Hijrahnya Shabiqunal Awwalun

Catatan Husnun N Djuraid 

Pemimpin Redaksi Pertama Malang Post 
 
RASANYA tidak adil terlalu membanggakan dan mengunggulkan masa lalu. Kalau ada yang diunggulkan berarti ada yang direndahkan. Memang, prestasi yang dicapai masa kini tidak bisa dilepaskan dari fondasi masa lalu, tapi masing-masing zaman punya tantangan sendiri. Ketika Malang Post berusia 19 tahun, saya tidak bisa mengatakan bahwa perjuangan Shabiqunal Awwalun – meminjam istilah golongan pertama yang ikut ajaran Nabi SAW  – lebih hebat dibanding generasi setelahnya. Masing-masing generasi memiliki masa dan tantangan tersendiri.
Saat akan menerbitkan koran ini, kami para generasi pertama ini, berpikir bagaimana koran ini bisa terbit. Ya, bisa terbit. Belum terpikir bagaimana konten dan kualitasnya, yang penting terbit. Kami tak pernah berfikir bagaimana kertasnya harus bagus, mutu cetak harus bagus, beritanya harus punya news value, grafis harus indah dan halaman harus cantik, sedap dipandang mata. Ketika koran ini kali pertama terbit, apa komentar Pak Dahlan Iskan, bos Jawa Pos. ‘’Kok kayak koran zaman Orde Baru.’’
Ucapan ini adalah cibiran terhadap hasil kerja tim redaksi yang belum maksimal, atau kalau tidak ingin dikatakan jelek. Hasil cetakan pertama, terus terang, masih sangat jelek, karena memenuhi keinginan untuk segera terbit pada tanggal 1 Agustus 1998. Cap jelek itu membuat kami tidak tenang. Redaksi pun rapat mengevaluasi hasil kerjanya. Rapat pun digelar mulai pagi. Berapa waktu yang dibutuhkan untuk rapat itu? Saya lupa, yang jelas rapat itu belum selesai sampai sore. Itu menunjukkan betapa banyaknya kesalahan yang terjadi pada edisi perdana tersebut. Salah ketik, salah judul, dan salah-salah yang lain. Apakah setelah evaluasi itu terjadi perubahan yang lebih baik? Tentu tidak. Masih banyak kesalahan terjadi dari sisi produksi. Betapa kompleksnya masalah redaksi kala itu, padahal masalah lain seperti pemasaran dan iklan juga tak kalah peliknya. 
Tekad untuk bisa menerbitkan koran sendiri yang mampu mengesampingkan berbagai hambatan tersebut. Dengan segela keterbatasan, terus bekerja sampai akhirnya koran ini bisa diterima masyarakat Malang Raya. Berita-berita Malang Post jadi  buah bibir masyarakat, karena lebih awal dan berani. Belum banyak pesaing sehingga Malang Post selalu leading dalam berita yang menarik perhatian masyarakat.
Sebenarnya waktu itu sempat muncul kebingungan, sebenarnya Malang Post ini anak siapa? Induk kami waktu itu seperti tidak begitu senang dengan kehadiran koran ini. Kami harus tahu diri dan harus hijrah ke tempat lain agar bisa berkembang lebih baik. Ternyata benar, hijrah membawa hikmah yang luar biasa. Itulah titik tolak tumbuhnya Malang Post. Seperti dalam peristiwa hijrah yang sesungguhnya, Nabi Muhammad SAW menjadikan Islam sebagai agama yang besar setelah hijrah dari Makkah ke Madinah.
Hijrah ke tempat baru itulah yang membuat kami bekerja lebih tenang, tidak disemoni dan tidak dipleroki lagi. Itulah yang terjadi, Malang Post terus berkembang dan berkembang sampai sekarang. Siapa yang menduga, dari emperan beratap seng yang bocor saat hujan, bisa lahir sebuah koran yang sangat berpengaruh di Malang Raya. Siapa sangka dari peralatan pinjaman bisa hadir karya jurnalistik yang hebat.
Itu sekadar cuplikan masa lalu tentang betapa beratnya menerbitkan koran ini. Tapi, itu bukan alasan untuk menyebut bahwa perjuangan masa lalu lebih berat. Bahwa orang-orang terdahulu lebih hebat. Ketika koran ini sudah berkembang seperti sekarang, jangan sangka para pengelolanya tinggal ongkang-ongkang kaki menikmati hasil. Tantangan yang dihadapi sangat berat. Meraih keberhasilan itu berat, tapi memertahankan lebih berat.
Generasi penerus tidak lagi dihadapkan kesulitan kantor yang bocor, komputer harus bergantian atau meminjam komputer kursus BTC milik Pak Taufan di Jalan Pajajaran. Tidak lagi disibukkan memotong film sebelum dicuci dan dicetak. Tantangan masa lalu itu sudah lewat, justru yang muncul tantangan kekinian yang butuh perjuangan ekstrakeras untuk menaklukkannya. Sudah banyak disampaikan, tantangan media mainstream saat ini adalah media berbasis internet yang berkembang sangat pesat. Media baru ini tidak perlu korporasi tapi lebih bersifat personal. Siapa saja bisa punya koran, radio dan TV, tanpa harus mengeluarkan modal besar.
Tantangan generasi koran masa kini bukan hanya persaingan koran di kios atau pengasong, tapi ‘’koran’’ yang ada di genggaman para pemilik gadget. Semakin banyak yang bisa menikmati berita tanpa harus membaca koran, mendengar radio atau melihat TV. Internet yang mudah dan murah mempercepat perubahan perilaku bermedia tersebut. Apakah media lama itu akan tergilas oleh gelombang media baru yang dahsyat. Mungkin ada yang pesimis, karena sudah ada contoh media cetak yang gulung tikar.
Kalau media lama ingin bertahan, harus mengikuti perubahan. Media yang gulung tikar itu umumnya gagal mengikuti perkembangan dan masih setia pada pakem masa lalu. Perubahan adalah keniscayaan yang tidak bisa ditolak. Seperti karakter media itu sendiri, yang harus berbeda setiap kali edisi. 
Satu hal lagi yang perlu diperhatikan, mengapa media mainstream masih bertahan, karena ada trust. Tingkat trus masyarakat kepada media sempat mengalami degradasi ketika para bos media mulai tergiur berpolitik. Wartawan pun mulai enggan mengejar berita untuk menemukan suatu kebenaran. Ironis kalau media mainstream membuat flash news seperti yang dibuat media berbasis internet. Berita sekejap itu hanya menampilkan kulit tanpa isi.
Masyarakat masih percaya bahwa media lama bisa dipercaya. Sementara media berbasis internet kerap tidak akurat bahkan salah.Persaingan memang berat, tapi jalan keluar akan selalu muncul bila tantangan itu dihadapi dengan kerja keras. Tantangan lain adalah menjaga kepercayaan masyarakat, jangan sampai direbut oleh pendatang baru karena kelengahan. Perjuangan ini sungguh berat, lebih berat dari melahirkan koran. Tapi tidak ada yang sulit bagi pekerja keras yang bekerja dengan ilmu. Di tangan orang berilmu, masalah akan terasa mudah bahkan memberi manfaat bagi banyak orang.  Sebaliknya, di tangan orang tak berilmu,  sesuatu yang mudah bisa menjadi masalah yang besar dan merepotkan banyak orang. Selamat ulang tahun Malang Post. (*)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :