Pilpres 2019, Mahasiswa Bisa Apa?

Oleh Andi Akbar Tanjung,
instruktur Bahasa di Language Center – Universitas Muhammadiyah Malang)

Tanggal 17 April mendatang pesta demokrasi terbesar di Indonesia akan dilaksanakan, Pilpres 2019. Berbagai upaya dan usaha sudah dilakukan. Tenaga dan materi sedang dikerahkan hingga strategi pamungkaspun siap diluncurkan.Sampai saat ini, tim pemenang dari kedua kubu terus memutar otak untuk memikirkan metode kampanye paling jitu agar bisa menarik pemilih yang sangat beragam mulai dari wong cilik di pedesaan, kalangan milenial di media sosial, masyarakat mapan di kota-kota besar, hingga kaum intelektual (mahasiswa) di kampus dan warung angkringan.
Dengan kerja keras yang telah diusahakan oleh masing-masing tim pemenang dari kedua kubu, sedikit banyak telah memberikan dampak pergeseran jumlah pemilih.

Kartini Simbol Emansipasi

Oleh Miftakhul Jannah
Guru Bahasa Indonesia  SMP Islam Sabilillah Malang


Hari Kartini, muncul dalam sejarah Indonesia berkat perjuangan R.A. Kartini yang memperjuangkan hak-hak wanita. Pada zaman dulu memang posisi wanita kurang dipandang, terutama dalam dunia pekerjaan. Wanita dianggap sosok yang lemah dan hanya mampu berdiam diri di rumah, memasak, menyapu, mengurus anak, dan melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya yang tak pernah cukup jika hanya dikerjakan satu jam. Tentunya jam kerja seorang wanita sebagai ibu rumah tangga tidak ada liburnya dan tak terbatas waktunya. Pekerjaan wanita sebagai ibu rumah tangga dilakukan seumur hidupnya bahkan ketika mereka sakit masih mencoba kuat melakukan semua tugasnya tanpa keluh kesah.

Survei Politik, Politik Survei

Oleh Sugeng Winarno,
Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMM

Awalnya survei politik menjunjung tinggi nilai-nilai akademis. Sekarang beberapa lembaga survei telah terseret pada arus bisnis. Alhasil, beberapa lembaga survei tidak bisa dipercaya karena hasil surveinya lebih untuk memenuhi keinginan penyandang dana. Lembaga survei politik yang semula sebagai sarana pendidikan politik kini justru digunakan untuk mendukung praktik politik kelompok tertentu. Beberapa lembaga survei turut bermain politik praktis.
    Semakin dekat hari pencoblosan, perang survei politik semakin sengit. Sejalan dengan hal itu, penolakan terhadap beberapa hasil lembaga survei juga terus terjadi. Penolakan masyarakat tak saja pada lembaga survei yang abal-abal, namun beberapa lembaga survei yang selama ini dikenal kredibel dan netral juga diragukan sebagian masyarakat.