Eksistensi Pemuda menghadapi Era Revolusi Industri 4.0

Oleh Yulaika Ranu Sastra,
Mahasiswa Pascasarjana UM dan novelis


    Revolusi Industri 4.0 atau revolusi industri keempat telah menghadang. Era ini ditandai dengan pemanfaatan teknologi digital (mesin), hingga robot untuk mengubah sistem kerja manusia agar lebih otomatis dalam kegiatan manufaktur. Sederhananya, era ini mengedepankan penggunaan digital dan robot daripada tenaga manusia. Namun, kehadirannya justru menimbulkan rasa khawatir dan takut bagi banyak orang, khususnya para pekerja karena pekerjaan mereka akan tergantikan dengan teknologi digital. Teknologi ini lebih praktis dan ekspres sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan pekerjaan, apalagi jika dalam keadaan urgen.

Meredam Ujaran Kebencian Menjelang Pemilu 2019

Oleh Awang Dharmawan,
dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya


Semakin mendekati waktu kontestasi politik 2019, menunjukkan adanya sikap fanatik yang semakin kuat antar dua kelompok yang berbeda pilihan politik. Dalam ruang demokrasi, memang sudah sewajarnya setiap orang bebas mendukung pilihan politiknya. Tapi menjadi persoalan, ketika masing-masing kelompok terus-menerus saling menyalahkan lawannya yang berbeda pilihan politik. Kegaduhan politik diantara dua kelompok tersebut muncul begitu gamblang khususnya dalam realitas sosial media. Fanatisme yang berlebihan tersebut diungkapkan melalui postingan dalam bentuk ejekan, prasangka negatif, hinaan, pemboikotan, dan ujaran kebencian lainnya. Sikap fanatisme yang demikian tentu saja akhirnya tidak mencerminkan etika berpolitik dalam masyarakat kita.

Indonesia Tanpa Diskriminasi Butuh Sinergi

Oleh Hilmia Wardani,
pengajar di Tazkia IIBS Malang dan Pemerhati Sosial, Bahasa, dan Pendidikan

No one is born hating another person because of the color of his skin, or his background, or his religion... Nelson Mandela
Kata bijak dari Mandela seolah  berbanding terbalik dengan berbagai kasus diskriminasi yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan data yang dilansir oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), ada 101 kasus diskriminasi ras dan etnis yang terjadi pada 2011-2018. Komisioner Pengkajian dan Penelitian Komnas HAM, Mochammad Choirul Anam menjelaskan bahwa kasus tersebut meliputi pembatasan terhadap pelayanan publik, pembubaran ritual adat, diskriminasi atas hak kepemilikan tanah bagi kelompok minoritas, dan akses  ketenagakerjaan yang belum berkeadilan.