magista scarpe da calcio Opini


Jejak Teror di Bumi Angrok


Tak butuh waktu lama seusai kerusuhan Mako Brimob oleh 155 narapidana terorisme (napiter) yang menewaskan 5 polisi (8/5), aksi keji bom gereja dan Mapolres di Surabaya (13/5), serta aksi penabrakan di Mapolda Riau, pihak kepolisian bersegera memburu para terduga pelaku teror. Di Jawa Timur, hingga Rabu (16/5), Tim Densus 88 Anti-Teror menangkap hingga 18 terduga teroris yang tersebar di Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, dan Malang. 

Bekerja, Ibadah, Ikhlas, Berkah dan Bahagia


Memasuki  Ramadan ada banyak hal menarik untuk didiskusikan. Dan salah satunya adalah masalah: niat bekerja, ibadah, keikhlasan, berkah dan bahagia. Faktor ungen dalam beragam kegiatan tersebut dan diataranya adalah memantapkan keyakinan terhadap Ilahi. Kebesaran akan segala nikmat yang telah diberikan kepada seluruh ummat tanpa pandang bulu. Pemberian karunia berupa nikmat sehat, nikmat bugar, nikmat kaya, nikmat  berkecukupan sebagai tujuan akhir berupa kebahagiaan. Nikmat yang diberikan untuk mereka yang beriman maupun yang ingkar. Karunia yang diberikan karena ummat-Nya mau bekerja keras siang dan malam demi mencari nafkah duniawi.
Tetapi bagi orang yang beriman, bahwa bekerja siang dan malam itu sebagai bekal untuk beribadah kepada Sang Maha Pencipta. Anggapan semacam ini memang ada benarnya, tetapi masih "debatebel". Karena pekerjaaan atau setiap bentuk aktivitas yang kita lakukan, pada hakikatnya bisa langsung bernilai ibadah bila kita selalu meniatkan untuk beribadah dan menggapai ridha-Nya. Namun dengan catatan, selama jenis pekerjaan tersebut tidak berbenturan dengan ketentuan syariat.
Artinya, apa pun bentuk profesi yang kita tekuni, selama itu diperbolehkan oleh syariat dan hukum agama, maka dapat bernilai ibadah jika kita meniatkannya sebagai amal ibadah. Misalnya, profesi kita berjualan makanan dan minuman yang dihalalkan dalam ajaran syariat, maka hendaknya dalam menekuni profesi tersebut diniatkan untuk beribadah meraih ridha-Nya. Selain menjaga kualitas dan halalnya makanan dan minuman itu, niatkan juga untuk membantu sesama manusia yang sedang membutuhkan makanan dan minuman.
Ketika pekerjaan dan niat ibadah itu disatukan, maka pada saat kita sedang bekerja (hingga rasa lelah menyerang sekujur tubuh) maka atas izin-Nya insyaallah kita mendapat dua hal sekaligus, yakni: uang hasil dan pekerjaan yang telah kita jalankan, dan pahala karena niat ibadah tersebut. Bahkan, rasa lelah akibat pekerjaan yang dilakukannya pun dapat bernilai pahala di sisi-Nya.
Tentunya dengan catatan, selama bekerja kita selalu patuh tunduk tidak meninggalkan perintah-Nya dan berusaha semaksimal mungkin menjauhi setiap hal yang dilarang oleh-Nya. Misalnya, di sela-sela bekerja ketika datang waktu shalat lima waktu, kita tetap istiqomah untuk tetap menunaikan ibadah yang didalamnya akan mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan dunia - akhirat.

Meraih Keberkahan

Tidak kalah penting dari adanya niat bekerja yang benar, agar uang atau harta yang kita peroleh (dari hasil bekerja) dan akan kita belanjakan tersebut dapat meraih keberkahan. Sesuai dengan ungkapan berusahalah menggunakannya (tentu saja dengan tak lupa meniatkannya sebagai amal ibadah kepada-Nya) untuk hal-hal bermanfaat dan bernilai ibadah. Misalnya, untuk menafkahi anak dan istri, membiayai pendidikan anak, membantu pembangunan tempat-tempat ibadah, bersedekah kepada fakir miskin, menolong tetangga atau saudara yang sedang membutuhkan uang, dan lain sebagainya.
Apa yang dimaksud dengan harta yang berkah? berdasar pemahaman agama, harta yang berkah dapat diartikan sebagai harta yang akan selalu bertambah nilai kebaikannya jika digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Misalnya, untuk bersedekah kepada fakir miskin, dan menolong saudara yang sedang membutuhkan uluran pertolongan dari kita.
Bila kita merujuk pada bahasa Arab, berkah disebut barakah, yakni kebaikan yang melimpah (al-khair al-wafir). Muslim yang mengucapkan salam berarti mendoakan hidup penuh kedamaian, kasih sayang, dan keberkahan. Hidup penuh berkah menjadi limpahan kebaikan dan selalu mendapat petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala.

Mendatangkan Kebahagiaan
Harta yang diraih dengan cara halal dan digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, selain mendatangkan keberkahan juga menghadirkan rasa bahagia di dalam jiwa. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ya, karena setiap hal baik pada hakikatnya akan menimbulkan rasa tenteram dan bahagia di dalam hati kita. Logikanya seperti ini, ketika kita menolong orang lain yang sedang tertimpa kesusahan finansial misalnya. Biasanya kita akan langsung memosisikan diri kita sebagai orang yang sedang kesusahan tersebut. Betapa susah dan sedihnya bila kita yang pada saat itu sedang berada dalam kesulitan. Nah, pada saat itulah jiwa kita akan merasa terpanggil untuk membantunya.
Orang yang kita bantu, biasanya raut wajahnya akan mengekspresikan rasa syukur tak terhingga seraya mengucap kata terima kasih kepada kita beulang kali. Dan itu akan menular kepada jiwa kita. Kita pun ikut tersenyum bahagia karena dapat membantunya. Dari sinilah benih-benih kebahagiaan dalam jiwa kita muncul dan menjadikan kita kelak lebih peduli saat melihat orang-orang yang sedang tertimpa kesusahan. Semakin sering membantu orang lain, semakin bahagialah jiwa kita.
Kesimpulannya, ketika kita terbiasa menggunakan harta (yang kita peroleh dari hasil kerja keras kita dan insyaallah halal) untuk hal-hal kebaikan dan bernilai ibadah, maka jiwa kita akan semakin merasakan kebahagiaan.
Bila sementara ini kita mungkin lalai, jelang ramadan yang tinggal menyisakan beberapa hari ini mari mulai. Di saat kita sedang beraktivitas dan bekerja, iringi semua kegiatan dengan niat untuk beribadah dan menggapai keridhaan dari-Nya.
Teriring doa ... "Ya illahi hilangkan rasa bangga yang ada di diriku gantilah dengan rasa syukur yang tiada pernah habis akan segala pemberian-Mu, jadikan apa yang aku lihat, aku dengar, dan aku rasakan merupakan petunjuk kebenaran yang Engkau berikan padaku".  Aamiin (*)

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang Goto Top