Ketika Agama Jadi Lelucon

Oleh SUGENG WINARNO
Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP
Universitas Muhammadiyah Malang


    Dua pemain Stand Up Comedy (SUC) tersandung masalah. Joshua Suherman dan Ge Pamungkas dilaporkan Ketua Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) Rahmat Himran ke Badan Reserse Kriminal Polri pada Selasa (9/1). Ada kalimat  dari dua pemain SUC (komika) itu yang diduga mengolok-olok dan menyudutkan agama Islam. Agama sebagai sesuatu yang sakral dan sensitif telah diduga dijadikan materi lelucon.
    Video kedua komika ini telah viral di dunia maya. Tidak sedikit netizen yang  menyesalkan penampilan kedua public figur ini. Dalam video ini Joshua membanding-bandingkan penyanyi Anisa Cherrybelle dengan Cherly Cherrybelle. Joshua mengatakan “dan yang gue bingung, Cherly ini sebagai leader namun ia gagal memanfaatkan kepemimpinannya untuk mendulang popularitas untuk dirinya sendiri. Itu terbukti zaman dulu, semua mata lelaki, tertuju pada Annisa, Annisa, Annisa, padahal skill-nya Ani ya tipis-tipis, dance tipis-tipis, cantik relatif, gue mikir, kenapa Annisa lebih unggul dari Cherly, makanya Che, Islam. Karena di Indonesia ini, ada satu hal yang tak bisa dikalahkan dengan bakat sebesar apapun, mayoritas-mayoritas."
    Sementara itu, dalam sebuah penampilan di panggung SUC, Ge Pamungkas mengatakan bahwa “Twitter sekarang (isinya) sudah politik, agama, politik, agama, sudah engga asik lagi. Nih, dulu nih Jakarta banjir, apa coba netizen-netizen itu? Wih, Jakarta banjir. Ini gara-gara **** ini. Ini adalah azab kita punya gubernur.
Ucapan Ge ini langsung disambung gelak tawa penonton dalam acara tersebut.
Nih, potong kuping gue. Nih, sekarang Jakarta banjir, beda omongannya. Wah, ini adalah cobaan dari Allah SWT. Ini cobaan. Sesungguhnya Allah akan memberikan cobaan kepada orang yang Dia cintai. Cintai apaan? Itu ada genangan, cobaan. Stres banget gue.”

Humor itu Serius

    Siapa bilang humor itu tidak serius. Humor dalam segala genrenya memang berakhir dengan tawa. Tertawa yang dipanen dari sebuah aksi humor itu justru berasal dari sesuatu yang super serius. Apalagi humor dalam SUC yang biasa dikenal dengan humor cerdas. Humor yang perlu berfikir keras untuk menemukan kelucuannya. Komedi yang dihasilkan dari sebuah proses penciptaan humor yang tertata dan terencana dengan serius.    
    Seorang tokoh humor Indonesia, Arwah Setiawan menegaskan bahwa humor itu sesuatu yang serius. Maka jangan main-main dengan humor. Efek yang ditimbulkan dari sebuah humor juga bisa sangat dahsyat. Pesan kritik atau pesan apapun yang diusung lewat humor akan lebih bisa diterima karena balutan humor yang menyertai dalam pesan kritik itu. Melalui humor menjadikan pihak yang terkena sasaran tetap tersenyum walaupun kritik tertuju kepadanya.
    Sesuai teorinya, SUC dilakukan dengan tahapan yang serius. Semua direncanakan dan ditulis dengan matang. Struktur munculnya kelucuan melalui tahap membangun set up yang berakhir dengan sebuah punchline yakni puncak kelucuan yang diharapkan. Dalam SUC juga dikenal dengan beberapa teknik seperti callback, rule of three, roasting, dan lain-lain.
    Dalam kasus penampilan Joshua, melihat dari prosesnya, materi lelucon Joshua ini tentu melalui proses yang serius. Dalam sebuah materi SUC, lelucon itu muncul biasanya melalui tahapan penulisan dan latihan yang serius. Artinya sebuah materi humor idealnya melalui pertimbangan yang matang. Bahkan beberapa komika harus mencobakan materi SUC-nya dalam panggung uji coba materi yang biasa di sebut open mic.
    Jadi seorang komika sebelum tampil tentu sudah mempersiapkan materinya dengan matang. Sepertinya kecil kemungkinan materi lawakan yang tak dirancang sebelumnya. Kelucuan tidak datang secara tiba-tiba, walaupun ada salah satu teknik melucu yang memanfaatkan spontanitas yang melibatkan penonton. Tetapi untuk bahan lucu yang akan ditampilkan sudah pasti disiapkan dan diuji atau dilatih sebelumnya.


Stop Humor SARA
    Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA) memang menjadi sesuatu yang sensitif di negeri ini. Siapapun orangnya harus berhati-hati ketika berbicara atau menulis terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan SARA ini. Walaupun itu lewat humor, materi yang sensitif ini jangan coba-coba dibuat bahan lelucon. Kalau itu dilakukan jangan-jangan justru bukan tawa yang di dapat tetapi justru akan menimbulkan permasalahan serius.
    Ramon Papana (2012) dalam bukunya yang berjudul “Kitab SUCI, Stand Up Comedy Indonesia” menyebutkan bahwa salah satu yang menjadi pantangan dijadikan materi SUC adalah persoalan SARA. Persoalan ini bukan berati tidak bisa disentuh, tetapi membawakan materi terkait hal ini harus hati-hati. Harus difikirkan dengan seksama, jangan-jangan akan timbul salah penafsiran atau justru dinilai sebagai sebuah penghinaan.
    Membawakan materi agama dalam bingkai humor memang sudah sering kita lihat terutama di layar televisi. Tidak jarang para da’i yang meramu materi dakwahnya dengan humor. Dalam kajian-kajian publik soal keberagamaan, seringkali agama dikemas sedemikian rupa, lalu menjadi bahan tertawaan orang banyak. Alangkah keringnya, jika dakwah keagamaan tak dibumbui candaan atau humor yang menghibur banyak orang, bisa-bisa dakwah tak lagi laku di tengah masyarakat.
    Memang sulit menilai, sejauh manakah persepsi orang tentang sebuah pelecehan agama atau mengandung unsur SARA. Apapun argumennya, yang jelas melalui penampilan SUC Joshua dan Ge Pamungkas telah menimbulkan keresahan. Sebuah penampilan melucu yang berangkat dari sebuah keresahan yang dirasakan dan disuarakan pelakunya kini dari lelucon itu justru menimbulkan keresahan baru.
    Humor terbukti jadi media kritik yang jitu karena pihak yang dikritik menerima pesan itu sambil tersipu. Humor yang sehat dan bermutu tentu tidak bikin orang menggerutu. Mari menghibur dengan berhumor yang sehat. (*)

Menusantarakan Kedermawanan Sosial

 
Ketika angka kemiskinan, pengangguran, dan berbagai jenis kesulitan ekonomi masih menjadi penyakit sosial, maka yang  diharapkan bisa menjawab problem ketidakberdayaan masyarakat itu, adalah pilar-pilar sosial yang mempunyai kemampuan ekonomi istimewa.  Kemampuan ini bisa digunakan untuk mewujudkan konstruksi sosial yang mengawinkan dirinya dengan kelompok masyarakat miskin atau komunitas  tidak berdaya (empowerless).Apa cara demikian itu memang akan mampu mewujudkan konstruksi sosial harmonis dan inklusif?  Sebagai bagian dari cara elegan, tentulah akan berdampak positip dalam mendisain dan bahkan mengonstruksi kehidupan masyarakat menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Pertanyaan lainnya, mampukah kedahsyatan dampak sosial yang diniscayakan menyulut terjadinya chaos, kriminalis, dan booming pola-pola destruktif di tengah masyarakat, dapat dicegah dengan pola mengawinkan komunitas elit dan ’wong alit”? 

Kelestarian Lingkungan dan Risikonya

Oleh Ibrahim, Rimbawan Universitas Muhammadiyah Malang.

Beberapa hari yang lalu warga Kota Batu dibuat terkejut dengan perubahan fisik air  sungai Brantas, yaitu danya buih yang berada di sepanjang aliran sungai Brantas (Malang Post 5/1). Air sungai yang biasanya berwarna coklat, pada waktu itu dipenuhi oleh buih putih. Buih putih seperti gumpalan salju itu juga terlihat di belakang Taman Rekreasi Sengkaling dan di depan Universitas Muhammadiyah Malang. Masyarakat yang dekat dengan sungai dan mempunyai aktifitas di sungai kahwatir akan terjadinya pencemaran pada sungai. Ternyata buih tersebut berasal dari salah satu rumah pengelolaan sampah di Kelurahan Dadaprejo.
Buih putih yang mengalir tersebut ditengarai dari limbah pencucian sampah, belum pasti bahan apa yang digunakan untuk mencuci sampah plastik tersebut. Pembuangan limbah ke sungai merupakan tindakan yang perlu diperhatikan sebagai kepedulian kita terhadap lingkungan. Jika tidak ditindaklanjuti maka akan berdampak pada pencemaran air seperti yang terjadi pada sungai Citarum di Jawa Barat.