Sontoloyo

Tiba-tiba saja orang riuh membincangkan kata sontoloyo. Acara talkshow di televisi, berita di koran, dan beragam konten di media sosial (medsos) dipenuhi dengan narasi soal sontoloyo. Ini bermula pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengatakan bahwa sekarang banyak politikus sontoloyo yang bermain dengan politik sontoloyo. Pernyataan presiden yang disampaikan dalam acara penyerahan sertifikat hak tanah warga DKI Jakarta Selasa (23/10/2018) itu sontak bikin gaduh.
Pernyataan Jokowi yang diakui sebagai pernyataan keceplosan itu sebagai ungkapan kejengkelannya atas munculnya politisi yang menghalalkan berbagai cara untuk meraih simpati dalam kontestasi Pemilu 2019. Politik SARA dan adu domba itu politik sontoloyo kata Jokowi. Dari pernyataan Jokowi itu banyak pihak yang tersindir. Pernyataan politik dan politisi sontoloyo tidak saja tertuju pada kubu lawan, namun bisa jadi bagi kubu sang pembuat pernyataan itu sendiri.

Menguatkan Karakter Bangsa Melalui Bahasa

 
Kalau berjalan ke Jl. Selat Sunda IV di Sawojajar, Anda akan dimanjakan dengan beberapa papan peringatan yang meneduhkan. Saat mulai naik motor, ada papan bertuliskan cara berkendara cermin pribadi anda. Orang yang ngebut tentu mencerminkan sosok egois, tidak peduli keselamatan orang lain, dan seenaknya sendiri. Namun ketika berkendara dengan hati-hati dan pelan sesuai dengan kondisi sekitar tentunya termasuk sosok yang peduli. 

Semangat Ikrar 28 di Era 4.0

Oleh Ratnawati, S.Pd, pengajar Sejarah SMA N 1 Kota Malang

Generasi Z yang lahir tahun 1995-2000 ini punya tantangan   menyambut revolusi industri 4.0 dan bonus demografi tahun 2030. Pemuda milenial sangat gencar memanfaatkan teknologi dan mengikuti arus digital. Bonus demografi  2030 ditandai dengan peningkatan pertumbuhan penduduk usia produktif (15-64 tahun). Untuk memasuki sekaligus beradaptasi dengan kedua fenomena di atas tidaklah mudah.    
Pemuda  milenial tidak hanya mendapatkan data dan informasi, tapi mereka juga harus punya kemampuan mengolah dan menyerap informasi. Era revolusi industri 4.0 atau generasi keempat tidak hanya menjadi beban pemerintah, tetapi semua elemen bangsa, khususnya para pemuda guna menyokong  kesuksesan  revolusi industri 4.0. Oleh karena itu, pemuda  sebagai generasi penerus harus dipersiapkan  sebaik mungkin untuk dapat menjadi agen perubahan , aktor utama yang handal  dalam pembangunan nasional, pemuda  yang berdaya saing global, sekaligus entrepreneur yang berwawasan kebangsaan.