Akademis Menahkodai KPK

Oleh Abdul Wahid
Pengajar Progam Pascasarjana Universitas Islam Malang
dan pengurus AP-HTN/HAN


Tim seleksi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah terbentuk. Perdebatan soal kualita sosok yang mengisi Timsel KPK marak di masyarakat. Masyarakat takut kalua nantinya Timsel salah pilih pimpinan KPK. Terlepas siapa nanti yang akan memimpin KPK, yang jelas mulai terdengar ide-ide yang diantaranya menjagokan elemen Pendidikan tinggi untuk menjadi nahkoda KPK. Alasannya, akademisi masih lebih steril atau terjaga integritasnya dibandingkan dari jagad lain seperti jagad peradilan yang dinilai publik sudah sekian lama terbelit atmosfir “abu-abu”.
Aparat penegak hukum dari lingkaran karir strukturalistiknya  diasumsikan atau “dipraduga” oleh masyarakat masih lebih banyak penyakitnya dibandingkan kondisi sehatnya, sehingga ijtihad  dalam ranah menemukan sosok kapabel dan bersih untuk memimpin KPK, benar-benar ibarat mencari jarum dalam lautan.

Sehat dalam Bermedia Sosial


Media sosial kini telah menjelma menjadi ruang utama kehidupan manusia. Tidak jarang manusia lebih banyak membuang waktu di dunia maya ketimbang di dunia nyata. Saat baru bangun tidur, hal pertama yang dilihat adalah layar smartphone. Biasanya sekadar mengecek berbagai notifikasi dari media sosial yang dimiliki. Siang hari hingga menjelang tidur, tidak jarang masih banyak yang terus memainkan smartphonenya untuk mengakses media sosial.

Melawan Pedofil Era Milenea

Oleh Ana Rokhmatussa’diyah,
dosen Fakultas Hukum Unisma,  Penulis Buku,
Ketua Pokja 1 TP PKK Kota Malang dan ketua Club Socialita Malang Raya)


Kriminolog kenamaan JE Sahetapy pernah mengingatkan, bahwa kejahatan itu terjadi dan berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat. Ketika masyarakat berkembang, niscaya kejahatan ikut berkembang. Sekarang dikenal sebagai era milenial, dimana relasi antar individu semakin gampang. Seseorang bisa dengan gampang berhubungan atau saling mempengaruhi dan bahkan “menjinakkan” yang lainnya berkat dukungan kemajuan teknologi komunikasi.
Kemajuan iptek di satu sisi dapat membawa pencerahan, namun di sisi lain dapat menghadirkan era kegelapan (dark era) dalam kehidupan banyak orang. Seseorang, khususnya anak-anak terbawa arus kuat dalam menikmati kehidupan milenialistik.