Tokoh Idola Berperan Cegah Narkoba

Oleh: Nova Enggar Fajarianto
Mahasiswa PKN STAN, Kementerian Keuangan


Indonesia adalah negara yang besar. Di mana keberhasilannya ditentukan oleh tangan para generasi muda. Negara yang besar, tidak lepas dari permasalahan yang besar pula. Karena semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpanya. Itulah yang terjadi di negara kita tercinta. Di tengah-tengah pembangunan nasional yang megah, kita diingatkan akan sebuah ‘PR’ bersama. Sebuah fenomena sosial yang ramai dibicarakan sebagai penyebab bobroknya moral bangsa. Sebut saja narkoba. Narkoba merupakan obat-obatan yang akan bermanfaat jika digunakan dalam hal kesehatan. Namun akan sangat berbahaya jika dikonsumsi secara illegal. Peredaran dan dampak narkoba saat ini sangat meresahkan.

Mudahnya memperoleh bahan berbahaya tersebut membuat penggunanya semakin meningkat. Tak kenal jenis kelamin dan usia, semua orang berisiko mengalami kecanduan. Menurut UU Narkotika pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa narkotika merupakan zat buatan atau pun yang berasal dari tanaman yang memberikan efek halusinasi, menurunnya kesadaran, serta menyebabkan kecanduan. Generasi muda menyalahgunakan barang tersebut sekadar untuk melupakan permasalahan yang tengah dihadapi agar mereka bisa rileks dan merasa senang (halusinasi). Padahal perasaan senang hanyalah sementara dan justru akan menjerumuskannya ke dalam jurang kehancuran. Seiring dengan berkembangnya teknologi, peredaran narkoba semakin cepat menyerang generasi muda. Mirisnya, kaum muda yang terjebak dalam peredaran barang ‘jahat’ tersebut adalah para pelajar yang belum memiliki penghasilan. Narkoba bukan lagi menjadi barang yang mahal dan susah diperoleh. Namun juga ada narkoba berharga murah sehingga dapat diperoleh dengan mudah oleh para pelajar. Melalui teknologi yang semakin pesat, generasi muda dapat membuka interaksi dengan para pengedar narkoba. Lagi-lagi teknologi menghadirkan plus minus terhadap dunia. Indonesia semakin menjadi negara dengan darurat narkoba. Karena dari tahun ke tahun permasalahan ini tidak kunjung reda. Hukuman di dalam jeruji besi seakan tak memberikan efek jera yang berarti terhadap para pelaku. Sehingga peredarannya tetap saja ada dan semakin mengancam generasi harapan bangsa.

Kondisi seperti ini telah menjadi permasalahan yang tak kunjung reda dari waktu ke waktu. Kita tahu negara telah memaksimalkan segala upaya untuk meredam peredaran narkoba. Para aparat penegak hukum telah berjibaku melebarkan ‘sayap’untuk mencegah konsumsi narkoba yang semakin meluas. Hasilnya tetap saja, penyalahgunaan narkoba belum bisa kita atasi dengan baik. Kita perlu solusi baru, yang mungkin belum pernah terpikirkan oleh banyak orang. Penulis berpendapat bahwa cara-cara yang selama ini negara gunakan adalah cara yang konvensional pada umumnya. Kita butuh inovasi baru, yang dapat memberikan efek signifikan untuk memberantas jaringan narkoba.Pemerintah dapat membentuk Badan sebagai sebuah organisasi yang mewadahi para youtuber, selebgram, dan influencer lainnya untuk dapat berkarya demi kepentingan nasional. Tujuannya adalah untuk membentuk doktrin kepada masyarakat agar menjauhi narkoba. Pemerintah dapat mengangkat mereka sebagai Pegawai Negeri Sipil ataupun pegawai khusus yang bekerja dibidang content creator. Content Creator membuat konten publikasi yang akan diterima oleh publik secara luas. Dari situ pemerintah dapat memberikan mandat kepada organisasi tersebut untuk membuat konten yang berhubungan dengan pencegahan narkoba. Konten yang dibuat dapat berbentuk video yang ditayangkan di youtube, instagram, ataupun media sosial lainnya. Atau mungkin juga  berbentuk artikel, novel, cerpen, yang di dalamnyaterkandung ideologi pencegahan narkoba. Perlu diketahui bahwa organisasi ini didirikan dengan tidak membatasi para influencer untuk mengembangkan konten pribadinya. Sehingga selain bekerja demi negara, mereka juga tetap aktif membuat konten pribadi sesuai dengan kreatifitas masing-masing.Harapannya mereka tidak akan kehilangan fans yang dimiliki. Mereka justru merasa diuntungkan, karena selain memperoleh penghasilan dari hasil karyanya, mereka juga akan digaji oleh pemerintah atas upaya menyelamatkan kehidupan bangsa.
Di dalam organisasi tersebut, pemerintah akan merekrut beberapa influencer ternama yang memiliki reputasi dan digandrungi oleh masyarakat. Sebut saja seperti Atta Halilintar yang dinobatkan sebagai youtuber dengan subscriber terbanyak di Asia Tenggara. Ada lagi nama-nama lainnya seperti Ria Ricis, Dedy Corbuzier, Gen Halilintar, Raditya Dika sebagai youtuber sekaligus penulis, dan para influencer yang berpotensi lainnya. Mereka memiliki fans yang melimpah. Mereka adalah idola generasi muda yang dikagumi. Di mana yang menjadi fansnya akan banyak meniru apa yang menjadi ciri khas mereka. Entah itu gaya hidupnya, gaya bicaranya, gaya penampilannya, sampai dengan karakternya. Dalam ilmu sosiologi, kita kenal dengan istilah imitasi, yang bermakna bahwa seseorang akan meniru apa yang menjadi ciri khas oleh sosok idolanya. Mereka dapat menjadi ‘senjata’ pemerintah untuk mempengaruhi masyarakat agar meniru apa yang dikatakannya atau apa yang dilakukannya. Para influencer dapat menggaungkan doktrin yang bersifat jauhi narkoba, stop narkoba, cegah narkoba dengan memberikan penjelasan yang masuk akal. Di youtube semua youtuberdapat membuat konten memerangi narkoba, dengan berbagai kreatifitas yang dimiliki. Dari bidang tulisan, para penulis juga dapat membuat novel, artikel, cerpen atau tulisan lainnya dengan memasukkan ideologi anti narkoba. Pastinya, konten tersebut akan dikemas sedemikian rupa dan sekreatif mungkin sehingga tetap dapat diterima oleh seluruh elemen masyarakat.
Doktrin atau dikenal dengan brainwashing yang dibuat, mungkin tidak akan langsung terasa dampaknya. Pelan tapi pasti, para generasi muda akan menerima pola pikir  baru berdasarkan apa yang mereka lihat, apa yang mereka baca, dan apa yang dilakukan oleh para idolanya. Doktrin ini layaknya pondasi rumah. Guna membangun sebuah rumah, diperlukan pondasi yang kuat dan kokoh. Seperti halnya negara, untuk membangun peradaban yang maju, diperlukan pola pikir yang kuat dan benar dari para rakyatnya. Melalui badan yang dibentuk pemerintah, para influencer menanamkan nilai-nilai yang baik untuk mejauhi narkoba ke dalam pikiran alam bawah sadar generasi muda. Mungkin tidak semua generasi muda dapat langsung terdoktrin sesuai dengan yang diharapkan. Khususnya bagi mereka yang memiliki kekuatan berpikir di otak kiri. Namun, jika doktrin diberikan secara terus menerus dengan cara yang halus, dengan sugesti yang tepat, dan tidak terasa sebuah paksaan, penulis meyakini otak kanan mereka akan merespon dengan baik. Hasilnya menjadi sebuah pola pikir yang baik, kuat, dan tidak mudah dipengaruhi oleh iming-iming narkoba. Organisasi ini dapat terbentuk menjadi badan tersendiri ataupun menjadi unit di bawah pengawasan Badan Narkotika Nasional (BNN), tetap menjadi pilihan preventif kita di masa depan. Dengan memadukan cara penegakan hukum yang strategis dari para aparat ditambah dengan doktrin yang digaungkan oleh generasi milineal, penulis meyakini bahwa penyalahgunaan narkoba dapat diatasi oleh bangsa kita. Kita harus optimis untuk melakukan inovasi baru demi menyelamatkan kehidupan bangsa. Sampai pada akhirnya kita akan melihat wajah Indonesia yang berseri danterbebas dari ancaman bahaya narkoba. Stop Narkoba! (*)

Berita Terkait