Penalti


catatan wartawan Malang Post: Buari
 
Pemain sekelas Lionel Messi pun pernah gagal  mengeksekusi tendangan penalti. Bahkan itu terjadi pada laga leg pertama perempatfinal Copa del Rey, saat Barcelona menghadapi Espanyol, 18 Januari 2018 lalu. Atas kegagalan seorang Messi itu, Barcelona akhirnya menelan kekalahan 1-0 dari Espanyol lewat gol Oscar Melendo menit 88.
Tak hanya Messi, masih banyak pemain berlabel mega bintang dunia yang pernah gagal melakukan tendangan penalti. Bahkan di pertandingan yang cukup krusial dan menentukan hasil akhir sebuah tim. Ya itulah sepakbola, banyak hal yang tak mudah untuk diprediksi. Terkadang juga diluar ekspektasi suporter yang tentunya ingin hasil maksimal.
Kira-kira begitulah yang dialami tim Arema saat menghadapi Sriwijaya FC di babak 8 besar Piala Presiden 2018, Minggu (4/2) lalu.  Menit 60, hadiah penalti yang dieksekusi Dedik Setiawan gagal berbuah gol. Pasca penalti yang berpotensi bisa memenangkan Arema tersebut, mental Dendi Santoso dkk seolah hancur, hingga digelontor tiga gol Sriwijaya FC.
Memang tak ada yang bisa memastikan atau memberi garansi, jika Dedik bisa cetak gol lewat penalti itu, Arema bakal menang. Namun jika melihat pertandingan tersebut sejak kick off babak pertama, rasanya peluang menang terbuka lebar. Andai saja gol itu tercipta. Mental pemain Arema lebih terangkat, serta dukungan Aremania bakal lebih kuat.
Jujur, di babak pertama saya lihat permainan Sriwijaya FC ternyata tak begitu istimewa layaknya tim bertabur bintang. Justru Arema yang tampil pincang karena dua pemain asingnya absen, mampu memberi perlawanan. Itu pun saya nilai permainan Arema tidak pada performa terbaiknya  menghadapi Sriwijaya FC yang dari awal memang diunggulkan.
Tidak banyak peluang dimiliki kedua tim di babak pertama. Saya hanya mencatat, Arema memiliki dua peluang bagus dari Dedik Setiawan menit 29 dan Dendi Santoso menit 40. Peluang bagus adalah saat Dendi tinggal berhadapan dengan kiper Sriwijaya FC, namun sontekannya terlalu lemah dan gagal berbuah gol untuk tim Singo Edan.
Setelah itu, di babak kedua, drama penalti itu terjadi. Banyak yang bertanya, kenapa Dedik yang mengambil hadiah penalti? Apakah skenario dari tim pelatih untuk eksekutor penalti ini adalah Dedik? Lantaran di pertandingan menentukan itu, tim pelatih semestinya sudah menyiapkan pemain yang mendapat tugas khusus, sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Misal pemain untuk eksekutor tendangan penalti, pemain yang ambil tendangan sudut maupun tendangan bebas. Ya, kalau jadi gol, mungkin tidak akan ada yang mempertanyakan. Kebetulan hadiah penalti itu diperoleh Arema setelah Dedik yang dilanggar Abimanyu di kotak penalti Sriwijaya. Mungkin Dedik merasa yang berhak mengeksekusinya.
Meski dari kacamata orang awam, usai dilanggar dan terjatuh, berpikirnya kondisi Dedik belum sepenuhnya siap untuk menendang dengan baik. Secara psikologis, Dedik pastinya terbawa emosional untuk bisa cetak gol dari penalti. Sementara mental pemain muda yang baru saja mendapat tempat di starting line up Arema ini, menurut saya belum begitu kuat.
Boleh jadi, analisa ini kurang pas. Namun mengacu keterangan pelatih Joko Susilo usai pertandingan, faktor mental timnya memang belum sesuai harapan. Terbukti usai gagal penalti, Arema tak mampu bangkit lagi, dan sebaliknya memberi angin pada Beto dkk. Seolah permainan tim asuhan Rahmad Dharmawan itu menjadi superior, khususnya setelah Bio Paulin cetak gol, menit 67.
Sudah. Permainan Arema tak lagi bisa diharapkan. Pantas jika ribuan Aremania kecewa melihat permainan Arema. Disusul gol kedua Sriwijaya FC lewat tendangan bebas Abimanyu menit 71, semakin menjatuhkan mental tanding pemain Arema. Padahal dua gol ini tercipta bukan dari hasil permainan yang bagus, melainkan dari tendangan bola mati.
Hadiah penalti kedua untuk Arema, menit 81 yang berbuah gol dari kaki Hardianto juga tak mampu membalikkan keadaan. Termasuk dengan beberapa pergantian pemain, diantaranya kiper Kartika Aji ditarik keluar, digantikan Reki Rahayu, tak ada pengaruhnya.
Sriwijaya FC cetak gol ketiga menit 85 lewat kaki Beto, sekaligus menutup peluang Arema untuk lolos semifinal. Sebenarnya persoalan mental ini telah dikeluhkan, Pelatih Fisik Arema FC, Dusan Momcilovic. Menurutnya, dari segi fisik, pemain sudah tidak ada masalah. 
"Saya melihat yang harus dibenahi hanyalah masalah mental. Sebab saya yakin pemain Arema bisa menjaga kondisi fisik di level saat ini," ujar dia sehari sebelum Arema bentrok Bhayangkara FC, beberapa waktu lalu.
Rupanya persoalan mental sudah terdeteksi di babak penyisihan Grup E. Namun belum ada solusi. Kegagalan Arema di ajang Piala Presiden 2018 ini pun jadi pelajaran berharga untuk  menguatkan mental tanding pemain Arema. Sekaligus juga diharapkan bisa menguatkan mental dari tim pelatih Arema menghadapi kompetisi Liga 1 2018 mendatang. Semoga!

Berita Terkait

Berita Lainnya :