Mendamba Menteri Usia Muda

Oleh  Fathul Qorib,
Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Malang

Berbicara pemuda mengingatkan kita pada ungkapan presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno; “Beri aku seribu orang tua, niscaya kucabut semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda niscaya kuguncang dunia”. Quote tersebut mampu menggambarkan semangat pemuda yang luar biasa sehingga banyak orang berharap besar terhadapnya. Karena itulah, Presiden ke 7 Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) dalam pemberitaan akhir-akhir ini juga berkeinginan merangkul pemuda untuk menjadi menteri di dalam kabinetnya.
Jika melihat perhelatan politik tanah air, dominasi senior memang sangat terlihat. Sebut saja misalnya; Jokowi (58), Prabowo Subianto (67), Ma’ruf Amin (76), Jusuf Kalla (77), Mahfud MD (62), Wiranto (72), SBY (69), dan Luhut MP (71).

Meruncingkan Potensi Bonus Demografi

Oleh : Sintong Arfiyansyah
Pegawai Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan


Di Era melimpahnya jumlah kaum muda atau bonus demografi ini, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki menjadi kunci utama meningkatkan kemakmuran negeri. Bonus Demografi laksana pedang tajam yang harus digunakan dengan cukup presisi. Ketangguhan Kualitas SDM dapat mengarahkan bonus demografi menjawab tantangan globalisasi. Tetapi sebaliknya apabila tak mampu dimanfaatkan, Bonus Demografi dapat berbalik menyerang dan mengganjal perputaran roda ekonomi serta membatalkan mimpi Indonesia menjadi negara maju dan memiliki ketangguhan ekonomi.

Bukan Presiden Setengah Dewa

Oleh: Sugeng Winarno
Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP

Universitas Muhammadiyah Malang

 
“Wahai presiden kami yang baru, Kamu harus dengar suara ini. Suara yang keluar dari dalam goa, Goa yang penuh lumut kebosanan. Walau hidup adalah permainan, Walau hidup adalah hiburan. Tetapi kami tak mau dipermainkan, Dan kami juga bukan hiburan. Turunkan harga secepatnya, Berikan kami pekerjaan. Pasti kuangkat engkau, Menjadi manusia setengah dewa. Masalah moral masalah akhlak, Biar kami cari sendiri. Urus saja moralmu urus saja akhlakmu, Peraturan yang sehat yang kami mau. Tegakkan hukum setegak-tegaknya, Adil dan tegas tak pandang bulu. Pasti kuangkat engkau, Menjadi manusia setengah dewa.” (Iwan Fals, Manusia Setengah Dewa, 2004).