Tahun 2030, Indonesia Kejar Amerika

MALANG – Penumpang pesawat terbang di Indonesia diprediksi bakal mencapat 300 juta orang pada 2030 mendatang. Hal tersebut ditegaskan Dr.Ing. Ilham Akbar Habibie MBA ketika memberikan kuliah umum di Universitas Ma Chung, Jumat (7/7) kemarin. Putra pertama Presiden RI ketiga B.J. Habibie itu, juga yakin Indonesia bisa menyamai Amerika Serikat.

 “Indonesia bisa sejahtera seperti Amerika di 2030, asalkan perkembangan teknologi dan industry pesawat terbang bisa terus dikembangkan,” tegas Ilham Habibie, sapaan akrabnya di Gedung Balai Pertiwi Universitas Ma Chung.
Sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2016 jumlah penumpang penerbangan di Indonesia mencapai 95,2 juta penumpang. Penumpang domestik tercatat sebanyak 80,4 juta orang dan jumlah penumpang internasional sebanyak 14,8 juta. Sehingga cukup realistis, jika pada tahun 2030, jumlah penumpangnya mencapai 300 juta orang.
Ilham menjamin, ketergantungan  pesawat di Indonesia akan lebih besar daripada AS. Karena geo struktur kepulauan. Jika sudah seperti itu, lanjutnya, dipastikan perekonomian Indonesia meningkat, kesejahteraan juga meningkat.
Sebagai pakar penerbangan, Ilham Habibie bermimpi suatu saat Indonesia bisa menjadi negara maju seperti Amerika. “Pesawat terbang, adalah industri yang mampu menyejahterakan suatu negara. Mari membayangkan jika pesawat terbang sudah bisa dinikmati sebagian besar masyarakat, Indonesia bisa dikatakan sejahtera untuk itu,” urai alumni doctoral Technical University of Munich, Jerman itu.
Menurut Ilham, Amerika Serikat sebagai negara maju, memiliki kemiripan, dengan Indonesia. Yakni perkembangan dunia penerbangan hampir sama. Dan jumlah penduduk juga hampir sama.
“Mereka 320 juta, kita 250 juta," kata Komisaris perusahaan Industri pesawat terbang nasional PT. Regio Aviasi Industri (RAI) itu.
Mantan Ketua Dewan TIK Nasional, itu mengatakan melihat pesatnya perkembangan penduduk di Indonesia, serta perkembangan teknologi. Dunia penerbangan di negara kepulauan dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta seperti Indonesia seharusnya sangat diidamkan.
“Seperti yang saya ungkap sebelumnya, hampir 75 persen wilayah Indonesia adalah laut dengan jumlah penduduk 250 juta. Tentu saja, ketersediaan alat transportasi terutama pesawat terbang kian dilirik dalam satu dekade terakhir,” beber Ilham Habibie.
Menurutnya kebutuhan domestik terhadap pesawat dapat dibandingkan dengan negara AS yang sangat maju pesat. Terutama, melihat bagaimana negara itu menggunakan transportasi udara sebagai tulang punggung infrastruktur ataupun logistik mereka.

 

“Seharusnya nanti, kita negara Indonesia juga perlu menggunakan transportasi udara sebagai tulang punggung,” tegas Ilham.

Ekonomi Indonesia, lanjut dia,memang masih jauh di bawah mereka. Orang Amerika yang terbang seluruh warga negaranya dengan jumlah 300 juta . Indonesia 80 juta yang terbang, dengan jumlah penduduknya 250 juta.
Menurut hasil riset yang ia lakukan, kebutuhan pesawat dapat dibandingkan dengan jumlah orang yang memerlukan jasa penerbangan di tanah air. Membuat dunia penerbangan di Indonesia menjadi salah satu kunci kesejahteraan serta perkembangan perekonomian di Indonesia.
 “Karena kita sudah mampu memproduksi pesawat sendiri, selain itu juga sudah banyak perusahaan yang bisa mengelola dunia penerbangan dengan baik. Seperti Angkasapura. Jika ada Sumber Daya Manusia yang membantu mengembangkan, prediksi itu akan terlaksana,” tegas Ilham.
Ilham mengatakan, dengan perkembangan teknologi dan industri pesawat terbang di Indonesia yang semakin pesat. Maka perlu terus didukung dengan sumber daya manusia yang berkomitmen untuk terus mengembangkan teknologi penerbangan.
Ia pun membeberkan, kunci untuk tetap berkomitmen untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan Indonesia adalah dengan konsisten dalam bidang penerbangan. Serta harus terus concern memperhatikan perkembangan teknologi.
Ia berpandangan bahwa alih teknologi harus berjalan secara integral dan lengkap mencakup hardware, software serta brainware dan tergantung pada faktor manusia.
“Dunia penerbangan membutuhkan manusia yang berkeinginan, berkemampuan dan berpendirian dalam ilmu, teori dan keahlian untuk melaksanakannya dalam bentuk kerja. Berpijak pada hal itu harus menerapkan filosofi transformasi teknologi, dan itu harus dilaksanakan,” pungkas dia
Ia berharap, perguruan tinggi, walaupun bukan dari jurusan linier penerbangan, bisa turut membantu adanya inovasi dalam dunia penerbangan.(sin/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :