Manajemen Trust


Catatan: Husnun N Djuraid*

CEO Jawa Pos Dahlan Iskan mengatakan, isu yang mengatakan koran akan mati bukan hanya terjadi saat ini, tapi sudah sangat lama. Ketika radio muncul, banyak yang mengatakan koran akan tutup, tapi nyatanya radio tidak membunuh koran. Begitu juga saat TV mulai memasuki rumah-rumah, banyak yang memrediksi koran akan tutup, tapi nyatanya koran masih tetap bertahan. Kini, ketika internet sudah begitu mewabah, banyak yang menjatuhkan vonis, kali ini koran tidak akan mampu bertahan.
Benarkah ? Kalau soal koran tutup bukan hanya terjadi saat ini, tapi sudah lama sekali. Itu bukan terjadi karena media baru sebagai pesaing yang membunuhnya, tapi kesalahan koran itu sendiri. Tegasnya, kalau ada koran yang tutup, itu bukan karena media online atau media berbasis internet yang lain, tapi karena manajemen yang jelek. Kebetulan saja tahun lalu ada beberapa koran di Indonesia yang gulung tikar. Masyarakat kemudian mengaitkan itu dengan kehadiran media online dan media sosial yang sudah menyentuh lapisan masyarakat yang luas.
Kalau dilihat lebih cermat, kematian koran itu bukan semata faktor eksternal – paling gampang menjadikan pesaing sebagai kambing hitam – tapi lebih karena faktor manajemen internal. Cobalah diperhatikan, bagaimana manajemen koran-koran yang kini sudah almarhum itu. Kemudian bandingkan dengan koran yang masih survive. Ada koran yang hanya mampu bertahan untuk hidup, tapi tak sedikit justru malah mengalami pertumbuhan positif. Kondisi ini yang tidak dilihat oleh khalayak, karena mereka lebih suka menyaksikan koran-koran yang bertumbangan.
 Soal koran yang tutup ini tidak terjadi saat ini saja, sebelum era internet pun sudah banyak koran tutup. Intinya adalah, manajamen yang baik akan menjadikan perusahaan mampu bertahan dalam suasana apa pun. Persaingan dengan media berbasis internet memang berat, tapi sebelumnya koran sudah berpengalaman bersaing dengan media elektronik yang tak kalah dahsyat. Setiap persaingan akan menghasilkan pemenang dan pecundang.
Manjemen yang baik akan menghasilkan produk yang baik. Produk koran adalah berita. Kalau manajemen koran baik, maka akan menghasilkan berita baik yang dipercaya oleh masyarakat. Inilah yang menjadi kata kunci mengapa koran masih tetap bertahan. Seperti survei yang dilakukan Nielsen Consumer & Media View (CMV) kuartal III 2017. Hasilnya menunjukkan, masyarakat tetap membaca koran karena alasan trust, berita koran masih dipercaya.
Faktor kepercayaan khalayak ini sangat penting bagi koran untuk bertahan dan berkembang. Para pemasang iklan sangat memerhatikan faktor kepercayaan ini karena berhubungan dengan produk. Banyak produk yang mengandalkan kepercayaan sebagai faktor utama, mesekipun sebenarnya semua produk harus terpercaya, tapi ada produk tertentu yang sangat strik dalam trust. Media yang dijadikan tempat promosi pun harus terpercaya untuk menjaga brand image.
Bagi koran, antara manajemen dan trust tidak bisa dipisahkan. Manajemen yang baik akan menghasilkan produk yang baik dan terpercaya. Manajemen tetap dibutuhkan agar kepercayaan bisa dipertahankan. Semua mafhum, untuk mendapat kepercayaan harus melalui proses yang panjang dan sulit, tapi untuk memertahankan tidak kalah sulitnya. Seluruh komponen dalam perusahaan harus faham akan manajemen dan trust.
Menghasilkan berita yang benar dan terpercaya tidak bisa ditawar lagi. Sekali saja koran menampilkan berita yang tidak terpercaya, maka akan mencederai pembacanya. Awalnya mungkin cedera kecil, tapi kalau sering terjadi akan menjadi borok besar bahkan tumor yang melahap kepercayaan. Sangat sulit untuk mencari dan menemukan kepercayaan yang hilang. Yang sangat penting adalah menjaga kepercayaan itu agar jangan sampai hilang. Sekali saja pembaca tercederai, akan sulit untuk mengembalikan kepercayaan.
Wartawan sebagai ujung tombak dalam proses pembuatan berita harus punya bekal profesional. Informasi yang didapat harus dan bisa dipertanggungjawabkan kebenaran dan akurasi melalui proses verifikasi berjenjang. Hal yang sama juga harus dilakukan pada level yang lebih atas dalam mengoreksi informasi dari wartawan, sehingga saat disajikan sebagai berita itu benar dan akurat. Kesalahan satu huruf dan satu angka saja bisa menjadi malapetaka. Tentu kita tidak ingin suatu saat nanti koran menjadi koleksi museum sebagai media yang pernah ada, tapi kini sudah tidak ada lagi. Kerja keras dan profesional untuk menghasilkan berita yang terpercaya akan menjadikan koran terus bertahan.

*) Husnun N Djuraid, Redaktur senior Malang Post, mengajar di UMM

Berita Terkait

Berita Lainnya :