magista scarpe da calcio Netizen


Bersatu Lawan Ormas Radikal

Oleh :
Naufal Faris Irfandio
Mahasiswa Fakultas Kedokteran

Universitas Muhammadiyah Malang
Organisasi masyarakat (ormas) memiliki peran penting dalam negara demokrasi, karena organisasi inilah yang turut membantu mewujudkan kehidupan yang lebih baik untuk negara ini. Namun, dalam pendirian ormas ini tidaklah asal-asalan, karena telah ada undang-undang yang mengatur yaitu UU Nomor 17 tahun 2013 tentang organisasi kemasyarakatan.
Saat ini, telah banyak ormas yang telah terbentuk dan memiliki banyak anggota. Jika dilihat ormas yang terbentuk itu memberikan indikasi positif berkaitan dengan masyarakat telah sadar atas demokrasi yang harus dijunjung tinggi di negara ini. Tetapi, dari banyaknya ormas ada penyusup yang ingin menghancurkan tanah air ini dengan membentuk organisasi masyarakat baru dengan tujuan yang tidak sesuai dengan undang-undang dan dasar negara Indonesia. Organisasi ini ada yang radikal, ada juga yang suka meminta jatah jika ada suatu proyek yang akan dilaksanakan pemerintah. Organisasi masyarakat ini memanfaatkan situasi kebebasan dan demokrasi untuk menanamkan dan menjalankan ideologi lain atau ideologi yang tidak sesuai dengan Pancasila.

Politik Versus Ideologi

Oleh Dhanny S. Sutopo, Dosen Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas  Brawijaya

Suhu politik saat festival demokrasi atau suksesi kepemimpinan daerah (Pilkada) selalu lebih hangat dari biasanya. Bahkan bila sedikit menenggok proses Pilkada Ibu Kota Jakarta kemarin periode 2017-2022, jagad maya ataupun netizen membara. Perbedaan keyakinan dari calon petahana yang turut maju, seolah membangunkan kelompok-kelompok masyarakat, terutama dari kelompok muslim, mulai memberikan respon dan menanggapi isu  kepemimpinan yang berasal dari pemeluk agama minoritas di Indonesia. Kelompok muslim mulai dari yang tradisional, moderat hingga garis keras atau fundamentalis saling berebut memberikan argumen sehingga menjadi discourse terkait dengan isu kepemimpinan dan good governance.
Perbedaan pandangan tersebut telah merubah suksesi kepemimpinan dari arena politik menjadi sebuah pertarungan ideologi. Palagan yang seharusnya tempat bertarungnya program-program, visi, figure dan rekam jejak. Riuh dengan konsep seperti jihad, haram, kafir, kemaslahatan umat dan lain-lain. Hingga kondisi seperti itu berpengaruh terhadap kondisi psikologis masyarakat dalam menentukan atau memilih pemimpin pemerintahan. Dan politikpun tertikam oleh pertarungan ideologi, hingga diapun takluk.

Kita Sendiri "Mafioso"

Oleh : Abdul Wahid
Wakil Direktur I Bidang akademik Program Pascasarjana Universitas Islam Malang dan pengurus AP-HTN/HAN dan penulis sejumlah buku terorisme

.

Coba sedikit kita jujur pada diri sediri, siapapun diantara kita, barangkali akan melakukan adoposi terhadap modus operandi berkilah yang disampaikan tersangka korupsi jika kita di tempat yang sama dengannya. Bahkan bukan tidak mungkin pula diantara kita ini lebih berani dalam mendisain dan mengembangkan modus operandi..
Sayangnya, kita jarang mengevaluasi diri, bahwa bukan tidak mungkin kita ini setali tiga uang dengan sejumlah tersangka korupsi. Kita ikut-ikutan menjadi bagian dari publik yang mengecamnya atau menjadikannya objek diskursus sarat misoginisme (kebencian) padanya, padahal faktanya, kita bahkan barangkali berkadar lebih buruk darinya.
Yang menurut penulis sangat penting saat ini atau ke depan untuk Indonesia adalah bagaimana kita wajib menjadi penakut dengan penyakit korupsi, karena banyak elemen stratgis bangsa ini yang tidak merasa “takut” melakukan korupsi. Elemen strategis bangsa berpenyakitan ini bisa jadi adalah “kita” yang gencar dan berlanjut melakukan penyalahgunaan jabatan (kekuasan).

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang