Lebaran dan Mentalitas Pengemis

Oleh Nurudin, Dosen dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Idul Fitri punya makna yang baik karena bisa menyambung silaturahmi antar sanak keluarga dan handai taulan. Namun demikian, Idul Fitri tanpa sadar mengajarkan pada anak-anak bermental pengemis. Bukan menjadi mengemis langsung seperti kebanyakan mereka yang meminta-minta di jalan-jalan, tetapi mental pengemis.
Saat pulang kampung, seorang teman pernah dengan bangganya mengatakan pada anak-anaknya, “Ayo saatnya kerja anak-anak”. Anak-anaknya pun sudah paham. Mereka harus berbaris antri untuk bersalaman dengan tuan rumah yang dikunjungi. Tentu saja, saat salaman mereka berharap mendapatkan uang baru, “angpao” atau sebutan lain.

Mahalnya Ongkos Mudik


Hari raya Idul Fitri adalah hari raya umat islam yang menandai telah berakhirnya bulan Ramadhan setelah 30 hari menjalani ibadah puasa.  Banyak orang islam yang berbondong-bondong berbelanja untuk memenuhi kebutuhannya, seperti dengan berbelanja pakaian, makanan, perhiasan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, setiap pasar tradisional maupun pasar modern mesti dipadati oleh pengunjung yang mau berbelanja untuk mempercantik tampilannya pada saat lebaran nanti, banyak orang yang bilang lebaran datang semuanya harus baru.

Berita Lainnya :