Urgrensi Pendidikan Karakter di Era Mileneal

Oleh : Sri Wahyuningsih, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (Civic Hukum) - Universitas Muhmmadiyah Malang.


Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat berdampak signifikan terhadap berbagai bidang kehidupan, terutama di bidang pendidikan. Setiap komponen pendidikan tidak bisa lepas dari pengaruh dahsyatnya kemajuan teknologi. Hal ini menjadi kode bahwasanya tugas pendidik masa kini akan lebih berat, terutama guru yang berbasis pendidikan karakter khususnya mata pelajaran Agama dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Mengapa demikian? Karena seorang guru dituntut agar bisa menjadi fasilitator dan teladan bagi para peserta didiknya.
Mengutip kata pepatah, guru itu “digugu dan ditiru”, dan guru adalah orang tua kedua setelah orang tua kita di rumah. Maka, guru harus bisa menjadi suri tauladan yang baik agar tidak terjadi penyimpangan.

Pelajar masa kini (Generasi Millenial) sangat dekat dengan gadget yang menjadi salah satu teknologi populer di masa kini. Dengan adanya kemajuan teknologi yang semakin pesat, akan banyak hal-hal positif maupun negatif yang datang silih berganti. Nah, eksistensi pelajar sangat rawan akan hal seperti ini, mereka bisa saja mudah terbawa arus informasi yang tidak jelas kebenarannya atau yang sering disebut hoax jika tidak cermat dalam memilah antara informasi yang akurat dan hoax.
Generasi millenial adalah generasi yang identik dengan pengguna media sosial atau sering disebut netizen. Kini kita tahu bahwa banyak informasi yang bisa dengan mudah didapat dari media sosial. Mulai dari konten yang bersifat mendidik dan menghibur hingga konten yang memiliki dampak negatif. Generasi millenial sangat membutuhkan adanya pendidikan moral atau karakter yang diberikan di pendidikan formal maupun non formal. Hal itu diperlukan untuk meminimalisir akan terjadinya krisis moral yang dialami oleh bangsa kita ini.
Peranan pendidikan formal  bisa dilihat ketika siswa diberikan pemahaman dan contoh yang baik dari guru terutama oleh guru Agama dan PPKn. Selain itu, ada yang lebih penting daripada peran guru yakni terletak pada pendidikan non formal seperti keluarga dan lingkungan masyarakat. Menelaah lebih dalam lagi, sebenarnya pendidikan itu sudah diterapkan sejak kita lahir, pusat pendidikan yang pertama adalah keluarga. Dalam keluarga kita sudah banyak diajarkan tentang nilai-nilai kehidupan , seperti nilai moral, sosial, keagamaan, dan sebagainya untuk membentuk pribadi yang lebih berkualitas serta berakhlakul karimah. Akan tetapi, semua itu tidak lepas dari pengaruh luar yakni lingkungan masyarakat, sebagai laboratorium kehidupan yang sesungguhnya bagi anak tersebut, dimana mereka harus bisa mengaplikasikan sikap dan eksistensinya dengan apa yang dia miliki dan yang sudah dipelajari. Dengan begitu, mereka bisa bereksperimen dengan bijak.
Saat ini banyak dari kalangan generasi millenial yang menjadi korban keganasan media sosial. Mengutip kata “Dunia dalam genggaman”, mungkin inilah yang dimaksudkan kita bisa mencari informasi dengan mudah melalui berbagai teknologi canggih misalnya, smartphone sebagai pintu gerbang menuju dunia tanpa batas.  Namun, banyak disalahgunakan sebagai alat untuk melakukan tindakan yang tidak bermoral, ujaran kebencian dan melanggar norma-norma. Hal tersebut dapat menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat sehingga memicu terjadinya permusuhan diantara mereka. Gadget yang dulunya bisa dikategorikan sebagai kebutuhan tersier, kini telah berubah menjadi kebutuhan pokok di kalangan masyarakat dan bahkan tidak dapat ditinggalkan.

Banyak anak zaman sekarang suka mengunggah foto dengan caption yang bisa dikatakan suatu privasi, dan hal tersebut banyak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Tak heran jika banyak terjadi kasus pelecehan seksual yang semua itu bermula dari komunikasi dengan orang yang tidak dikenal di jejaring media sosial, penculikan yang berkedok asmara, hingga adanya peredaran narkoba.
Kasus baru-baru ini yang sempat viral menarik perhatian publik adalah kasus bullying pengeroyokan siswa SMP yang bernama Audrey. Isu yang viral di media sosial bahwa korban dikeroyok oleh 12 orang pelaku. Dimana kasus ini berawal dari saling sindir di media sosial, yang akhirnya memicu pertikaian diantara mereka. Pelaku sakit hati atas status korban di medsos. Sebelumnya, Polresta Pontianak pada Rabu (10/4) telah menetapkan 3 tersangka masing-masing berinisial Ll, Ar dan Ec (siswa SMA) dugaan kasus penganiayaan terhadap seorang pelajar SMP di kota Pontianak.Dari hasil pemeriksaanPolri menetapkan 3 orang sebagai tersangka dan yang lainnya sebagai saksi. Dan ketiga pelaku tersangka dikenakan Pasal 80 ayat 1 UU No.35/2014 tentang perubahan UU No.23/2002 tentang Perlindungan Anak. Dan sesuai UU No.11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak maka dilakukan diversi (pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar negara pidana).
Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang berjiwa nasionalis berdasarkan nilai-nilai yang termuat dalam dasar negara yakni Pancasila. Problematika saat ini adalah memudarnya jiwa bangsa yang berkarakter pancasila. Apalagi sebagai generasi muda muslim Indonesia. Urgensi pendidikan Agama Islam dapat dijadikan ujung tombak agenda internalisasi jiwa pancasila tersebut. Sebagaimana sila pertama pancasila yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, dari sinilah jiwa religius sebagai manifestasinya. Dalam konteks Islam, jiwa religius itu disebut dengan ketaqwaan, yaitu melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Jiwa religius dapat disemai dengan metode keteladanan. Artinya, para orang tua, guru, masyarakat, hingga publik figur semacam artis seharusnya menampilkan keteladanan dalam hal taqwa, sehingga generasi muda bisa menapaki jejaknya.
Sudah seharusnya kita sebagai generasi millenial harus bisa menjaga diri, menjaga sikap tingkah laku, menjaga akal, baik di dunia nyata ataupun di dunia maya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, kita sebagai generasi millenial tentu membutuhkan gadget namun dalam porsi penggunaan yang seharusnya. Karena, jangan sampai gadget menjadi bius yang mampu menghilangkan kesadaran tanpa disadari oleh diri sendiri. Jangan mau dijajah secara psikis dengan adanya perkembangan teknologi saat ini. Oleh sebab itu  pendidikan karakter mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat dan pihak sekolah sangat penting untuk masa depan generasi muda bangsa Indonesia yang berkualitas. (*)

Berita Lainnya :