Please disable your adblock and script blockers to view this page


Siaran TV yang Hilang

Oleh: Sugeng WinarnoPegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi
FISIP Universitas Muhammadiyah Malang


    Siaran TV yang hilang. Ini bukan judul sinetron televisi. Bukan pula episode FTV yang judulnya sering lebay itu. Ini adalah fakta. Sejumlah stasiun televisi nasional yang biasanya boleh mengudara di Malang Raya tiba-tiba menghilang. Para penonton setia Metro TV, TV One, Trans TV, dan Trans 7 tak bisa lagi menikmati tayangan favorit mereka di keempat stasiun televisi ini. Hilangnya beberapa siaran televisi nasional ini karena Balai Monitor (Balmon) Kelas I Surabaya menertibkan siaran beberapa stasiun yang belum berizin.
    Televisi, seperti halnya radio, merupakan media yang menggunakan frekuensi dalam siarannya. Frekuensi adalah milik publik. Esensinya, sang pemilik frekuensi adalah publik.

Frekuensi tak bisa seenaknya dimiliki oleh personal. Kepemilikan frekuensi bisa diberikan kepada mereka untuk memberi kemanfaatan pada kepentingan publik, bukan semata untuk bisnis segelintir orang berduit. Untuk itu, pengaturan dan penguasaan terhadap frekuensi ini harus dilakukan dengan baik. Tak boleh ada monopoli, pun tak bisa frekuensi disalahgunakan.
    Pengaturan terhadap frekuensi publik ini penting mengingat lembaga penyiaran punya kemampuan “membius” publik dengan dosis tinggi. Artinya, beragam konten pesan yang disampaikan oleh lembaga penyiaran sangat perkasa dalam membentuk opini, memaparkan informasi, hingga jadi medium propaganda yang ampuh. Mengingat begitu powerful-nya media penyiaran, terutama televisi, maka pemilik izin lembaga penyiaran tak bisa main-main dalam menjalankan fungsi dan perannya.

Frekuensi Milik Publik
    Frekuensi sejatinya menduduki posisi sangat vital bagi publik. Frekuensi bisa serupa dengan bumi, air, dan kekayaan alam yang harus dikelola dan digunakan dengan sebaik-baiknya demi kemakmuran rakyat. Frekuensi memang bukan barang atau benda yang bisa dilihat dan dinikmati secara fisik. Walau tak tampak, frekuensi banyak dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat guna mengakses beragam sarana komunikasi, informasi, dan hiburan, serta beragam kepentingan lain.
    Frekuensi adalah barang kekayaan publik (the spectrum as a public resource). Penyiaran berbasis spektrum gelombang radio disadari amat penting bagi penyelenggaraan komunikasi nirkabel dan diseminasi informasi pada masyarakat. Merujuk Habermas (1984) bahwa media yang menggunakan frekuensi hadir sebagai ruang publik sekaligus menjadi dasar bangunan demokrasi dan keadaban masyarakat. Sebagai ruang publik yang menjembatani perjumpaan di antara individu untuk mendiskusikan masalah-masalah yang menjadi isu bersama.

    Sesuai yang tertuang dalam Undang-Undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 bahwa frekuensi adalah milik publik dan sifatnya terbatas, maka penggunaannya harus sebesar-besarnya bagi kepentingan publik. Artinya media penyiaran harus menjalankan fungsi pelayanan publik yang sehat. Penyiaran berfungsi sebagai media informasi, pendidikan, kebudayaan, hiburan, kontrol sosial, perekat sosial, ekonomi, wahana pencerahan, dan pemberdayaan masyarakat.

Berita Lainnya :