Waspada Pewarna Tekstil Rhodamin B pada Makanan

Sally, Surya University

Pengetahuan mengenai keamanan pangan sangat dibutuhkan oleh masyarakat supaya dapat terhindar dari berbagai resiko akibat mengonsumsi makanan yang tidak aman bagi kesehatan, salah satunya disebabkan karena penggunaan bahan tambahan pangan. Pada era globalisasi ini, kebanyakan makanan mengandung bahan tambahan pangan. Bahan tambahan pangan (BTP) itu sendiri merupakan suatu bahan buatan atau alami yang dengan sengaja ditambahkan ke dalam makanan dengan tujuan untuk memperbaiki warna, tekstur, rasa, umur simpan, dan meningkatkan kualitas makanan.Salah satu bahan tambahan pangan yang banyak terkandung dalam makanan adalah pewarna. Pewarna merupakan salah satu bahan tambahan pangan untuk memberi maupun memperbaiki warna pada makanan yang dapat berupa pewarna alami dan pewarna sintetis. Namun, banyak orang tidak mengetahui cara penggunaan bahan pewarna yang tepat, sehingga dapat menyebabkan dampak buruk bagi tubuh.

Pewarna merupakan bahan tambahan pangan yang sering ditambahkan ke dalam makanan untuk meningkatkan daya tarik dari produk makanan tersebut. Zat pewarna terdapat dua macam yaitu zat pewarna alami dan buatan. Pewarna alami merupakan perwarna yang berasal dari pigmen tanaman, hewan, mineral, dan sumber alami lainnya yang dibuat melalui proses ekstraksi dan isolasi. Beberapa contoh pewarna alami adalah kurkumin yang ditemukan pada kunyit, klorofil yang ditemukan pada sayuran hijau, karamel, dan merah bit. Pewarna alami ini merupakan pewarna yang lebih aman dibandingkan dengan pewarna sintetis atau pewarna buatan. Namun, pigmen warna yang dihasilkan pewarna alami memiliki konsentrasi yang rendah dan kurang stabil. Penambahan pewarna alami juga dapat mempengaruhi rasa dan flavor yang tidak diinginkan.
Pewarna sintetis merupakan pewarna yang diperoleh secara sintesis kimiawi. Beberapa contoh pewarna sintetis yang dapat digunakan pada makanan adalah tartrazin, sunset yellow, quinoline yellow, sunset yellow, dan brilliant blue. Pewarna sintetis ini dapat memberikan warna yang lebih kuat dan stabil, serta harga yang lebih murah. Namun, penggunaan pewarna sintesis yang berlebihan dapat menyebabkan efek negatif bagi tubuh, sehingga penggunaannya harus mengikuti batas maksimum yang diatur dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan nomor 37 tahun 2013.
 
Penggunaan zat pewarna pada makanan dapat menarik konsumen untuk mengonsumsi makanan tersebut. Akan tetapi, saat ini banyak produsen makanan memiliki pengetahuan yang kurang mengenai keamanan pangan dan berlomba-lomba untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Hal ini dilakukan dengan cara apapun termasuk dengan mengorbankan kesehatan konsumennya. Banyak produsen-produsen yang menggunakanbahan tambahan bukan untuk pangan karena memiliki harga yang lebih murah dibandingkan bahan tambahan makanan. Namun penggunaan bahan tambahan bukan untuk pangan ini dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan, salah satunya adalah pewarna tekstil. Pewarna tekstil yang sering ditemukan dalam makanan adalah Rhodamin B.
Bahaya Pewarna Rhodamin B
Rhodamin B merupakan zat pewarna tekstil yang dapat memberikan warna merah, namun tidak boleh dikonsumsi oleh manusia. Rhodamin B biasa digunakan pada industri dan kertas, sebagai pewarna kain, sabun, dan kayu. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh BPOM, penggunaan Rhodamin B masih banyak ditemukan pada beberapa produk makanan atau jajanan yang dijual oleh pedagang makanan, seperti arum manis, kerupuk, saus sambal dan saus tomat, es, takjil (pacar cina, bubur mutiara), agar-agar, sirup, bolu kukus, roti, kue lapis, dan permen. Pewarna ini banyak digunakan karena mempunyai harga yang lebih murah dari pewarna makanan, serta mempunyai warna yang lebih cerah dan stabil dibandingkan dengan pewarna makanan. Akan tetapi, mengonsumsi Rhodamin B dapat menyebabkan dampak negatif bagi tubuh, seperti keracunan dan iritasi saluran pencernaan. Rhodamin B yang dikonsumsi dalam jangka waktu panjang juga dapat menyebabkan gejala pembesaran hati dan ginjal, gangguan fungsi hati, kerusakan hati, gangguan fisiologis tubuh, dan dapat menyebabkan timbulnya kanker hati.
Sebagai konsumen, harus lebih cermat dalam memilih makanan supaya dapat terhindar dari bahaya dan efek negatif akibat mengonsumsi makanan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengetahui ciri-ciri makanan yang mengandung pewarna tekstil. Makanan yang mengandung Rhodamin B memiliki ciri-ciri yaitu bewarna terlalu mencolok, warna tidak homogen, dan rasanya sedikit pahit. Selain itu, hindari makanan dengan warna yang terlalu mencolok, hindari membeli makanan kemasan yang tidak mencantumkan informasi kandungan pada labelnya, dan pilihlah makanan yang mempunyai kode registrasi produk dan yang sudah terdaftar di Badan POM atau Dinas Kesehatan setempat.
Disamping itu, untuk mengurangi penggunaan zat pewarna berbahaya ini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) harus melakukan penyuluhan kepada para pedagang atau penjual makanan mengenai keamanan pangan, sehingga mereka lebih mengerti mengenai bahan tambahan pangan khususnya zat pewarna yang boleh ditambahkan pada makanan. Sebaiknya, BPOM juga lebih sering melakukan pemeriksaan terhadap makanan atau jajanan apakah mengandung bahan tambahan pangan yang berbahaya dan apakah makanan tersebut sudah aman dan layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat.
 

Berita Lainnya :