Lagu Tanah Air Bikin Haru

 
Lagu Tanah Air ciptaan Ibu Sud itu biasanya menjadi favorit anak-anak bangsa yang belajar, bekerja atau merantau ke luar negeri. Makna liriknya  benar-benar dapat dirasakan secara mendalam ketika lagu itu dinyanyikan di luar Indonesia. Ketika rindu menumpuk, jauh dari sanak saudara dan udara yang biasa dihirup sejak lahir.
Maka, saat dua remaja menyanyikan lagu Tanah Air di panggung HUT Kemerdekaan RI ke-72 di halaman belakang kantor KBRI di Singapura di 7 Chatsworth Road, ratusan warga yang hadir pun ikut menyanyikannya.  Ada yang terang-terangan ikut menyanyi dengan suara sumbang, ada juga yang hanya komat kamit mengikuti lirik. Haru. Membuat dada membuncah sesak berisi cinta pada Indonesia.
Performing lagu hanya sebagian kecil dari rangkaian acara ramah tamah yang diselenggarakan KBRI Singapura pasca pelaksanaan upacara pagi harinya. 
Upacara digelar pukul 8.30 tepat (jam 7.30 WIB), telat datang ya tidak akan bisa masuk. Sebab pintu gerbang langsung ditutup di jam tersebut. "Saya datang, dua menit sebelum gerbang ditutup, on time. Sesuai jam di undangan," kata Hikmah, WNI yang dua tahun terakhir tinggal di Tiong Bahru Singapura mengikuti suami. 
Ia cantik berkebaya, bersama undangan perempuan lain. Malang Post ikut upacara kemerdekaan di KBRI Singapura karena sedang menghadiri undangan Asia Journalism Forum yang diselenggarakan Temasek Foundation sejak 16 Agustus lalu. Karena itulah, Pemimpin Redaksi Malang Post Dewi Yuhana pun mengikuti upacara kemerdekaan yang digelar di halaman depan KBRI. Memenuhi undangan KBRI dan duta besar yang disampaikan via twitter.
Tak ada yang berbeda dengan rangkaian upacaranya. Semua sama. Hanya, sesi ramah tamah pasca upacara lah yang membuat hampir semua audiens yang hadir tidak meninggalkan tempat. Mereka memanfaatkan momen setahun sekali itu untuk saling bertemu satu sama lain. Keluar dari rutinitas sehari-hari. Apalagi, ada banyak kegiatan yang menyertai upacara tersebut. Yang membuat suasana makin meriah.
Salah satu yang bisa dikatakan berbeda adalah pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibra). Sebenarnya, tugas mereka tetap sama, mengibarkan bendera merah putih saat upacara. Hanya saja, keterbatasan siswa Indonesia di Singapura membuat sebagian anggota Paskibra adalah anggota tahun sebelumnya. Formasi pun menyesuaikan dengan jumlah pendaftar. Bukan hanya siswa SMA tapi juga siswa SMP yang bersekolah di Sekolah Indonesia Singapura (SIS). 
"Pendaftaran untuk Paskibra dibuka dari dua bulan lalu. Diumumkan di sekolah. Ada seleksinya," kata Roro Zahra, siswa kelas 2 SIS. 
Meski ada seleksi, namun tidak ada batasan minimal tinggi pendaftar layaknya seleksi Paskibra di Indonesia. "Karena keterbatasan siswa ya," kata Zahra yang tahun lalu juga menjadi anggota Paskibra. 

Berita Terkait

Berita Lainnya :