Gardu Jaga, Garda Melawan Teroris

Kasus peledakan bom di Surabaya ”menyadarkan” kita, bahwa teroris masih bisa bersembunyi dan membangun zona-zona di tengah masyarakat. Mereka ”sekadar” menunjukkan sebagian  kekuatannya, bahwa jaringan dan mobilitasnya  tetap bisa menghadirkan beragam petaka terhadap kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Itu bisa terbaca misalnya, ketika di suatu negara sedang terjadi aksi terorisme atau peledakan bom, beberapa elemen teroris di negara lain seringkali mengamininya kalau kejadian itu produk rancangan terorganisir dan berintelektualitas dari organisasi teroris tertentu seperti ISIS.
Berdasarkan peta radikalisme yang ditunjukkan teroris, maka saat aparat berhasil membongkar zona teroris di satu tempat, maka selain keberhasilannya memang patut diapresiasi, aparat Densus 88 juga wajib mengasah daya bacanya atau meningkatkan profesionalismenya guna membedah atau memutus mata rantainya hingga ke akar-akarnya.

Berpikir Bijak dalam Bermedia Sosial

Pesatnya kemajuan teknologi, yang tidak diimbangi dengan mendalaman ilmu dan pengertian diri, serta ilmu agama, cepat atau lambat bisa membawa malapetaka tersendiri di tengah peradaban umat manusia. Kalimat inilah ungkapan kegelisahan sebagai penulis.
Hadirnya teknologi yang begitu pesat saat ini telah banyak merubah tatanan kehidupan. Baik yang di aplikasikan secara positif maupun negatif. Hal tersebut bisa terindikasi dari segala bentuk pola pikir berlebihan bagi warganet Indonesia dalam melihat dan menanggapi isu dan topik tertentu.
Semua tergantung setiap individu, Namun, kasus warganet Indonesia mengatakan bahwa banalitas itu adalah kunci. Tentunya pola pikir berlebihan lebih mempersoalkan masalah mendasar seperti halnya privasi, ideologi, dan harga diri yang menjadi konsumsi publik.

Aroma Segar Literasi di Indonesia

Narasi dalam social media juga media mainstream yang lain telah menceritakan bahwa Indonesia saat ini berada dibatas ketidak wajaran dalam dunia literasi. Kita dianggap sebagai bangsa yang memiliki budaya baca yang sangat lemah, budaya literasi kita sangat rendah. Terlebih ada Penelitian seperti Programme for International Student Assessment (PISA) yang mengatakan bahwa dari 65 negera, Indonesia telah menempati urutan ke dua terbawah dan Vietnam justru menempati urutan ke-20 besar.
Pada penelitian yang sama, PISA juga menempatkan posisi membaca siswa Indonesia di urutan ke 57 dari 65 negara yang diteliti. Tak ada satu siswa pun di Indonesia yang meraih nilai literasi ditingkat kelima, hanya 0,4 persen siswa yang memiliki kemampuan literasi tingkat empat. Selebihnya di bawah tingkat tiga, bahkan di bawah tingkat satu.