Refleksi dari Dialog Sang Juara

Hafidz, S.Pd.M.Pd.I
Dosen AIK UMM


Mau jadi juara dalam kehidupan ini? Belajarlah dari pengalaman keluarga Nabiyullah Ibrahim AS. Jika hidup diibaratkan sebuah perlombaan, maka beliau adalah pemain yang selalu memenangkan pertandingan. Bukan hanya menang dalam interaksi sosial, tetapi juga dalam menghadapi beratnya tekanan kehidupan. Pendek kata, beliau selalu berada pada posisi kelas atas. Artinya persoalan apapun mampu beliau atasi. Tidak heran jika Allah, melalui Rasulullah Muhammad SAW memasukkan beliau dalam kelompok ulul ‘azmi (orang yang mampu memikul beban berat kehidupan, sabar dalam menerimanya dan amanah dalam tugasnya).

Luar biasanya, meski hidup beliau selalu didera persoalan pelik dalam interaksi sosial, tetapi mampu membangun pertahanan ekonomi keluarga dengan baik. Sehingga rumah tangganya makmur dan sejahtera. Hal ini dibuktikan saat menda’wahkan kalimat Tauhid. Beliau diajak beradu argumen dengan raja di hadapan khalayak ramai. Dengan tema yang sangat sensitif. Yakni tentang kekuasaan Allah SWT versus kekuasaan raja yang mengaku dirinya sebagai Tuhan. Dihadirkan di hadapan publik dua orang budak. Yang satu gemuk dan yang satu kurus. Yang gemuk disembelih dan yang kurus dibebaskan. Dan raja mengklaim kalau dirinya bisa mematikan dan menghidupkan. Hal ini dilakukan raja sebagai tantangan kepada Ibrahim as yang mengklaim, bahwasannya Allah Tuhan Yang Mampu menghidupkan dan mematikan. Nabi Ibrahim as menjelaskan kalau Allah mampu menerbitkan matahari dari timur dan menterbenamkan di ufuk barat. Beliau meminta agar raja melakukan dengan cara sebaliknya. Tentu saja raja tidak mampu. Sehingga dialog hari itu dimenangkan oleh Nabi Ibrahim as.
Beliau juga dibakar hidup-hidup dengan tuduhan telah melakukan perusakan terhadap patung-patung sesembahan mereka. Tapi dengan izin Allah, api tidak membakar dirinya, termasuk pakaian yang dipakai saat itu.
Disisi lain dari kehidupannya, beliau mampu menjamu tamunya dengan anak sapi guling tatkala di sepertiga awal malam, beliau kedatangan dua orang tamu. Ini menunjukkan bahwa secara ekonomi beliau adalah Aghniya alias termasuk kelas atas.

Egalitaria Dalam Rumah Tangga
Sekian lama berumah tangga, sang istri-Sarah-mandul. Hanya saja dengan itikad baik, Sarah menyarankan Nabi Ibrahim as diminta untuk menikah sekalipun dia hanya sebagai budak atau pesuruh rumah tangganya, Hajar. Belum lama Hajar melahirkan Ismail, Sarah mulai cemburu dan meminta tidak menyaksikan romantisme mereka bertiga di depan matanya. Untuk itu beliau mengasingkan anak istrinya kegurun tandus nan kerontang, yang kelak disebut Baqi’, artinya lembah air mata.

Berita Terkait