Cyber Bullying, Membunuh dengan Teknologi

 
Di era modern ini, teknologi berkembang dengan sangat pesat. Teknologi yang semakin canggih dinilai lebih praktis dan efisien penggunaannya. Tidak heran jika banyak orang yang kini bertumpu pada dunia modern tersebut, terlebih para muda dan mudi yang selalu ingin tahu dan mencoba hal baru. Tidak hanya para muda-mudi, bahkan anak-anak dan orang dewasa tidak bisa lepas peran dalam perkembangan teknologi pada saat ini. 
Seperti layaknya hitam dan putih, semua mempunyai sisi positif dan sisi negatif, begitu juga dengan perkembangan teknologi saat ini. Banyak yang terbantu dengan semakin praktisnya dunia modern yang mereka rasakan, tetapi juga tidak sedikit yang dirugikan. Sosial media, sebuah media online untuk bertemu orang baru dan berpendapat dengan bebas, merupakan salah satu dari perkembangan teknologi pada era modern ini. Pengguna sosial media terus meningkat dari tahun ke tahun. Mereka telah merasakan betapa praktisnya berada di dunia itu dan akan sulit untuk melepaskannya. Rasanya, seluruh kebutuhan kita dapat terpenuhi dengan adanya sosial media. Selain dapat mencari sesuatu yang kita butuhkan, sosial media juga dapat menjadi media penampung pendapat bebas dari semua orang. Mereka dengan berani menyerukan ide-idenya setiap saat, bahkan untuk ide-ide dan pikiran negatif mereka. 

Peran Studi Perdamaian dalam Konflik Agama


 
Belakangan ini, konflik agama marak terjadi di Indonesia. Berbagai isu-isu mengenai perbedaan agama kerap masih menjadi sorotan masyarakat. Tidak hanya dalam hal bermasyarakat, konflik agama ini telah merambat kedalam berbagai bidang lainnya seperti politik dan pemerintahan. Opini ini ditulis untuk melihat peran studi perdamaian dalam konflik agama melalui kacamata akademis, bukan untuk memojokkan seseorang atau kelompok.
Sebelum melakukan pembahasan lebih dalam mengenai konflik agama, ada baiknya untuk memahami terlebih dahulu pengertian konflik dan perdamaian. Merujuk pada buku The Social Theory of Max Weber in Conflict of Interpretationskarya Zenonas Norkus, disana disampaikan pandangan Max Weber mengenai konflik yang merupakan suatu hubungan sosial yang dimaknai sebagai keinginan untuk memaksakan kehendaknya pada pihak lain (Norkus, 1999). Menurut Lacey, dalam bukunya yang berjudul How to Resolve Conflict in the Workplace, konflik merupakan sebuah pertarungan benturan, pergulatan, pertentangan kepentingan-kepentngan, opini-opini atau tujuan-tujuan, pergulatan mental, penderitaan batin yang akan selalu diperjuangkan oleh setiap manusia karena hal ini melekat erat dalam dinamika kehidupan (Lacey, 2000). 

Berita Lainnya :