Belajar dari Keteladanan Ebes Sugiyono dan Slamet Indra

 
MEREKA bagian dari peletak Malang Post 19 tahun lalu. Kala itu Brigjen (Purn) Sugiyono dan Slamet Indra Santoso SH beri semangat agar Malang Post segera terbit sebagai koran pertama di Malang. Selain itu ada pula Dr H Imam Kabul, mantan Wali Kota Batu. Kini kami mengenang mereka sebagai pahlawan Malang Post. 
Di makam Brigjen (Purn) Sugiyono dan Slamet Indra Santoso SH di TMP Untung Suropati, pimpinan dan perwakilan karyawan Malang Post memanjatkan doa, Rabu (2/8). Begitu juga di makam Imam Kabul di TPU Samaan. 
Kendati raga sudah tak ada, tapi semangat mereka masih terus berkorbar di kalangan pimpinan dan karyawan Malang Post. Sebab mereka meninggalkan jejak perjuangan mendirikan sekaligus berusaha membesarkan Korane Arek Malang ini. 
Ebes Sugiyono contohnya, punya nama besar tapi kemana-mana membawa koran Malang Post yang usianya masih belia. Mantan Wali Kota Malang yang juga mantan Wakil Gubernur Irian Jaya (sekarang Papua) memang getol kenalkan  Malang Post di berbagai kalangan.  
Padahal saat itu, Ebes Sugiyono merupakan salah seorang pendiri Malang Post. Ia memang memberi teladan. “Beliau merupakan figur yang kita hormati,” kata Dirut Malang Post, H Juniarno D Purwanto. 
Ebes Sugiyono terlibat sebagai pendiri karena punya hubungan baik dengan Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos dimana Malang Post merupakan anak perusahaan Jawa Pos. Dua tokoh tersebut pernah bekerjasama bangun Suara Indonesia (SI). Selain itu, Ebes Sugiyono yang dekat dengan kalangan pers memang ingin ada koran yang terbit dari Malang.  
Selain Ebes Sugiyono, perjuangan Slamet Indra Santoso SH ikut mendirikan Malang Post masih segar diingatan. Tokoh senior di Jawa Pos ini mengawal proses pendirian hingga berjalannya Malang Post menjadi bacaan inspirasi dan pemberi informasi akurat di Malang Raya. Mantan pemimpin perusahaan di Jawa Pos itu sebagai komisaris  utama Malang Post hingga meninggal dunia di usia 91 tahun pada 2013 lalu. 
Mantan Kepala Departemen Penerangan (Depen) Kota Malang (saat itu masih kodya) itu memberi perhatian serius agar Malang Post terus berkembang menjadi perusahaan besar. Hingga di usia senja, mantan pejuang RI itu pun kerap datang ke kantor Malang Post untuk memberi dukungan moral. 
Begitu juga dengan Dr H Imam Kabul. Jauh hari sebelum menjabat Wali Kota Batu yang pertama, ia sudah bersahabat dengan para wartawan senior  Malang Post. Imam Kabul merupakan sosok ‘orang luar’ yang hadir saat Malang Post diikrakan untuk terbit. “Waktu itu, Pak Imam Kabul ikut memimpin doa saat Malang Post berdiri,” kenang Pak Pur, sapaan akrab H Juniarno D Purwanto. 
Ia mengatakan, manajemen dan karyawan Malang Post selalu mengenang jasa mereka. “Mereka merupakan pahlawan Malang Post. Kita selalu hormat kepada mereka karena semangat dan gigih agar Malang Post terbit melayani pembaca dan menjadi perusahaan yang besar,” katanya. 
Karena keteladanan dan semangat mereka, kini di usia 19 tahun, karyawan Malang Post terus berkarya. Sehingga menjadi koran terdepan di Malang Raya dengan karya jurnalistik yang memberi insipirasi. (van/bersambung) 
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :