Politik Zonasi Pendidikan

Oleh : Ahan Syahrul Arifin, Alumni UMM dan Aktivis Sosial berdomisili di Kota Malang.

Pada hakekatnya pendidikan merupakan sarana pembelajaran bagi setiap peserta didik dari tidak tahu menjadi mengerti. Pendidikan akan mengubah seseorang dari tidak memiliki pengetahuan menjadi paham akan sesuatu. Oleh karena itu, pendidikan dimaknai sebagai proses mengubah paradigma berpikir, tata laku dan sikap seorang peserta didik untuk mendewasakan dirinya melalui berbagai bentuk pengajaran dan pelatihan-pelatihan.
Proses yang utama dari pendidikan akan memberikan peserta didik memiliki kemampuan dan watak untuk mengembangkan diri demi terwujudnya peradaban bangsa yang maju dan bermartabat. Kemampuan tersebut tentunya ditopang dengan karakter peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab (UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003).

Berakhirnya Era Cebong dan Kampret

Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) Kamis malam (27/6) yang menolak seluruhnya permohonan pemohon, dalam hal ini pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, seharusnya menjadi akhir dari sengketa panjang Pilpres 2019. Sebab, beberapa saat kemudian, dalam konferensi pers, Prabowo menyatakan bahwa dirinya legawa dan menghormati putusan MK.

Menyoal Sistem Zonasi Sekolah

Oleh Mishad, Guru dan Tim Peningkatan dan Penjaminan Mutu MAN 2 Kota Malang

“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China, Bagaimana bisa, karena sekarang ada sistem zonasi”, “Beberapa tahun ke depan anak-anak kita ketika reuni akan ketemu dengan tetangganya sendiri karena zonasi”. “Dulu prestasi sekarang Zonasi”. “Dulu berapa angka NUN sekarang berapa meter jarak rumah ke sekolah” .

Beberapa kalimat di atas adalah ‘meme “  di medsos yang menyindir sistem zonasi sekolah dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) beberapa hari terakhir  di sekolah-sekolah negeri di bawah naungan Kemendikbud.
    Sudah tiga tahun berjalan pelaksanaan PPDB di sekolah umum SD, SMP, dan SMA/SMK menerapkan sistem zonasi dengan berbagai perbaikan aturan dari tahun ke tahun. Penerapan sistem zonasi sekolah mengharuskan calon peserta didik untuk menempuh pendidikan di sekolah yang memiliki radius terdekat dari domisilinya masing-masing.