Bersekolah, Apakah berarti Belajar?

Oleh Andi Akbar Tanjung
Pengajar di Language Center– Univ. Muhammadiyah Malang


"Nenek ingin saya memperoleh pendidikan, karenanya ia tidak mengizinkan saya sekolah”

– Margaret Mead–

Pandangan umum masyarakat Indonesia tentang pendidikan hari ini sangatlah sempit. Saat ini, sekolah diidentikkan sebagai satu-satunya tempat untuk belajar. Yang dinamakan belajar adalah bersekolah sehingga jika seorang anak tidak berangkat sekolah berarti dia tidak belajar. Pada akhirnya subtansi belajar menjadi tereduksi. Bahwa belajar hanya terjadi di ruang-ruang kelas pada pukul 7 pagi sampai 12 siang. Selebihnya bukanlah belajar. Padahal makna belajar jauh lebih luas daripada sekedar bersekolah.

Melawan Masifikasi Kemarahan

Oleh: Abdul Wahid
Pengajar pada Program Pascasarjana Universitas Islam Malang
dan pengurus AP-HTN/HAN


Fakta yang sering terbaca, bahwa di tengah masyarakat praktik pengeksploitasi dan pengebiri hak hak orang teraniaya masih gampang ditemui. Mereka dijadikan korban oleh praktik kerakusan seseorang atau sekelompok orang. Ironisnya, kerakusan ini terkadang berbajukan kepentingan agama, sosial, dan umat, padahal realitasnya dominan kepentingan pribadi, golongan, atau interes eksklusif lainnya.
Akibat praktik dehumanisasi atau ”pembodohan” itu, kemudian sering sekali memunculkan letupan atau bahkan ledakan kemarahan dari yang seseorang atau kelompok teraniaya. Inilah yang kemudian distigmatisasikan dengan kemarahan akar rumput.

Vandalisme, Aspirasi yang Salah Kaprah

Oleh Mariano Werenfridus,  
mahasiswa Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Muhammadiyah Malang angkatan 2018.


Hari buruh yang diperingati setiap tanggal 1 Mei, selalu memiliki makna dan pesan yang ingin disampaikan. Berdemonstrasi menjadi satu-satunya cara efektif yang masih digunakan sampai saat ini sebagai sebuah bentuk penyampaian aspirasi. Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengatakan terdapat 10 tuntutan para buruh yang dalam memperingati hari buruh tahun ini antara lain: 1. Hapuskan sistem kerja kontrak, sistem outsourching dan pemagangan, 2. Tolak kebijakan upah murah! Berlakukan upah layak nasional, 3. Tolak PHK, union-busting dan kriminalisasi, 4. Laksanakan hak-hak buruh perempuan dan lindungi buruh-buruh migran Indonesia, 5. Adili dan penjarakan pengusaha nakal, 6. Berlakukan jaminan dan perlindungan sosial, bukan asuransi sokial, 7.