Politik Kebohongan

Ruang publik politik tanah air akhir-akhir ini dipenuhi dengan narasi elektoral yang tidak bermutu dan mendidik. Ujaran saling menghujat, menghina, menyudutkan menjadi senjata untuk saling mendelegitimasi satu sama lain.

Belajar "Telanjang"

“Animus facit nobilem “, demikian bunyi adagium yang bermakna bahwa dalam hidup ini harus ada semangat melahirkan hal yang mulia”. Setiap orang hidup akan menjadi sia-sia hidup yang dijalaninya jika tidak berusaha melahirkan banyak perbuatan yang bermanfaat.
Adagium itu dapat bermakna filosofis, bahwa manusia itu harus selalu diingatkan atau dikritik supaya tidak sampai kehilangan jiwa kemanusiaannya atau tidak terseret dalam perburuan mengejar berbagai hajat yang menanggalkan perannya sebagai pemimpin di muka bumi (khalifah fil ardl).
Tugas fundamental manusia sebagai khalifah adalah “memproduksi” sebanyak-banyaknya perbuatan mulia.

Chek Kosong Kampanye Pilpres

Jika sejenak kita amati atmosfer dunia maya, terasa cukup riuh dengan tema politik khususnya Pemilihan Umum, Pileg maupun Pilpres. Meski ajang pesta demokrasi tersebut masih enam bulan ke depan, namun porsi tema-tema tersebut di jagad sosial media cukup memakan perhatian. Penggunaan media sosial diyakini cukup efektif. Oleh karena itu, siapapun yang berkepentingan terhadap pemilu 2019, memaksimalkan media sosial tersebut.
Namun fakta yang tersaji, sosmed terasa semakin gaduh. Berita hoax bertebaran, warta kampanye hitam berserakan, informasi kampanye negatif berceceran di lini masa nyaris tanpa jeda. Sosmed yang dirambah pun tidak hanya facebook atau twitter, sosmed  yang lain pun seperti instagram dan Youtube turut massif dirambah.
Hingga kegaduhan tersebut terbitkan bosan, jenuh bahkan muak pada para pengguna sosmed. Dan hal ini dapat menjadi gerbang petaka,