Zulhasan, Thariq bin Ziyad, dan Point of No Return


Pernyataan Ketua MPRI RI, Zulkifli Hasan, mengenai fenomena LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) menjadi sebuah titik yang tidak mungkin berbalik (point of no return) dalam politik Indonesia. Polarisasi antara koalisi keumatan yang religius, versus koalisi pro-pemerintah--yang nasionalis dan mengklaim diri sebagai pro-kebhinekaan--kembali berhadap-hadapan dalam garis demarkasi yang tegas.
Persaingan yang sangat keras dalam kontestasi pilkada DKI 2016 telah memunculkan luka yang dalam bagi kelompok yang kalah. Luka begitu dalam sampai sulit untuk move on meskipun sudah hampir setahun berlalu. Hal ini menimbulkan praduga bahwa polarisasi itu akan menjadi permanen dan akan terus terbawa sampai kontestasi pemilihan presiden 2019.
Datanglah tahun politik 2018. Ternyata, partai-partai yang bersaing begitu keras di pilkada DKI ternyata dengan santai dan enteng saling berkoalisi di sejumlah daerah dan wilayah. Polarisasi antara kekuatan keumatan yang religius dan kekuatan nasionalis seolah meleleh dengan cepat karena alasan-alasan pragmatis. Alasan-alasan ideologis yang sebelumnya seolah-olah tak bisa lagi ditawar, ternyata lumer dengan cepat. Partai-partai, yang sebelumnya bersaing, saling berkoalisi mendukung dan mengusung calon-calon kepala daerah di banyak tempat di Indonesia. Partai Amanat Nasional (PAN) yang mempunyai hubungan cat and mouse (kucing dan tikus) dengan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) bergandengan mesra di Jawa Tengah. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang bersetru ideologis dengan Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P) tak malu-malu berada dalam satu gerbong di Jawa Timur.
Muncullah fenomena ‘’cross-cutting political coalition’’ atau koalisi lintas-batas politik yang mengindikasikan aroma pragmatisme yang kuat. Di beberapa wilayah itu partai-partai tidak mempunyai kandidat yang cukup kuat untuk dipertarungkan, sehingga jalan pintas pragmatis harus diambil untuk berkoalisi dengan partai yang tidak seideologis. Koalisi lintas batas ini diberi aplaus sebagai indikasi bahwa persingan demarkatif itu sudah terhapus.
Tetapi ternyata tidak demikian. Api dalam sekam tetap membara tak tampak dari permukaan. Rumput kering gersang itu masih luas terhampar. Minyak itu masih disana. Ketika muncul kilatan api, rumput kering itu pun terbakar, dan minyak itu seolah tersiram api. Kebakaran pun tak terhindarkan.
Pernyataan Zulhasan, sapaan Zulkifli Hasan, mengenai fenomena LGBT dan tarik-menarik di parlemen membahas legislasi LGBT, seperti pemantik api yang jatuh di padang rumput kering, seperti api yang memantik minyak, panas dalam sekam langsung membara. Tidak ada tudingan langsung yang diarahkan Zulhasan kepada partai-partai tertentu. Tetapi, tiba-tiba banyak yang salting alias salah tingkah dan baper alias terbawa perasaaan, dan kemudian serta-merta menegaskan partainya bukanlah partai LGBT. Serangan terhadap Zulhasan datang bergelombang. Ia dituding caper, cari perhatian, dengan mengekploitasi masalah sensitif.

Berita Terkait

Berita Lainnya :