Pak Tua, Sudahlah


Catatan Husnun N Djuraid “

Pak Tua sudahlah
Engkau sudah terlihat lelah

Pak Tua sudahlah
Kami mampu untuk bekerja
Pak Tua……
Ini adalah cuplikan bait lagu berjudul Pak Tua yang pernah populer  pada tahun 80 an. Bagi penggemar musik pada waktu itu, lagu yang dinyanyikan kelompok musik Elpamas tersebut tidak asing lagi. Elpamas kemudian menjadi salah satu band rock kenamaan di tanah air setelah menjuarai beberapa festival musik rock. Sebelum terjun ke kancah musik rock, band asal Pandaan ini bergelut dalam musik dangdut. Setelah banting stir ke musik cadas, band ini justru mendapat popularitasnya baik di atas panggung maupun di dapur rekaman.
Band ini berasal dari sebuah kecamatan di Kabupaten Pasuruan, Pandaan. Maka namanya pun berasal dari plesetan Elek-elek Pandaan Mas. Salah satu pentolan band ini adalah Totok Tewel yang beberapa kali menyabet gelar gitaris terbaik dalam banyak festival musik rock. Setelah band ini tidak terdengar lagi aktifitasnya, Totok masih malang melintang bermusik dengan para pemusik top di Jakarta.
Akan halnya lagu hit Pak Tua, merupakan bentuk sindiran terhadap penguasa Orde Baru kala itu yang sudah sangat lama berkuasa. Lagu ini dianggap berani melontarkan kritik kepada penguasa Orde Baru yang represif. Lagu ini sebenarnya diciptakan oleh pemusik Iwan Fals, tapi dalam album Elpamas namanya tidak ditulis seperti biasanya tapi menggunakan nama samaran, Pitat Haeng.
Lirik protes itu rupanya diketahui oleh penguasa. Imbasnya, band ini dilarang tampil di televisi satu-satunya yang ada di Indonesia saat itu, TVRI. Tapi larangan itu tidak membuat band ini hilang popularitas, justru sebaliknya. Lagu-lagu bertema kritik saat itu banyak digemari, meskipun secara diam-diam. Iwan Fals dikenal dengan ciptaan yang mengkritik pemerintah waktu itu yang dianggap menyengsarakan rakyat.
Tanpa harus dijelaskan, sebenarnya lagu Pak Tua bercerita tentang Presiden Suharto yang kala itu ingin terus memperpanjang kekuasaannya pada usia yang semakin sepuh. Saat awal berkuasa, rakyat Indonesia menaruh harapan besar akan adanya perubahan yang lebih baik dibanding sebelumnya yang penuh sengsara. Pergolakan politik membuat Indonesia porak poranda.
Suharto dengan tangan dingin, sekaligus tangan besi, mampu membawa perubahan yang signifikan. Pelan-pelan Indonesia menjadi negara yang diperhitungkan dalam kancah internasional. Indonesia dikenal sebagai penghasil beras. Di satu sisi rakyat menikmati hasil pembangunan tapi di sisi lain pemerintah mengekang kebebasan rakyat dalam  berekspresi, termasuk dalam musik.
Akhirnya rakyat jengah dan hilang kesabaran saat Sang Jenderal ingin terus berkuasa, padahal saat itu usianya sudah uzur. Bukan itu saja, keterlibatan anak-anak presiden dalam banyak bisnis menyebabkan presiden yang dijuluki The Smiling General ini terlibat KKN. Anak-anaknya mendapat privilege menguasai sektor perekonomian yang penting. Beberapa diantaranya bahkan mendapat hak monopoli.
Benar juga yang dikatakan Elpamas, presiden yang sudah sepuh itu harus segera istirahat. Sayangnya dia tidak beristirahat dengan keinginan sendiri, tapi gelombang masyarakat yang memaksanya untuk meletakkan jabatan. Orang hebat yang dijuluki Bapak Pembangunan itu harus turun dari tahta diiringi caci maki rakyatnya.
Jasanya yang sangat hebat memajukan Indonesia dalam tiga dasawarsa lenyap dalam sekejap. Meskipun harus diakui, saat ini masih banyak yang merindukan Pak Harto. ‘’Piye Kabare, Enak Jamanku To.’’ Refleksi kerinduan rakyat pada Pak Harto itu ditumpahkan dalam graffiti di bak truk.
Pak Harto membari banyak pelajaran. Seperti yang tertuang dalam lagu Pak Tua, para generasi tua seharusnya tahu diri dan tidak memaksakan diri untuk berkuasa. Masih banyak generasi yang lebih muda dan lebih mampu mengemban tugas. Kodrat ketuaan tidak bisa ditutupi, apalagi sudah melewati 60 tahun, pasti banyak fungsi tubuh mulai menurun, termasuk kemampuan otak. Pada usia itu penyakit sudah mulai datang sejalan dengan menurunnya fungsi organ tubuh.
Rekasi tubuh mulai melambat. Pekerjaan pun harus dilakukan satu demi satu, tidak bisa lagi multitasking menyelesaikan beberapa pekerjaan sekaligus. Harus ada jeda dan istirahat beberapa waktu usai mengerjakan satu pekerjaan sebelum mengerjakan pekerjaan berikutnya. Ketuaan dan kelemahan tidak bisa ditutupi hanya dengan bertelanjang dada, seolah-olah ingin menunjukkan masih kuat. Ya, seolah-olah.
 Negara ini butuh pekerja yang cepat untuk menyelesaikan karut marut dalam banyak sektor. Ibaratnya berpacu, tidak cukup hanya menungguang kuda, tapi harus berkendara yang lebih cepat, secepat Shinkansen atau Ferrari yang biasa ditunggangi Sebastian Vettel.

*Husnun N Djuraid, redaktur senior Malang Post mengajar di UMM

Berita Lainnya :