Meredam Ujaran Kebencian Menjelang Pemilu 2019

Oleh Awang Dharmawan,
dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya


Semakin mendekati waktu kontestasi politik 2019, menunjukkan adanya sikap fanatik yang semakin kuat antar dua kelompok yang berbeda pilihan politik. Dalam ruang demokrasi, memang sudah sewajarnya setiap orang bebas mendukung pilihan politiknya. Tapi menjadi persoalan, ketika masing-masing kelompok terus-menerus saling menyalahkan lawannya yang berbeda pilihan politik. Kegaduhan politik diantara dua kelompok tersebut muncul begitu gamblang khususnya dalam realitas sosial media. Fanatisme yang berlebihan tersebut diungkapkan melalui postingan dalam bentuk ejekan, prasangka negatif, hinaan, pemboikotan, dan ujaran kebencian lainnya. Sikap fanatisme yang demikian tentu saja akhirnya tidak mencerminkan etika berpolitik dalam masyarakat kita.

Indonesia Tanpa Diskriminasi Butuh Sinergi

Oleh Hilmia Wardani,
pengajar di Tazkia IIBS Malang dan Pemerhati Sosial, Bahasa, dan Pendidikan

No one is born hating another person because of the color of his skin, or his background, or his religion... Nelson Mandela
Kata bijak dari Mandela seolah  berbanding terbalik dengan berbagai kasus diskriminasi yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan data yang dilansir oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), ada 101 kasus diskriminasi ras dan etnis yang terjadi pada 2011-2018. Komisioner Pengkajian dan Penelitian Komnas HAM, Mochammad Choirul Anam menjelaskan bahwa kasus tersebut meliputi pembatasan terhadap pelayanan publik, pembubaran ritual adat, diskriminasi atas hak kepemilikan tanah bagi kelompok minoritas, dan akses  ketenagakerjaan yang belum berkeadilan.

Senjakala Kepakaran

Oleh Sugeng Winarno,
Pegiat literasi media, dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMM

    Inilah era dimana kepakaran telah sirna. Ilmu pengetahuan dan teknologi tak lagi didominasi oleh pakar. Para pakar yang dulu menjadi rujukan banyak orang karena ilmu dan keahliannya, kini tinggal kenangan. Siapa saja sekarang bisa jadi pakar. Segala rupa ilmu pengetahuan telah tersaji di internet. Melalui Google, atau search engine (mesin pencari) yang lain, semua orang bisa mencari apa saja. Inilah senjakala kepakaran, karena sang pakar telah tergantikan oleh teknologi internet yang super canggih.
    Tom Nichols, profesor di US Naval War College, dalam bukunya “The Death of Expertise” atau “Matinya Kepakaran” mengatakan bahwa matinya kepakaran menjadi sebuah keniscayaan.