Motor Tua Full Tenaga, Ekspedisi Pinjam Mobil Keluarga

 
SELAIN Brigjen (Purn) Sugiyono, Slamet Indra Santoso SH dan Dr H Imam Kabul, Malang Post punya pahlawan dari kalangan karyawan. Mereka adalah karyawan perintis yang kini telah berpulang. Yakni Sulkan Slamet, Patmono dan H Iswanto  meninggalkan jejak dedikasi sebagai teladan.
Ia populer sebagai redaktur pohon. Itu karena saban hari menulis judul berita Malang Post di kertas ukuran koran lalu dipasang di tempat-tempat umum. Di tangannya, judul berita lebih kereng dan menggoda untuk dibaca. Itulah karya Sulkan Slamet yang sering dilihat di berbagai sudut Kota Malang sekitar tahun 1998 hingga awal tahun 2000. Dari hasil kerjanya inilah pembaca tahu peristiwa apa saja yang diberitakan Malang Post. 
Sulkan Slamet merupakan karyawan yang bergabung dengan Malang Post sejak awal terbit. Ia selalu bersemangat ketika sedang bekerja hingga masa pensiun. Setelah masa pensiun, Sulkan Slamet meninggal dunia dan dimakamkan di TPU Samaan. Itu cerita redaktur pohon. Ada juga karyawan spesialis perintis marketing. Ia adalah Patmono. Sepanjang hidup dan karir di Malang Post, Patmono memang dikenal sebagai salah satu ahli dalam pemasaran koran. 
“Pak Pat (Patmono) selalu temani saya ke mana-mana, terutama saat ke agen untuk  buka pasar baru,” kenang Dirut Malang Post,  H Juniarno D Purwanto. Naik motor tua di awal Malang Post terbit, Patmono tetap full tenaga. “Pak Pat sangat menguasai medan pemasaran,” sambungnya. 
Dalam kesehariannya kala bekerja, sifat humoris dan low profile yang dimiliki Patmono semakin entengkan semua tanggungjawabnya. Saat masih subuh, Patmono sudah mulai bekerja. Kinerjanya itu tak lekang oleh waktu hingga pensiun dan meninggal dunia. 
Begitu pula dengan H Iswanto. Saat ziarah di makam Iswanto di kawasan Polehan, jadi teringat dedikasinya. Ketika masih bertugas di bagian iklan, ia menunjukan dedikasinya yang luar biasa. 
Ia bahkan sudah menunjukannya sejak awal bergabung di Malang Post. Masih segar dalam ingatan saat diawal mencetak koran,  H Iswanto meminjam mobil keluarganya untuk armada ekspedisi dari Malang membawa astralon ke percetakan di Surabaya. Lalu dari percetakan kembali ke Malang membawa koran yang siap didistribusi kepada pembaca. 
“Tiga karyawan ini (Sulkan Slamet, Patmono dan H Iswanto)  merupakan kelompok perintis di Malang Post. Masing-masing punya spesialisasi dan kelebihan,” kenang Purwanto di sela-sela ziarah ke makam mereka. 
Menurutnya, ziarah ke makam para karyawan perintis itu merupakan bentuk penghormatan sekaligus terus melanjutkan perjuangan mereka. Manajemen Malang Post tetap selalu ingat dan memanjatkan doa. 
Kini semangat mereka yang berkobar demi Malang Post terus dilanjutkan. Apalagi  sejak pertama kali terbit, setiap karyawan selalu berusaha memberikan yang terbaik sesuai tugas dan keahlian masing-masing. (van) 
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :