Kids Zaman Now Bikin Miris

Oleh : Diajeng Susilo
Mahasiswa Farmasi Fakultas Kesehatan UMM


Di era informasi dan derasnya arus budaya asing yang masuk pada negara kita, serta cepatnya perkembangan teknologi informasi yang sangat canggih, tidak jarang menimbulkan banyak masalah. Akhir-akhir ini, media sosial dihebohkan dengan istilah “Kids Zaman Now”. Baik di instagram, facebook, maupun meme. Gara-gara istilah ini, semua anak Indonesia dijuluki dengan “Kids Zaman Now”.
Sangat miris memang melihat anak muda atau netizen yang berkomentar dan menambahkan istilah kids zaman now pada komentar mereka, dan secara sadar atau tidak sadar mereka juga ikut menyuksekan atau meramaikan istilah “Kids Zaman Now”. Bahkan mereka sangat bangga dengan menggunakan istilah tersebut.
    Istilah ini lahir dari generasi milenial yang telah terkontaminasi akibat dari pengaruh gadget, maupun tontanan. Sampai-sampai Kemendikbud pun tak mau ketinggalan mengoreksi istilah tersebut. Sebab, pada tulisan yang viral, penulisannya adalah Jaman, sementara yang benar adalah Zaman.

Anehnya, mengapa yang dibenarkan hanya satu kata? Tentunya hal itu menjadi menimbulkan banyak pertanyaan yang bermunculan. Ada baiknya kita belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Istilah “Kids Zaman Now” merupakan bahasa gaul yang digunakan untuk menjuluki anak muda yang kekinian di perkotaan yang kerjaannya nongkrong di kafe, pake HP canggih yang merek terbaru, main media sosial, dan sampai gaya pacaran yang tidak etis. Seperti anak SD yang sudah pacaran dan bahkan tak jarang yang memamerkan kemesraannya di media sosial. Padahal anak SD yang rata-rata umurnya masih 11 tahunan yang seharusnya mereka masih asyik belajar dan bermain dengan teman-teman sebayanya. Belum lagi meniru budaya atau  gaya-gaya orang Korea mulai dari gaya rambutnya, tariannya, filmnya .
Hal ini penting diperhatikan karena banyak orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan secara tidak langsung, disengaja atau tidak disengaja telah menyebabkan citra anak-anak menjadi menurun dan selain itu juga menyebabkan terjadinya krisis moral.
    Dari kejadian tersebut, lingkungan pun harus ikut berperan. Terutama peran orangtua yang kurang memperhatikan anaknya, karena banyak anak bahkan di bawah umur 5 tahun sudah piawai dalam bermain gadget daripada berinteraksi dengan lingkungannya. Padahal, bermain dengan lingkungan sangat dibutuhkan dalam menunjang tumbuh kembang anak untuk kemudian hari. Seharusnya, orang yang lebih tua bisa mengerti dengan kebudayaan kita yang sangat kental akan ciri khas dari masing-masing daerah. Dan yang lebih tua harus bisa membatasi antara anak muda dengan yang lebih tua agar mengrti sopan santun dan tata krama dalam kehidupan. Selain itu, bisa dengan memperkenalkan kebudayaan atau pendekatan budaya kepada anak-anak muda. Karena lingkunganlah yang berpengaruh besar dalam membangun generasi untuk Indonesia yang lebih maju. Untuk membangun atau menciptakan suatu daerah atau negara yang lebih maju, dibutuhkan generasi-generasi yang cerdas dan berkualitas. Sebelum kita membangun daerah atau negaranya terlebih dahulu, kita harus bisa membangun dari diri kita sendiri. Kita bisa menciptakan atau membentuk diri kita dari mulai belajar giat dan tekun, agar kita mampu bersaing dengan negaara-negara maju lainnya.
    Di Indonesia, sebenarnya banyak anak-anak yang cerdas dan berkualitas dan tidak kalah saing dengan negara maju lainnya. Namun, ada juga anak Indonesia dari daerah terpencil yang tertinggal yang jauh dari jangkauan canggihnya teknologi dari yang namanya gadget. Julukan “Kids Zaman Now” itu tidak pantas untuk mereka anak-anak yang tinggal di daerah terpencil bahkan tertinggal. Tidak ada yang namannya gaddet, komputer, bahkan media penerangan atau listrik pun masih jarang ditemukan. Yang mereka tahu sepulang sekolah mereka hanya membantu kedua orang tuanya mencari dan menumpulkan kayu bakar. Tidak seperti anak-anak yang tinggal pada daerah perkotaan yang semuanya serba canggih dan memiliki fasilitas yang lebih dan juga lebih mementingkan kepentingan  sendiri daripada untuk membantu sesama. Anak-anak yang tinggal dalam daerah terpencil hanya tahu mereka harus bekerja keras dalam menyambung tulisannya di buku sekolah, mereka tidak peduli dengan seberapa beban yang dibawanya untuk sebuah perjuangan.
    Jadi, kita harus cerdas dan kritis dalam menerima berbagai informasi dan sebagai generasi milenial kita tidak boleh menyepelekan fenomena “Kids Zaman Now” yang lagi booming. Kita bisa melakukan dengan cara tenggang rasa, menghargai sesama dan menghormati yang lebih tua, karena mau tidak mau, untuk selang waktu beberapa tahun yang akan datang Indonesia akan dipimpin oleh para generasi muda. Jika semua generasi muda memiliki citra seperti “Kids Zaman Now” maka akan jadi apa Indonesia yang akan datang? Gaul boleh tapi sopan santun harus dijaga. (*)

Berita Terkait

Berita Lainnya :