Ketua RT dan Ketua MK

Oleh : Sulardi
Dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang


Pada sesi diskusi di ruang WhatsApp, ketika menyoal sisi negarawan ketua MK yang mendapat sorotan berbagai pihak dan kelompok,   terjadi dialog dalam sekali. Salah satu kolega saya mengirim komentar seperti ini “ Etika dan moral relative. Akhlaq bisa dengan mudah direlatifkan , kejernihan qolbu dan terbebasnya institusi dari pamrih keduniawan menjadi penuntun kejujuran nurani dalam menyikapi kasus “ Negarawan MK itu.”  Dan saya mengomentarinya secara pendek, “dicari negarawan sejati”. Komentar saya ditanggapi lagi, bahwa negarawan sejati itu tidak ada. Sepanjang masih mendaftarkan diri ( untuk menjadi hakim Konstitusi ) bahkan bercita- cita saja sudah kehilangan negarawan sejatinya.

Literasi Politik Citra Diri

 
Gunawan Muhammad (2008) pernah mengatakan bahwa kehidupan politik telah berubah menjadi lapak dan gerai, kios dan show room. Sebuah masa yang menempatkan hasil jajak pendapat umum jadi ukuran yang lebih penting ketimbang kebenaran. Penampilan yang atraktif lebih efektif daripada gagasan sosial yang menggugah. Inilah era politik yang menuntut semua kontestan mengelola citra, menampilkan kesan baik di mata masyarakat.
Dunia politik layaknya panggung hiburan. Keduanya menuntut konvergensi. Keduanya sama-sama perlu popularitas, prestise, dan cara-cara strategis guna menjaga citra diri. Pada situasi seperti ini, sering perilaku politik kehilangan substansinya. Para kandidat yang sedang berlaga dalam kontestasi Pilkada, Pileg, atau Pilpres sering terjebak dalam laku politik citra diri. Bukan esensi dan substansi yang dijunjung, namun hanya sebatas pencitraan.

Berita Lainnya :