Mbak Wanti


 
Oleh: Husnun N Djuraid
 
PELANTIKAN itu sangat mengharukan. Layaknya sebuah pelantikan seseorang untuk menduduki jabatan tertentu, keharuan akan muncul karena bahagia. Air mata muncul bukan karena kesedihan, tapi karena bahagia yang membuncah. Tapi air mata Dewanti Ruparin Diah Rumpoko bukan semata-mata bahagia karena dia dilantik sebagai Wali Kota Batu. Ada kesedihan yang mendalam manakala dia harus mengemban sebagai pemimpin di kota wisata tersebut. 
Bukan tugas berat yang akan menghadangnya, tapi dalam momen yang sangat penting itu dia tidak didampingi suaminya, Eddy Rumpoko yang tengah menghuni rumah tahanan KPK. Sekuat apa pun, naluri seorang perempuan tidak bisa ditutupi, saat nama suaminya beberapa kali disebut sebagai pemimpin yang sukses menjadikan Batu, yang awalnya sebuah kecamatan sepi, menjadi kota wisata yang ingar bingar.
Tak kurang dari Gubernur Jatim Sukarwo melontarkan pujian kepada pria yang karib disapa ER itu karena dalam satu dasawarsa berhasil menyulap Batu sebagai destinasi wisata utama Jawa Timur. Mungkin Mbak Wanti, begitu saya biasa menyapa, akan merasa sangat bahagia manakala saat melakoni agenda penting tersebut, suaminya berada di sampingnya. Tapi itulah yang terjadi. Mbak Wanti tengah menjalani takdir hidupnya, entah untuk berapa lama dia akan berpisah dengan pria yang telah menjadi belahan jiwanya itu.
Meskipun musibah ini sangat berat, saya yakin Mbak Wanti mampu mengatasinya. Pengalaman menunjukkan dia mampu melewati berbagai badai yang lebih dahsyat. Meskipun tidak harus melupakan, tapi dia harus menatap masa depan dan tanggung jawab yang lebih berat. Memperbaiki warisan yang kurang baik mungkin lebih mudah, tentu harus dengan kerja keras dan itikad baik. Tapi memertahankan prestasi sungguh bukan suatu yang ringan.  
Dalam banyak ranah, mencapai prestasi itu berat, tapi memertahankan keberhasilan itu sangat berat. Sudah banyak contoh, para pengganti tidak mampu menjaga apa yang sudah dicapai pendahulunya. Jangankan meningkatkan, untuk memertahankan saja sudah kesulitan. Suka tidak suka, ER sudah mengukir prestasi pembangunan yang luar biasa di kota yang memiliki tiga kecamatan tersebut.
Prestasi yang paling menonjol adalah pembangunan pariwisata yang sangat pesat. Ambisinya untuk menjadikan Kota Wisata Batu (KWB) sebagai destinasi utama wisata Jawa Timur sudah tercapai, tinggal meningkatkan ke tingkat nasional.  Bukan hanya sektor pariwisata, tapi sektor lain seperti pendidikan dan kesehatan mengalami kemajuan yang pesat.
Dengan latar belakang sebagai pengusaha, tak jarang ER melakukan terobosan yang oleh sebagian pejabat dianggap tidak layak. Dia adalah pejabat out of the box. Dalam bidang kesehatan, dia ingin masyarakat miskin mendapat pelayanan kesehatan gratis di rumah sakit KWB maupun di kota Malang. 
Saya masih ingat bagaimana ER menyapa seorang ibu muda yang celingukan masuk ke gedung Among Tani yang megah itu. Dia ingin mencari kantor Dinas Sosial untuk meminta rekomendasi agar ayahnya bisa berobat gratis di rumah sakit. ER yang sedang berbincang dengan para tamunya itu kemudian menyapa perempuan tersebut dan menanyakan maksudnya. 
Tidak hanya itu, dia mengantar perempuan tersebut ke kantor yang berada di lantai dua. Dia cari kepala dinasnya, tapi ternyata tidak ada, bahkan beberapa meja pejabat juga kosong. Hanya ada seorang staf yang siap di mejanya. Kepada stafnya itu ER minta agar suratnya segera diproses agar warga yang sakit itu bisa segera berobat ke rumah sakit. Itu hanya sekelumit contoh, bagaimana ER begitu peduli pada warganya. Bukan hanya peduli, tapi mengakrabinya. Tak ayal bila badai itu datang, tak sedikit warga KWB yang tak percaya bahkan mereka menangis.
 Kini, Mbak Wanti harus menjadi pewaris ER dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Saya yakin, dengan kapasitas dan integritasnya, Mbak Wanti mampu melawati masa-masa sulit bahkan akan lebih baik.  Untuk running well, masih ada yang harus dibenahi. ER memang berhasil, tapi masih banyak menyisakan masalah yang harus segera dituntaskan. Tahap awal kepemimpinan akan dilalui dengan konsolidasi ke dalam, menata organisasi yang solid sebagai penyokong program kerja.
 Saya pikir Mbak Wanti tidak perlu ‘’bersih-bersih’’ birokrasi, cukup melakukan pembenahan di beberapa sektor, terutama untuk jabatan yang belum devinitif. Para pejabat warisan ER sudah menunjukkan kinerja yang bagus, meskipun masih bisa ditingkatkan lagi dengan motivasi dan teladan dari atasan. Sebagai seorang psikolog, Mbak Wanti tidak akan kesulitan memetakan potensi anak buahnya.  
Mungkin ini yang membedakan keduanya. Saat berbicara di hadapan warga KWB, Mbak Wanti sudah menegaskan bahwa dia bukan ER. Itu artinya dia akan keluar dari bayang-bayang suaminya dengan segala prestasinya saat memimpin KWB. Itu berarti akan ada sesuatu yang baru di KWB, acara-acara akan digelar sesuai jadwal, tidak sampai molor. Selamat bertugas, Mbak Wanti.
 
*) Redaktur senior Malang Post, mengajar di UMM 

Berita Terkait

Berita Lainnya :