Kontribusi Mahasiswa dalam Mencerdaskan Bangsa

Oleh Hilmia Wardani
Pengajar di Tazkia IIBS Malang dan Pemerhati Sosial-Bahasa

Dari tahun ke tahun selalu muncul aksi heroik yang dilakukan mahasiswa sebagai upaya untuk merestorasi kehidupan bangsa. Sejumlah demonstrasi dan aksi turun ke jalan menjadi langkah ampuh untuk mengecam kebijakan yang tidak memihak rakyat kecil. Tidak berlebihan jika mereka dijuluki agent of change atas kontribusinya tersebut. Namun, akankan peran mahasiswa hanya sebatas itu seterusnya?
Seiring perkembangan zaman, tuntutan masyakat terhadap kontribusi mahasiswa semakin besar. Mereka ditantang untuk menyingsingkan lengan demi memajukan bangsa di berbagai bidang, khususnya pendidikan. Mengapa? Sebagai kalangan akademisi, sesungguhnya mereka memikul tanggung jawab untuk melaksanakan amanat pembukaan UUD 1945 alinea 4 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Manusia Baru Pasca Ramadan


RAMADAN telah usai, bulan syawal yang artinya peningkatan telah menyapa kita. Pasca Ramadan seharusnya tidak boleh dilewatkan begitu saja karena sesungguhnya ia bukan akhir dari aktivitas rutin tahunan. Produk Ramadan tidak hanya pada saat menjalani  aktivitas ibadah di bulan suci ini, jauh dari itu kita perlu memikirkan bentuk-bentuk perubahan nilai, sikap dan perilaku sosial, bahkan, perubahan kelembagaan (institution) sosial pasca Ramadan karena  “tindaklanjut” merupakan kehidupan sosial yang tidak kalah penting.

Lebaran dan Mentalitas Pengemis

Oleh Nurudin, Dosen dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Idul Fitri punya makna yang baik karena bisa menyambung silaturahmi antar sanak keluarga dan handai taulan. Namun demikian, Idul Fitri tanpa sadar mengajarkan pada anak-anak bermental pengemis. Bukan menjadi mengemis langsung seperti kebanyakan mereka yang meminta-minta di jalan-jalan, tetapi mental pengemis.
Saat pulang kampung, seorang teman pernah dengan bangganya mengatakan pada anak-anaknya, “Ayo saatnya kerja anak-anak”. Anak-anaknya pun sudah paham. Mereka harus berbaris antri untuk bersalaman dengan tuan rumah yang dikunjungi. Tentu saja, saat salaman mereka berharap mendapatkan uang baru, “angpao” atau sebutan lain.