Mengikis Pesimisme Masyarakat Terhadap Pemilu

Oleh Filianti, mahasiswi Jurusan Manajemen  Universitas Negeri Malang

Pada 2019, Indonesia disibukkan dengan berbagai hal. Salah satu kesibukan tersebut adalah persiapan pelaksanaan pemilu (pemilihan umum) serentak pada 17 April 2019. Pada pemilu tersebut untuk kali pertama dalam sejarah, masyarakat Indonesia akan memilih DPR-RI, DPD, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota serta memilih Presiden dan Wakil Presiden dalam satu waktu yang bersamaan.
Hingga kini Indonesia telah melakukan beberapa kali agenda pemilu. Dari pelaksanaan tersebut terdapat berbagai fakta yang menarik. Fakta yang dimaksud seperti semakin menurunnya antusiasme masyarakat dalam menentukan pilihan. Selain itu juga banyak ditemukan berbagai kecurangan, baik yang dilakukan oleh oknum penyelenggara, peserta pemilu hingga simpatisan peserta pemilu.

Militansi Perempuan 2019

Oleh Ana Rokhmatussa’diyah
Dosen Fakultas Hukum Unisma Penulis Buku,
Ketua Pokja 1 TP PKK Kota Malang dan Ketua Club Sosialita Malang Raya


Membaca perempuan Indonesia tahun 2019, logis jika setiap elemen bangsa, khususnya kaum perempuan untuk  banyak bertanya, bagaimana kelayakan pendidikan perempuan negeri ini? sudah egalitariankah pendidikan perempuan dengan kaum laki-laki?  Kerugian macam apa yang akan ditanggung atau membebani bangsa ini jika pendidikan perempuan masih tertinggal atau terperosok dalam ketidakberdayaan (empowerless) atau ketermarjinalisasian?
Banyak pertanyaan seperti itu yang ditujukan pada perempuan negeri ini. Secara umum,

Lawan Sengkuni Penebar Hoax

Oleh  SUGENG WINARNO,
Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP
Universitas Muhammadiyah Malang


    Berita bohong (hoax) kembali bikin geger. Kabar bohong terkait 7 kontainer kertas suara pemilu yang tercoblos bisa menciderai pelaksanaan pemilihan presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) mendatang. Produksi dan distribusi hoax terus bermunculan jelang coblosan 17 April tahun ini. Ulah para pembuat hoax ini harus dilawan oleh semua pihak. Masyarakat juga harus bisa membentengi diri kari terpaan hoax yang semakin tak terkendali.
    Dalam pewayangan, ada tokoh bernama Sengkuni. Sengkuni termasuk dalam tokoh bertabiat jahat. Sengkuni masuk dalam tokoh antagonis dalam cerita wayang Mahabarata.