Tokoh Idola Berperan Cegah Narkoba

Oleh: Nova Enggar Fajarianto
Mahasiswa PKN STAN, Kementerian Keuangan


Indonesia adalah negara yang besar. Di mana keberhasilannya ditentukan oleh tangan para generasi muda. Negara yang besar, tidak lepas dari permasalahan yang besar pula. Karena semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpanya. Itulah yang terjadi di negara kita tercinta. Di tengah-tengah pembangunan nasional yang megah, kita diingatkan akan sebuah ‘PR’ bersama. Sebuah fenomena sosial yang ramai dibicarakan sebagai penyebab bobroknya moral bangsa. Sebut saja narkoba. Narkoba merupakan obat-obatan yang akan bermanfaat jika digunakan dalam hal kesehatan. Namun akan sangat berbahaya jika dikonsumsi secara illegal. Peredaran dan dampak narkoba saat ini sangat meresahkan.

Bijak Gunakan Smartphone dengan Kindle

Margareth Alfania Fidela Dhiru
(Mahasiswa London School of Public Relations, Jakarta)


Tujuh tahun lalu, ketika masih duduk di bangku sekolah menengah atas merupakan masa yang paling indah bagi saya walaupun tanpa kehadiran smartphone. Saya sering menghabiskan waktu di Perpustakaan Umum kota Malang untuk membaca buku atau sekadar bertukar pikiran dengan teman. Yang saya lihat saat ini sungguh berbeda. Seringkali saya melihat remaja masa kini cenderung acuh dengan lingkungan sekitar dan lebih mementingkan smartphone yang mereka miliki. Adik saya misalnya, dia lebih senang menggunakan smartphone dan mencari channel hiburan yang menurut saya tidak mendidik. Dia tidak pernah rewel membeli buku, melainkan rewel meminta kuota data internet. Kuota tersebut tidak digunakan untuk membaca info-info menarik tetapi justru digunakan untuk bermain game online, memposting foto di media sosial, melihat foto-foto artis atau melihat video hiburan yang kurang mendidik. Kebiasaan tersebut membuat minat membaca adik saya kian menurun dan susah untuk berpikir kritis sehingga prestasinya di sekolah semakin menurun pula.

Jokowi Butuh Banyak Negarawan

Oleh: Abdul Wahid
Pengajar Program Pascasarjana Universitas Islam Malang
dan pengurus AP-HTN/HAN

Menyaksikan sikap negarawan Prabowo Subianto saat  berangkulan dengan Joko Widodo, terasa ada suatu kerinduan publik, bagaimana jika semua elemen politik yang semula berbeda jalan atau berdiri di ranah friksi-friksi, belajar menerima yang berbeda atau menunjukkan dirinya sebagai negarawan.
Atmosfir damai dan hidup rukun antar kelompok yang berbeda merupakan atmosfir yang diidealisasikan harus membumi di negeri ini. Sehingga setiap elemen bangsa tidak kehabisan banyak enerji untuk melanjutkan pekerjaan dan menciptakan masa depannya.
Atmosfir di negara ini memang harus hidup progresif. Progresifitas hanya bisa diwujudkan oleh subyek bangsa yang berjiwa negarawan. Negarawan bukan hanya harus lahir dari kelompok pemenang pilpres, tapi yang kalah pun harus menyemaikan jiwa kenegarawanannya sebagai ”harga mati”.