Polemik Etis Pemberitaan Bencana

Pemberitaan bencana alam di media massa jadi polemik di masyarakat. Ada pihak yang menyayangkan liputan media, terutama televisi yang mengeskpos korban terlalu fulgar. Sementara pihak lain menilai dengan memberitakan peristiwa bencana apa adanya tersebut dapat menggugah rasa kemanusiaan masyarakat. Polemik terkait pemberitaan bencana bermuara pada persoalan etika yang harus digunakan media ketika menyampaikan berita bencana.
Sejak kasus tsunami Aceh tahun 2014 silam, pemberitaan bencana masih belum ideal. Beberapa media masih melaporkan peristiwa bencana dengan menonjolkan kesedihan. Tidak jarang pula media memandang bencana sebagai sebuah komoditas yang bisa mendatangkan jumlah penonton (rating) di televisi, oplah bagi media cetak, dan hits di media online. Dalam berita bencana masih tersaji gambar dan konten audio visual yang dramatis yang menguras air mata.

Menanti Pemimpin Peduli Lingkungan

 
Pascaterpilih dan dilantik 24 September 2018, Wali Kota dan Wakil Kota Malang periode 2018-2023  Sutiaji – Sofyan Edi Jarwoko dihadapkan pada banyak tugas berat untuk membangun kota Malang yang berkelanjutan. Bukan saja soal reformasi birokrasi yang harus segera dibenahi pascakorupsi massal eksekutif dan legislatif dalam proses pembahasan RAPBD, namun lebih dari itu ada satu persoalan krusial yang selama ini kerap sengaja diabaikan yakni lingkungan. 

Demokrasi dan Nilai Pancasila

 
Inti Demokrasi Pancasila adalah permusyawaratan seperti yang tercantum dalam sila keempat.  Makna permusyawaratan  adalah pembahasan bersama dengan maksud mencapai keputusan atas penyelesaian masalah; perundingan; perembukan.  Secara etimologis, berarti “Menunjukan kata benda yang diturunkan dari kata kerja “bermusyawarah”. Oleh sebab itu permusyawaratan merupakan kata benda yang mengandung pengertian adanya suatu kerja atau proses di dalamnya dalam bentuk kegiatan bermusyawarah, berunding, atau berembuk”.