Jumat Macet di Hisbullah

Macet di mana-mana. Juga di Beirut. Kunjungan saya baru saja selesai: ke gedung pusat agama Druze. Pun ke makam Druze. Waktu Jumatan sudah dekat. “Saya mau salat Jumat,” kata saya pada sopir. “Aina,” tanya sopir. “Masjid mana saja,” jawab saya.
Macet sekali hari ini. Juga kemarin sore. Saat hujan turun sepanjang hari. Waktu saya habis di jalan.

“Hunaka,” kata sopir. Sambil menudingkan jari. Ke arah bangunan masjid bermenara tinggi. Saya setuju. “Itu masjid apa? Sunni atau Syiah?,” tanya saya.
“Syiah,” jawabnya. “Di daerah sini Syiah semua. Ini kawasan Hisbullah. Sunni sedikit di kawasan ini,” tambahnya.

Night Club Mengubah Tujuan

Setelah mendarat di Beirut lah saya baru bikin rencana: ke mana dulu.
Ke pusatnya Hisbullah? Yang dikategorikan organisasi teroris oleh Amerika Serikat itu?
Ke Sabra Shatila? Kamp pengungsi Palestina yang dihancurkan Israel itu? Yang sudah lama saya baca buku kengeriannya itu? Karya dokter China yang jadi relawan Palestina itu?

Ke pusatnya Druz? Yang dianggap bukan Islam lagi itu?
Ke pusat bisnis Beirut? Yang didesain ulang itu? Dengan konsep public private partnership itu? Yang kontroversial itu? Yang dulunya hancur akibat perang itu?
Ke museum Khalil Gibran? Yang puisinya sering saya baca itu? Yang letaknya 3 jam di utara Beirut itu?. Atau cari visa ke Syiria dulu? Siapa tahu bisa masuk ke Damaskus? Yang jaraknya hanya tiga jam bermobil dari Beirut?. Akhirnya saya pilih tidur dulu. Ngantuknya bukan main.

Berita Terkait

Berita Lainnya :