magista scarpe da calcio Opini


Mencegah Anak Perempuan Indonesia jadi Teroris

Membaca soal anak, Pujangga besar Khalil Gibran, dalam sebuah puisinya yang sangat populer menyebutkan” Mereka adalah putra putri kehidupan. Dari kita mereka ada, tetapi mereka bukanlah milik kita. Mereka memang tidak kita miliki, tetapi bagaimana jika mereka gagal “memiliki” dirinya sendiri? Masihkah orang tua, keluarga, masyarakat, sekolahm atau negara layak dipersalahkan jika mereka gagal “memiliki” dirinya sendiri?
Ketika kita dihadapkan dengan “bacaan” kasus terorisme di Surabaya yang menggemparkan Indonesia dan dunia,  maka salah satu aspek yang mengisi atau mengusik benak kita adalah mengapa ada sosok manusia setega ini sampai melakukan pengeboman, yang diantaranya dilakukan dengan meledakkan dirinya?
Faktanya  memang ada sosok manusia yang tega melakukan kekejian yang luar biasa, yang sosok ini ternyata salah satunya perempuan. Dari beberapa sumber, sosok  perempuan dalam kondisi sambil membawa atau menggendong anaknya melakukan tindakan “sangat berani” dengan cara ikut meledakkan dirinya sendiri.

STOP Sebar Konten Aksi Teroris



Peledakan bom terjadi secara beruntun di Surabaya pada Minggu (13/5/2018). Video dan foto terkait bom di tiga rumah ibadah umat Kristiani itu menyebar dengan cepat. Lewat beragam platform media sosial (medsos), konten berisi mayat korban meninggal beredar viral di medsos. Video pengeboman di beberapa tempat di Surabaya itu juga bermunculan di laman Youtube. Dengan cepat beberapa video yang tayang di Youtube dibanjiri penonton (viewers). Di media pertemanan WhatsApp (WA) juga viral foto dan video hasil aksi keji para teroris.
Beredarnya beragam konten (foto dan video) di medsos semakin membuat suasana semakin memanas. Tidak hanya itu, informasi bohong (hoax), meme, dan cerita lucu rekaan juga bermunculan tak terbendung. Konten pesan yang muncul justru menimbulkan rasa ketakutan bagi banyak orang. Beragam konten aksi teroris ini terus menggelinding, viral dan semakin membesar. Apalagi tidak sedikit pengguna medsos yang memberi komentar yang tidak karuan atas materi visual dan audio visual yang sedang beredar. 
Tidak sedikit pengguna medsos dengan senang membagi-bagikan beragam konten yang masuk ke smartphone-nya ke pertemanan mereka. Para pengguna medsos penyebar konten para korban bom seperti tidak merasakan betapa pedihnya hati para keluarga korban. Secara tidak langsung, para penyebar konten aksi teroris ini semakin menguntungkan kelompok teroris. Para teroris semakin merasa aksinya telah berhasil menyita perhatian massa karena beredar viral di medsos.
 
Lawan Propaganda Teroris.
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) serius menangani penyebaran konten dari aksi para teroris ini. Kemenkominfo tengah menyelidiki penyebar konten foto dan video korban dan akan menjerat pelaku penyebarnya melalui Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU-ITE). Upaya ini ditempuh pemerintah dalam melindungi masyarakat dari rasa ketakutan. Karena salah satu misi dari para teroris adalah membuat masyarakat merasa tidak aman.
Sejak lama kelompok teroris telah menggunakan medsos sebagai sarana propaganda mereka. Universitas Miami Amerika Serikat pernah merilis sebuah penelitian tentang masifnya kelompok radikal seperti Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) bergerilya dan menebar propaganda di medsos. Melalui Facebook, Twitter, dan WA, virus radikalisme menyebar di seluruh penjuru dunia. Propaganda teroris lebih efektif melalui medsos ketimbang cara konvensional seperti ceramah di masjid dan pondok pesantren.
Dalam penelitian Universitas Miami ini menunjukkan ada 106.000 aktivis pro ISIS yang menggunakan medsos untuk propaganda. Ada 166 grup di medsos yang digunakan untuk membangun jaringan. Dalam satu hari, setidaknya ada 90.000 pesan pro ISIS yang bertebaran dan viral di medsos. Dalam 24 jam, rata-rata ada 270 kicauan di Twitter yang menggambarkan pro ISIS. Sepanjang 2015, setidaknya ada 3.400 anak muda dari negara barat berhasil direkrut ISIS melalui medsos. Dari jumlah itu seperenamnya adalah perempuan.
Untuk itu bagi para pengguna medsos tahan air hendaknya menyadari bahwa semakin banyak orang yang memviralkan beragam konten tentang sepak terjang teroris maka sebagian tujuan teroris itu telah berhasil. Untuk itu tidak ada pilihan bijak bagi para pengguna medsos kecuali dengan melawan propaganda kelompok teroris lewat medsos. Ini memang tidak mudah, namun dengan kemampuan literasi media digital masyarakat upaya ini bakal berbuah baik.
 
Wujudkan Medsos yang Teduh
Inilah medsos. Media yang begitu terbuka. Siapa saja bisa mengunggah dan mengunduh konten apa saja. Konten yang positif, pun juga konten yang dapat mengundang rasa resah. Melalui medsos juga ternyata banyak orang yang menjadikannya sebagai sumber informasi utama. Disinilah letak masalahnya. Tidak sedikit orang mempercayai beragam konten yang muncul di medsos seratus persen sebagai sebuah kebenaran. Padahal, lewat medsos, informasi sering muncul tidak bersumber fakta. Tidak jarang konten medsos merupakan hasil dari sebuah rekayasa.
Komunikasi lewat medsos kini semakin jauh dari etika. Munculnya beragam berita bohong, ujaran kebencian, dan adu domba beredar luas di medsos. Lewat medsos pula kelompok-kelompok yang melanggar hukum menjalankan aksi jahatnya. Propaganda kelompok teroris begitu gencar lewat medsos. Narasi yang diproduksi kelompok teroris lewat media yang tingkat penetrasinya sangat tinggi ini semakin hari semakin menggunung jumlahnya. Konten yang dapat berimbas pada keresahan masyarakat harus segera diakhiri.
Pada prinsipnya tidak ada yang salah dengan medsos. Medsos hanyalah sebuah media atau sarana. Persoalan utamanya terletak pada orang dibalik pemilik medsos tersebut (people behind the media). Terbukti lewat medsos juga banyak diproduksi pesan-pesan yang menyejukkan. Konten pesan yang membangun ketenangan, perasaan aman, dan menimbulkan persatuan sejatinya bisa dimainkan lewat medsos. Mari wujudkan medsos yang mampu membangun sikap optimisme, solidaritas, mempererat persaudaraan, dan kedamaian.
Para pemilik akun medsos hendaknya mengedepankan sifat bijak ketika bermedsos. Para pengguna Facebook (facebooker), pemilik akun Twitter, Instagram, WA, dan beragam platform medsos lain harus menyadari terhadap efek pesan yang berpotensi negatif. Pengguna medsos harus kritis dan berdaya. Kemampuan melek media digital harus ditumbuhkan. Tidak semua konten yang muncul di medsos bisa diamini begitu saja.
Ketika ada konten yang ternyata tergolong berpotensi dapat memicu keresahan, dan ketakutan misalnya, maka harus dihentikan terakhir di smartphone kita. Stop memviralkannya. Munculnya konten yang dapat memanaskan suasana harus dilawan dengan narasi-narasi tandingan yang menyejukkan. Kemampuan memroduksi pesan-pesan tandingan ini yang tidak banyak dilakukan para pengguna medsos. Kotra narasi dengan mencipta pesan-pesan yang mendamaikan dapat dilakukan guna mewujudkan medsos yang teduh di saat teror bom sedang menyala seperti saat ini.
Stop bikin suasana makin panas. Mari tebarkan keteduhan lewat medsos. Mari lawan teroris lewat medsos. Munculnya beragam tagar #BersatuLawanTeroris, #SuroboyoWani, #SaveNKRI, #PrayForSurabaya, #KamiMuak, #KamiTidakTakut, #StayStrongSurabaya, dan beberapa hastag positif lain menunjukkan bahwa lewat medsos bisa digunakan sebagai media perlawanan. Ingat, tak semua teroris aksi di lapangan, mereka juga ada di medsos. Lawan! (*)

Oleh: SUGENG WINARNO, Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang Goto Top