Kami Tidak Musyrik

Catatan: Dewi Yuhana 
 
Tahu kah Anda, apa perbedaan besar ketika koran dan perempuan berulang tahun?.  Perbedaannya ada dalam memaknai angka atau tahun. 
Usia 19 tahun bagi koran masih mendapatkan tambahan kata “baru”, karena akan ada puluhan atau bahkan ratusan tahun yang siap menanti di masa depan. Saat pendiri koran sudah meninggal, bisa jadi korannya tetap eksis bahkan terus berkembang menjadi besar. Maka, di usia ke 19 tahun Malang Post hari ini, kami pun mengatakan bahwa Malang Post masih sangat muda, wong baru 19 tahun. Masih kinyis-kinyis, segar dan energik. 
Sementara bagi perempuan, semua umur di atas 17 tahun mendapat tambahan “sudah”.  Misalnya saja, sudah 19 tahun waktunya kuliah dengan semangat, atau,  sudah 23 tahun waktunya bekerja, sudah 25 tahun seharusnya menikah, dan seterusnya. Maka, jamak difahami masyarakat, usia bagi perempuan merupakan topik perbincangan tabu. Siapapun boleh tahu tanggal dan bulan lahir, tapi tidak dengan tahunnya, hahaha.  Karena saya perempuan, maka saya pun bagian dari mereka yang enggan usia saya diketahui orang lain. Tapi senang banget kalau ada yang mengira saya berusia lebih muda dari umur sebenarnya. Itu mengapa sejak beberapa tahun terakhir saya menon-aktifkan dan mem-privat tanggal lahir di Facebook. Media sosial ini selalu woro-woro kepada seluruh teman bertepatan dengan tanggal lahir kita. Niatnya bagus, mengingatkan mereka untuk memberi ucapan dan mendoakan yang berultah. Dulu sih senang dapat ucapan selamat ultah. Sekarang? Angka makin mengingatkan bahwa usia terus berkurang. 
Nah, usia 19 tahun Malang Post ini bisa bermakna ganda. Bagi saya dan teman-teman Malang Post lain, 19 tahun adalah usia yang sangat muda, sebab kami bermimpi korane Arek Malang ini akan berumur sangat panjang, sampai anak cucu, cicit, buyut kami. Namun di dunia media massa di Malang Raya, angka itu merupakan angka tua dibandingkan media lain yang lahir  di Malang. Malang Post menjadi sesepuh di antara puluhan media yang ada. Apalagi media-media online yang baru bermunculan dalam lima hingga tiga tahun terakhir. 
Jadi ternyata, makna angka tidak melulu absolut, tergantung persepsi dan bagaimana sudut pandang seseorang dalam melihatnya. 
Pekan lalu, kami kedatangan tamu dari manajemen Holcim. Dalam obrolan santai, mereka mengatakan persaingan dalam bisnis produk semen saat ini semakin ketat, dalam lima tahun terakhir bermunculan banyak pabrik semen. Ada sekitar 23 perusahaan semen, baik yang memproduksi sendiri atau melakukan packing semen hasil impor untuk dijual ke masyarakat. Kue tetap, namun yang makan semakin banyak. Jatahnya pun berkurang. Maka inovasi yang dibutuhkan. 
Produsen asal Swiss ini masih berada di tiga besar perusahaan semen di Indonesia, namun mereka merasakan persaingan semakin ketat dan harus terus melakukan inovasi produk dan layanan kepada konsumen. Dulu, perusahaan semen ya hanya menjual produk saja. Namun lihat sekarang, mereka juga meluncurkan aneka layanan lain. Ada layanan konsultasi untuk membangun rumah, yang menyediakan arsitek dan gambar rumah secara gratis. Syaratnya satu, semen yang dipakai ya dari perusahaan tersebut. 
Begitu juga yang terjadi di media massa. Banyak yang mengatakan saat ini adalah senjakalanya koran. Bisnis ini semakin berat, tidak hanya karena persaingan antar perusahaan sejenis yang semakin banyak. Namun juga karena perubahan gaya hidup dan rendahnya minat baca masyarakat. Benar kah demikian?.   Ada banyak ulasan dan tulisan mengenai hal itu. Silakan cari dan googling, lalu putuskan sendiri bagaimana kesimpulannya. 
Bagi kami yang berada di media cetak, semua diagnosa yang disampaikan itu tidak boleh diabaikan.  Harus dijadikan patokan untuk mendapatkan resep yang pas, supaya menemukan obat dan penanganan tepat sehingga koran tetap bugar, sehat dan hidup dalam jangka waktu lama. Caranya, melalui banyak inovasi dan tetap mempertahankan kekayaan berita di koran. Yaitu, kepercayaan dan akurasi. 
Maka, saya benar-benar meminta kepada Anda wahai pembaca dan juga mitra, carilah wartawan Malang Post yang banyak bertanya, abaikan wartawan yang hanya diam dan menerima begitu saja pernyataan atau pers release yang Anda buat. Sebab, wartawan tipe ini pasti hanya akan membuat berita apa adanya. Tak ada kreasi dan inovasi. Berita tentang Anda, perusahaan atau instansi Anda hanya akan ditulis flat, datar, kurang menggigit. Memang tak menyalahi kaidah jurnalistik, tapi bukan berita yang wow. Anda dan pembaca dirugikan. 
Dalam pertemuan triwulan Jawa Pos Grup (JPG) minggu lalu di Surabaya, Pak Dahlan Iskan berterima kasih kepada seluruh perusahaan anggota JPG –Malang Post salah satunya, karena tidak “musyrik” dari bisnis koran. Tidak beralih ke online yang jaya sesaat, tapi konsisten dalam bisnis cetak. Memang ada tantangan, tapi seperti penyakit yang punya obat, tantangan pun bisa dikalahkan. Tergantung bagaimana daya juang dan kreativitas kita. Maka, kami di Malang Post pun dengan bangga dan kepala tegak mengatakan dengan tegas “Kami tidak musyrik dan tetap istiqomah dalam bisnis koran”. Saya pun membayangkan tulisan ini dibaca dan dimuat ulang  ketika HUT ke 91 Malang Post. (hana@malang-post.com) 
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :