Sosok Negarawan yang Dinanti

Oleh Mega Susanti, mahasiswa Jurusan Pendidikan IPA Universitas Negeri Malang

Semakin dekat dengan perubahan, semakin dekat dengan kemenangan. Penggalan kalimat tersebut bukan hanya ditujukan atas perayaan hari Raya Idul Fitri setiap tanggal 1 Syawal oleh kaum muslim. Walaupun esensinya sebagai momentum kemenangan dan disertai dengan semangat perubahan. Sepenggal kalimat di atas, dapat ditujukan pula untuk menggambarkan kondisi saat ini. Bangsa Indonesia akan menyambut hari bersejarah, yakni pemilihan pemimpin bangsa yang akan lahir dari suara rakyat.
Pemilihan presiden dan wakil presiden tinggal menghitung hari. Semangat para pendukung semakin bertambah seiring dengan semakin dekatnya pemilihan presiden dan wakil presiden pada tanggal 17 April 2019 mendatang. Berbagai strategi dilakukan masing-masing pasangan calon untuk menunjukkan performance terbaiknya, salah satunya dalam forum debat yang dilakukan secara continue.

Sebagaimana yang dilansir cnnindonesia.com, pada tanggal 13 April 2019 akan dilaksanakan debat kelima dengan tema Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial, Keuangan dan Investasi serta Perdagangan dan Industri. Selain sebagai ajang untuk menyosialisasikan atau memperkenalkan visi misi kepada masyarakat, forum debat dikemas agar masyarakat dapat mendapatkan gambaran cara pandang masing-masing pasangan calon terhadap Indonesia ke depannya melalui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
Tidak hanya forum debat, masing-masing pasangan calon juga diberikan kesempatan untuk memperkenalkan visi misi melalui kampanye. Sebagaimana yang dilansir kompas.com, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU),  Arief Budiman resmi membuka masa kampanye untuk pemilihan umum serentak pada tahun 2019 hingga 13 April 2019. Adapun tanggal 14-16 April sebagai masa tenang.
Arief  meminta seluruh tim pasangan capres dan cawapres memanfaatkan masa kampanye untuk memperkenalkan visi-visi, program atau citra diri masing-masing calon kepada pemilih. Dia juga menegaskan, masa kampanye seharusnya menjadi ajang pendidikan politik kepada pemilih. Selain itu, tim kampanye diminta memanfaatkan masa kampanye dengan damai dan tertib, menghindari politisasi suku, agama dan ras, serta saling menghujat.
Realitanya, kampanye yang  diharapkan mampu dilaksanakan dengan damai dan tertib, justru di beberapa kota menimbulkan kericuhan. Sebagaimana yang dilansir kompas.com, kericuhan terjadi antara simpatisan partai politik dengan warga di jalan Jogja-Wates Sleman Yogyakarta. Massa pendukung partai yang hendak mengikuti kampanye Pilpres di Wates, Kulon Progo terlibat bentrok dengan warga di depan markas ormas FPI.

Kericuhan antara massa simpatisan partai politik yang akan berkampanye dengan warga di depan markas ormas FPI terjadi di jalan raya Yogyakarta-Wates. Hal yang sama juga terjadi di Makassar, kampanye yang berlangsung menimbulkan kericuhan yang disebabkan masyarakat berebut makanan sebagaimana dilansir tempo.co.
Tidak hanya di dunia nyata, debat antar pendukung pasangan calon terjadi di dunia maya. Pasalnya pasca forum debat perdana Pilpres, selalu menjadi buah bibir di kalangan pengguna media sosial atau netizen. Terlebih netizen yang memiliki kecenderungan terhadap pasangan calon tertentu tidak segan-segan menghujat pasangan calon yang lain. Twitter menjadi media yang paling banyak disasar untuk saling mengunggulkan pasangan calon yang  didukung. Hal ini ditunjukkan dengan cuitan hastag antar pendukung. Dilansir dari pikiran rakyat.com, keriuhan debat calon presiden yang ditayangkan di televisi, sebenarnya bukan perang yang paling ganas. Di media sosial, perang antar pendukung terus memanas.

Berita Lainnya :