Sektor Pertanian di Era Tekhnologi 4.0


Kini jaman tekhnologi komunikasi. Sejak ditemukannya Handphone(HP) pada tahun 90an, berangsur angsur handphone menjadi kebutuhan utama dalam berkomunikasi. Saat ini, siapa yg tidak punya handphone? profesi apa yang tidak perlu informasi cepat? Golongan masyarakat mana yang tidak memerlukan komunikasi canggih. Jika dulu kebutuhan akan sandang, pangan dan papan merupakan kebutuhan utama (primer) maka saat ini handphone dapat ditambahkan dalam kelompok kebutuhan primer ini. Jika dulu HP merupakan barang mewah dan mahal yang hanya bisa dibeli oleh masyarakat kelas atas, hal ini tidak berlaku untuk saat ini.
HP dengan harganya yang relatif terjangka maka sangat mudah masyarakat untuk membelinya, bahkan lapisan masyarakat terbawah sekalipun. Petani dan buruh tani saat berangkat ke sawah dan ladang tidak lupa membawa HP nya. Petani di pedesaan sekalipun sebagian besar sudah menikmati jaringan telekomunikasi ini. Menara penghubung (Base Transceiver Station-BTS) milik operator telepon sudah hadir diseluruh pelosok desa. Pertanyaanya: sudahkah mereka menikmati benefit/manfaat yang lebih besar dari sekedar telepon, kirim teks, kirim photo, video dan mencari hiburan lainnya?. Bukankah dengan HP yang mereka miliki itu dapat dimanfaatkan untuk mencari keuntungan lebih besar dengan  aplikasi yang tersedia.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) penduduk yang bekerja di sektor pertanian sangat tinggi jumlahnya kisaran 32% dari jumlah penduduk yang bekerja. Dengan demikian sektor pertanian ini merupakan sektor dengan kontribusi terbesar pada struktur lapangan pekerjaan. Sementara dengan kemajuan tekhnologi aplikasi dan SDM yang dapat menciptakannya untuk membantu mereka juga relatif banyak di Indonesia. Kenyataanya beberapa aplikasi untuk membantu petani memasarkan hasil sawah ladangnya sudah tersedia namun belum termanfaatkan dengan baik.
Aplikasi memang seharusnya friend user, disesuaikan dengan tingkat pendidikan para petani. Para petani harusnya dimudahkan menggunakan aplikasi sejak log in sampai tahap penggunaan sehari-hari. Adanya aplikasi bagi petani ini harus mencakup tahapan pra tanam, pemeliharaan, pra panen dan pasca panen. Idealnya aplikasi ini terintegrasi dengan pemerintah dalam hal ini dinas pertanian, lembaga keuangan , KUD sebagai penyedia modal, penyalur pupuk dan obat-obatan, hingga pihak pengelola pasar. Jika demikian maka petani akan memperoleh keuntungan yang maksimal. Selama ini petani diakui atau tidak, menjadi obyek mencari keuntungan oleh para tengkulak dan pemilik modal lainnya.
Boleh dikatakan petani yang menanam, memelihara, merawat, dan menanggung resiko gagal panen atau harga jatuh, keuntunganya yang diperoleh selisih jauh jika dibandingkan dengan para tengkulak. Keberadaan tengkulak memang dibutuhkan karena mereka berperan sebagai tongkat estafet memasarkan hasil pertanian tetapi jika petani dapat langsung memasarkan produknya maka akan memperoleh keuntungan yang lebih besar. Hanya akses permodalan dan akses pasar yang tidak dimilikinya. Petani selalu dipihak yang lemah. Memang bukan sepenuhnya penderitaan petani disebabkan oleh ulah tengkulak, tetapi manajemen penanaman atau pola tanam juga harus dibenahi.

Berita Lainnya :