Fenomena “Dildo” dan Penggiringan Opini Pemilih Milenial

Oleh Muh. Khusni Tamrin
Mahasiswa Fakultas Syariah UIN Maliki Malang
Sekretaris Bidang Organisasi PC IMM Malang Raya


Dewasa ini, timeline media sosial kerapkali dihiasi dengan viralnya postingan tentang kampanye Dildo yang sedang marak. Dildo yang merupakan singkatan dari Nurhadi-Aldo ini telah banyak menarik perhatian berjuta-juta pasang mata di seantero jagat maya. Lucu dan menggelitik adalah kesan pertama ketika postingan tersebut muncul di timeline media sosial. Betapa tidak, ditengah panasnya konstalasi politik yang semakin hari semakin membuat miris, Dildo hadir sebagai penghangat dan mencairkan suasana.

KEK Singosari dan Tantangan Infrastruktur Pariwisata Malang Raya

Oleh  Sintong Arfiyansyah
Pegawai Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Kementerian Keuangan


Pada tahun 2019, sektor pariwisata diproyeksikan menjadi penghasil devisa terbesar di Indonesia mengungguli migas, batu bara dan minyak sawit. Hal ini merupakan rekflesi dari perkembangan pariwisata Indonesia akhir-akhir ini yang mencapai 22% pada tahun 2017 serta tiga kali lipat lebih besar dibanding pertumbuhan pariwisata dunia. Diperkirakan Pariwisata menyumbang Rp 280 triliun bagi devisa negara, dan menyerap sekitar 13 juta tenaga kerja pada tahun 2019. Kondisi ini menjadi tolak ukur penerapan berbagai desain perkembangan sektor unggulan dalam menggerakkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang perlahan bergerak menuju sektor jasa.

Menguak Kesetaraan Gender Dalam Kinerja Pemerintahan

Oleh Derry Lorenza
Mahasiswa dan Pengurus  PUSPIDA FISIP UB

Salah satu bahasan yang fenomenal dalam debat Capres dan Cawapres putaran pertama adalah masalah kesetaraan gender. Bagi masyarakat yang secara umum menjadi pembelajar pemula, “gender” sungguh mudah diucapkan, namun tidak mudah untuk dipahami. Tentu saja tidak semua tentang gender sulit dipahami. Seperti kata Gayle Rubin (1975) yang tercatat pertama kali memopulerkan konsep kesetaraan gender, yang mendefinisikan gender sebagai social construction and codification of differences between the sexes refers to social relationship between women and men. 
Mudahnya, gender adalah pembedaan peran perempuan dan laki-laki  yang membentuk  konstruksi sosial dan kebudayaan, bukan karena konstruksi yang dibawa sejak lahir.