui berbagai sarana media sosial, seperti situs web,blog, Facebook, dan Twitter. Akan tetapi, di sisi lain, tantangannya justru menjadi makin besar.

Celakanya, publik selalu tak memiliki kesiapan menerimanya, dalam arti memahami media secara kritis. Misalnya saja hal itu bisa dicontohkan ketika informasi tersebut benar dan bermanfaat mereka akan sukarela menyebarkan melalui peranti digital. Kondisi melek digital juga kerap dihubungkan dengan kemampuan literasi lain, yaitu melek media, melek internet, melek informasi, dan melek media sosial. Dengan definisi seperti di atas, maka mewujudkan masyarakat yang melek digital bukan upaya semudah membalik telapak tangan.
Seolah berhadapan dengan tembok tebal, bagaimana kita dapat membangun masyarakat melek digital di tengah kondisi literasi yang tidak mendukung seperti itu? Tentu, tanggung jawab ini bukan hanya menjadi beban pemerintah, melainkan juga masyarakat. Oleh sebab itulah, langkah-langkah bersama yang bisa kita lakukan.
Pertama, tradisi literasi perlu kita hadirkan guna menumbuhkan sikap pada individu selalu mengkaji dan melacak informasi hingga pada sumber primer dan tekstual. Dalam tradisi ini, individu mendahulukan nalar sebelum berbicara, berpikir kritis sebelum percaya.
Kedua, upaya sosialisasi terus-menerus tentang melek digital perlu dilakukan secara berkala. Pada saat yang sama, upaya membangun kesadaran itu juga dilakukan dengan menggarap segmen anak usia sekolah. Ketika kesadaran melek digital dibangun dari usia dini, maka antisipasi terhadap dampak negatif perkembangan digital dapat terbangun dari fondasinya.
Ketiga, masyarakat dengan level melek digital yang bervariasi juga harus dapat difasilitasi oleh pustakawan sehingga mereka dapat saling berbagi dan membangun program kolaboratif. Setiap orang yang memiliki potensi dapat saling belajar dan mengajar sehingga melek digital dapat diperkuat melalui komunitas masyarakat.
Keempat, menghadikan pustakanan akan lebih lengkap jika kita bersama-sama pemerintah mampu menghadirkan perpustakaan umum ataupun perpustakaan komunitas guna melakukan penguatan dalam melek digital karena digitalisasi memang membutuhkan budaya baru berupa keterbukaan, kemanfaatan, inklusif, dan merasakan pengalaman menggunakan kemajuan teknologi informasi.
Artinya, ketika kita berhasil membangun kesadaran melek digital pada  level siswa ataupun masyarakat, dampak negatif berupa informasi bohong, hasutan, atau ujaran kebencian di multimedia sekalipun dapat ditekan. Kita boleh berharap informasi negatif seperti itu tak akan mendapat tempat suatu saat nanti. Sebaliknya, jika minim atau rendahnya minat baca kita biarkan terjadi di negeri ini, maka tidak salah jika yang terjadi justru mengundang potensi negative pada dunia informasi di negeri ini, yang akhirnya masyarakat tidak siap dengan kemajuan itu, ekses negatif pun merebak.
Akibatnya, melalui peranti digital dapat memicu konflik sosial di sejumlah tempat di Indonesia. Gara-garanya, banyak masyarakat yang sekadar membagi tautan dan konten ke akun media sosial tanpa mengecek kebenaran informasi yang disebarkannya. Mengadopsi istilah yang dipopulerkan Anies Baswedan, gejala itu menandakan gawat darurat literasi anak di Indonesia. Literasi dapat dikatakan sekarat kalau tak berbenah dan meningkatkan kualitas diri. Ia gagal apabila tidak memiliki visi edukasi; menyadarkan anak akan misinya menjadi manusia sejati.
Tentu situasi demikian harus mendapat perhatian kita bersama. Untuk hal ini, dalam jangka panjang posisi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sangat menentukan. Tak ada rambu yang mampu mengatur dengan ketat masyarakat sosiodigital, kecuali setiap individu dalam masyarakat itu sendiri. Dengan kata lain, hanya diri yang berkarakter teguhlah yang bisa mengantisipasinya. Diri demikian hanya bisa dilahirkan sistem pendidikan berkarakter pula.

Berita Lainnya :