Hati-hati, Punya Mental Degradasi!

 
Dalam dunia sepakbola, kita mengenal istilah tim bermental juara, atau pemain yang memiliki mental juara. Biasnya, pemain atau timnya ini langganan raih gelar juara, atau setidaknya pernah merasakan titel juara. Atau dalam lingkup lebih kecil, punya mental juara adalah pemain atau tim yang tidak mudah untuk dikalahkan dalam sebuah pertandingan.
Artinya, dalam kondisi sesulit apa pun, tim ini biasanya mampu keluar sebagai pemenang. Bahkan saat tertinggal gol lebih dulu, tim dengan mental juara mampu membalik keadaan. Tim ini tentunya dihuni oleh sederet pemain yang memiliki mental baja, tahan banting dan tak mau kalah. Mereka memiliki kemauan sangat kuat untuk bisa menang dan menang.
Nah, jika ada tim atau pemain dengan mental juara, saya berpikir sebaliknya. Yaitu tim dengan mental degradasi. Tentu diperkuat dengan barisan pemain dengan mental degradasi, alias bermental pecundang. Kabalikan dari mental juara, maka mental pecundang tak bisa memanfaatkan peluang besar yang harusnya menjadi sebuah kemenangan.
Misal saat menghadapi lawan yang tampil dalam kondisi tak full team, lalu dapat keuntungan bermain di kandang, mendapat dukungan penuh dari suporternya dan kondisi keuangan tidak ada masalah, tapi tetap saja tak bisa mempersembahkan kemenangan. Kondisi seperti ini, disadari atau tidak, rasanya sudah berakitan dengan mental.
Meski belum bisa dikatakan benar 100 persen, tim Arema perlu berhati-hati, lantaran mental degradasi itu bisa terbentuk, tanpa disadari. Maklum saja, sudah 8 laga dilakoni, baru mengemas satu kali kemenangan, tiga kali imbang dan empat kali kalah. Tim berjuluk Singo Edan ini, bisa jadi akan lupa caranya menang, yang terpikir hanya imbang atau kalah.
Artinya, terbentuk pola bahwa dalam sebuah pertandingan, berusaha menghindari kekalahan, atau coba mengejar hasil imbang, daripada kalah. Dan itu tidak hanya saat berlaga di luar kandang atau saat away, tapi juga dalam berlaga di kandang. Ya, itu karena tim ini sudah ‘terbiasa’ dengan hasil tersebut, dan seolah sudah terpatri berada di zona degradasi.
Tentu tidak ada satu tim pun yang mau berada di zona degradasi, tapi kondisi yang menciptakan. Tidak hanya dari internal tim ini sendiri, tapi faktor eksternal akhirnya juga mendukung. Artinya, semua tim lawan Arema, akan memposisikan tim kebanggaan Aremania ini adalah tim lemah yang mudah atau bisa dikalahkan, bahkan saat berlaga di Stadion Kanjuruhan.
Nama besar Arema bakal tenggelam. Tak lagi disegani. Sudah terhitung sebagai tim kalahan. Bukan lagi tim dengan mental juara. Singo Edan bukan yang dulu lagi. Ya, bisa jadi, tim Arema tidak hanya akan dikalahkan oleh tim-tim besar saja, tim yang baru promosi pun bisa melumpuhkan tim ini. Arema bakal dijadikan ladang untuk memetik poin, baik saat home maupun away.
Jika ini terjadi, maka mau berbuat apa saja, atau mau menyiapkan taktik dan strategi apa pun, sudah tak ada hasilnya. Mental tim ini sudah hancur. Kemenangan di depan mata pun bisa melayang.  Harusnya bisa imbang, pun akhirnya harus menelan kekalahan. Tertanam di benak pemain, atau bahkan pada tim pelatih, tim ini sudah terbiasa kalah.
Ya, sulit menang dan terbiasa kalah. Itu ciri utama, tim dengan mental degradasi. Dan menurut saya, Arema menuju ke arah itu. Khususnya jika tak segera ada perombakan total. Lihat saja, saat harusnya raih kemenangan lawan PSM Makassar di Stadion Kanjuruhan, tim asuhan Joko Susilo ini hanya bisa bermain imbang 1-1, Minggu (13/5) sore.
Bahkan sebagai tuan rumah, Arema justru tertinggal lebih dulu. Beruntung ada gol balasan di babak kedua. Hasil ini memang tetap harus disyukuri, setidaknya tak sampai menelan kekalahan. Tapi bukan hasil imbang itu yang dibutuhkan. Arema butuh menang. Bahkan kalaupun menang, Arema sebenarnya masih belum bisa lepas dari zona degradasi.
Nah ini justru hanya dapat satu poin. Dan kini mengemas enam poin, Arema tetap berada di dasar klasemen, alias posisi juru kunci. Kondisi ini tentu tak bisa dianggap remeh, kecuali tim ini memang ingin berlaga di Liga 2 musim depan. Lantaran dengan kondisi terpuruk seperti ini tidak akan mudah untuk bangkit. Apalagi tim lain yaitu pesaing di papan bawah juga ingin bangkit.
Semoga saja, manajemen segera bergerak cepat untuk memutus tren negatif tim Arema. Menyusul laga berikutnya, tak kalah berat dari laga kemarin. Dendi Santoso dkk harus melakoni laga away menghadapi tuan rumah Bali United, tim runner up Liga 1 2017 lalu. Saya yakin, Arema pasti ingin menang. Tapi apa boleh buat, kalau datang dengan mental degradasi. Hati-hati.....(*) 

Berita Lainnya :