Pemilu Yang Menggebirakan


Oleh Sugeng Winarno
Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMM

Pemilihan umum telah memanggil kita, seluruh rakyat menyambut gembira.

Potongan syair lagu pemilu yang sangat populer pada zaman itu kiranya masih relevan untuk melihat pelaksanaan pemilu presiden (pilpres) dan pemilu legislatif (pileg) tahun ini. Rakyat akan memilih calon pemimpin Indonesia untuk lima tahun ke depan. Pemilu merupakan perwujudan pesta demokrasi, maka tak berlebihan bila semua rakyat perlu menyambutnya dengan gembira.

Sosok Negarawan yang Dinanti

Oleh Mega Susanti, mahasiswa Jurusan Pendidikan IPA Universitas Negeri Malang

Semakin dekat dengan perubahan, semakin dekat dengan kemenangan. Penggalan kalimat tersebut bukan hanya ditujukan atas perayaan hari Raya Idul Fitri setiap tanggal 1 Syawal oleh kaum muslim. Walaupun esensinya sebagai momentum kemenangan dan disertai dengan semangat perubahan. Sepenggal kalimat di atas, dapat ditujukan pula untuk menggambarkan kondisi saat ini. Bangsa Indonesia akan menyambut hari bersejarah, yakni pemilihan pemimpin bangsa yang akan lahir dari suara rakyat.
Pemilihan presiden dan wakil presiden tinggal menghitung hari. Semangat para pendukung semakin bertambah seiring dengan semakin dekatnya pemilihan presiden dan wakil presiden pada tanggal 17 April 2019 mendatang. Berbagai strategi dilakukan masing-masing pasangan calon untuk menunjukkan performance terbaiknya, salah satunya dalam forum debat yang dilakukan secara continue.

Gara-Gara Dilan



    “Jangan Rindu, Berat. Kamu Nggak akan Kuat. Biar Aku Saja.”
Siapa yang tak ingat dengan gombalannya Dilan? Dari meme-meme receh yang viral di dunia maya sampai yang statusnya mahasiswa di dunia nyatapun kena imbasnya. Apa-apa sedikit berat, apa-apa sedikit berat. Mantra rindu ramuan Dilan sukses masuk ke alam bawah sadar para pemuda. Setiap hari diucap, setiap hari diulang.
Lebih jauh lagi mantra-mantra tadi dipelesetkan dengan guyonan “Jangan SBMPTN berat, mending ternak lele bareng aku aja.”,“Jangan ngerjain skripsi berat. Biar aku saja.” dan guyonan-guyonan lain yang intisarinya sesuatu yang berat biar dikerjakan oleh seorang Dilan saja.
Gayung bersambut, pihak Kepolisian juga membuat meme senada dengan headline “DI (ti) LAN (g)” untuk mengedukasi masyarakat agar tidak mengikuti jejak Dilan yang melanggar aturan berkendara. Dari tidak mengenakan helm (melanggar pasal 291 UU No 22 Tahun 2009) dan ketidaklengkapan kendaraan motor Dilan tanpa kaca spion (melanggar pasal 48 ayat 2 UU No 22 tahun 2009). Apa kabar jikalau ada masyarakat yang melanggar peraturan nanti mengeluarkan dalil “Lah Dilan yang tidak membawa helm saja tidak ditilang Pak, kok saya ditilang?”
Antusiasme pemuda dengan film ini terbukti, menginjak hari ke sembilan penonton Dilan 1991 mencapai 4.185.000 orang (sumber: Max Pictures). Pemuda, yang semestinya menjadi garda terdepan untuk membangun Indonesia agar lebih baik lagi, nihil wujudnya. Bukankah negeri kita sedang tidak baik-baik saja? Utang negara yang kian menumpuk, krisis moral, kemiskinan, korupsi, hukum yang bisa dijual beli, minat baca rendah, kualitas pendidikan di bawah rata-rata dan sekelumit kasus lain yang tidak ada habisnya. Saat ini pemudanya malah leyeh-leyeh, menye-menye dan disibukkan oleh hal-hal yang tidak penting.
Anehnya mereka para intelektual tidak pernah merasa bermasalah dengan konten-konten yang disuguhkan dalam Film Dilan 1991. Bahkan ikut menikmati dan mengamini isi film tersebut. Padahal konten yang dikemas dengan apik ini sama sekali tidak menyuguhkan edukasi yang baik di kalangan pemuda yang tengah krisis moral dewasa ini. Sebab isi kontennya sebagian besar adalah tawuran, mbolos sekolah, cita-cita remeh yang tak berujung. Kalau kiblatnya pemuda Indonesia seperti ini gambarannya, ke depan mau jadi apa?

Bapak Proklamator kita, Ir. Soekarno berpesan: “Kalau pemuda sudah berumur 21-22 tahun sama sekali tidak berjuang, tak bercita-cita, tak bergiat untuk tanah air dan bangsa, pemuda begini baiknya digunduli saja kepalanya.” Lah ini, pemuda hobinya mbolos dan tawuran cita-citanya hanya sekadar menikah dengan Milea. Tidak adakah cita-cita lain yang masih bisa diusahakan di usia emas kita ini?
Saking pentingnya kedudukan pemuda, dalam hadispun juga disebutkan bahwa “Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu).” (HR. At-Tirmidzi)
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu dalam Kitabnya Majmu’ Fatawa Bin Baz berkata: “Para pemuda pada setiap umat manapun, mereka adalah tulang punggung yang membentuk unsur pergerakan dan dinamisasi. Pemuda mempunyai kekuatan yang produktif, kontribusi yang terus menerus. Tidak akan bangkit suatu umat umumnya kecuali ada di pundak [ada kepedulian dan sumbangsih] para pemuda yang punya kepedulian dan semangat menggelora.”
Hal senada juga disampaikan oleh Imam Syafi’i Rahimahullah kehidupan pemuda demi Allah adalah dengan mencari ilmu dan bertaqwa, bila keduanya tak mewujud, maka tak ada yang menandai keberadaannya.
    Seharusnya sosok pemuda itu cerdas, menjadi rujukan bagi adik-adiknya dan juga masyarakat. Peka terhadap kondisi lingkungan, sehingga pikirannya tercurah untuk mencarikan solusi hakiki atas masalah yang muncul. Tak lupa juga alamiahnya seorang pemuda memiliki visi akherat, sehingga setiap jengkal langkahnya tidak hanya memberikan kebermanfaatan bagi dunia, tapi tercatat juga sebagai pahala.
Pemuda yang bervisi akherat, tentu ketika mencetuskan gagasan perubahan tak akan menghasilkan perubahan semu semata. Seperti Ilmuwan Islam pada masa Kekhilafahan misalnya, mereka adalah pemuda-pemuda bervisi akherat yang menyumbang peradaban dunia.
Ibnu Sina dengan jutaan karyanya menjadi rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad lamanya. Begitu juga dengan pemudinya Maryam Al Astrolab, muslimah pertama pembuat cikal alat transportasi dan komunikasi untuk dunia modern. Astrolab merupakan nenek moyang GPS yang memudahkan perjalanan dan aktivitas kita saat ini. Astrolab membantu penentuan waktu salat yang ditentukan secara astronomis dan membantu menemukan arah ke Makkah (kiblat). Para pelaut zaman dahulu menggunakan Astrolab untuk menentukan arah. Astrolab jadi alat navigasi yang digunakan untuk mengukur ketinggian selestial berupa tinggi bintang, planet atau benda langit lainnya di atas cakrawala.
Tak berhenti sampai di situ, ada Al Khawarizmi. Matematikawan muslim yang mengabdikan diri sebagai dosen di sekolah kehormatan yang terletak di Baghdad. Beliau adalah penemu angka mulai dari nol sampai sepuluh. Apa kabar dunia per-coding-an saat ini seandainya tidak ada angka nol yang ditemukan oleh Al Khawarizmi?
Atau sosok Muhammad Al Fatih, ketika menginjak usia dua puluh satu tahun berhasil menguasai lebih dari enam Bahasa dan sukses menaklukkan Konstantinopel. Beliau adalah sosok pemimpin yang cerdas. Kecerdasan Al-Fatih ini terlihat jelas dari pemikirannya yang cemerlang dalam upayanya membebaskan kota Konstantinopel. Al-Fatih memindahkan kapal-kapal dari pangkalannya di Baskatasy ke Tanduk Emas dengan cara menariknya melalui jalan darat yang ada di antara dua pelabuhan, sebagai usaha menjauhkan kapal-kapal itu dari Galata karena khawatir mendapat serangan dari pasukan Genova.
Jalan darat yang dilaluinya bukanlah tanah yang datar, namun berupa bebukitan. Melihat kondisi demikian, Al-Fātiḥ berusaha meratakan tanah hanya dalam hitungan jam. Ia kemudian juga mendatangkan papan dari kayu yang diberi minyak dan lemak. Setelah itu papan-papan tadi ia letakan di atas tanah yang sudah rata, yang memungkinkan kapal-kapal pasukannya mudah untuk ditarik dan berjalan.
    Kini kita sama-sama melihat, langit-langit sejarah seperti periuk yang dibakar berpuluh-puluh tahun. Hitam kelam. Bangkitlah kawan! Sejarah sedang menunggu kita. Sudah banyak manusia menanti bintang baru untuk memberikan arah bagi penjelajah yang tersesat dan pelaut yang terjebak gelombang badai. Bintang-bintang seperti Ibnu Sina, Maryam Al Astrolab, Al Khawarizmi, Muhammad Al Fatih sudah pernah membuat langit sejarah itu bersinar. Kini giliran kita untuk menyinari langit sejarah itu!

Oleh: Putri Hanifah (Mahasiswi Jurusan Sastra Arab Universitas Negeri Malang)