Kecerdasan Pemilih Benar-benar Diskriminasi

 
Di negara ini, memilih sosok pemimpin yang benar-benar pemimpin ternyata tidak mudah. Sosok pemimpin yang dimaksudkan adalah pemimpin daerah. Betapa tidak, ada saja “virus” yang ditengarai melekat dalam diri setiap kandidat, sehingga membuat opsi publik untuk memilih atau mengantarkannya menjadi pemimpin daerah tidak mudah.

Media Sebagai Oksigen Terorisme

 
Mendiang Perdana Menteri Inggris, Margaret Thatcher pernah mengatakan bahwa media adalah oksigen bagi terorisme. Pernyataan Thatcher ini sangat relevan untuk melihat relasi antara media dan aksi terorisme yang kembali marak saat ini. Salah satu tujuan dari aksi teroris adalah untuk mendapat efek kejut dan getar. Aksi teroris dinilai berhasil kalau mendapat pemberitaan yang besar dan meluas. Pemberitaan media yang masif tentang aksi teroris justru akan memicu tindakan-tindakan teroris selanjutnya.

Mengurai Akar Terorisme

Aksi terorisme kembali meledak, menghentak dan mengguncang ketenangan pulbik. Tiga  rumah ibadah yang berlokasi di Surabaya disasar secara bengis oleh pelaku bom bunuh diri. Adalah Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia  dan Gereja Pantekosta pada Minggu (13/05) lalu.
Seakan bertalian secara langsung  bom juga meledak di Rusunawa Wonocolo, Sepanjang Sidoarjo pada hari yang sama. Keesokan harinya, Senin (14/5) bom bunuh diri juga terjadi di gerbang Mapolrestabes Surabaya. Deretan peristiwa tersebut menghilangkan puluhan nyawa, korban tubuh-tubuh yang terluka, kerusakan dan yang paling sakit adalah keresahan yang dirasakan warga sekitar ledakan.
Serangkaian aksi terorisme yang terjadi mengaktifkan titik sadar publik untuk bersikap awas dan selalu waspada terhadap segala hal-hal asing dilingkungan masing-masing. Di sudut yang lain, titik sadar itu mengarahkan opini publik pada stigmatisasi agama tertentu dibalik terjadinya peristiwa hina itu.