Soal USBN Bocor dan Reorientasi Motivasi Belajar Siswa

Oleh Andi Akbar Tanjung
Instruktur bahasa di Language Center – Universitas Muhammadiyah Malang


“Tujuan pendidikan yaitu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, dan memperhalus perasaan” – Tan Malaka –

Di Minggu sore dengan langit jingga yang sedang menuju senja, seorang anak kelas 3 SMA bernama Fulan sedang membantu ayahnya di ladang yang berada di kaki Gunung Butak – Malang. Selepas bertani seharian, mereka beristirahat sambil bercengkrama tentang pendidikan Fulan.
“Bagaimana sekolahmu nak...?” tanya ayah Fulan setelah menyeruput kopi hitam yang mulai mendingin.
“Alhamdulillah lancar Yah. Insya Allah, minggu depan saya akan USBN dan ini sudah dapat beberapa bocoran soal dari grup chattingan yang saya ikuti bersama teman-teman” jawab Fulan mantap karena optimis akan mendapatkan nilai di USBN nanti.

Eksistensi Pemuda menghadapi Era Revolusi Industri 4.0

Oleh Yulaika Ranu Sastra,
Mahasiswa Pascasarjana UM dan novelis


    Revolusi Industri 4.0 atau revolusi industri keempat telah menghadang. Era ini ditandai dengan pemanfaatan teknologi digital (mesin), hingga robot untuk mengubah sistem kerja manusia agar lebih otomatis dalam kegiatan manufaktur. Sederhananya, era ini mengedepankan penggunaan digital dan robot daripada tenaga manusia. Namun, kehadirannya justru menimbulkan rasa khawatir dan takut bagi banyak orang, khususnya para pekerja karena pekerjaan mereka akan tergantikan dengan teknologi digital. Teknologi ini lebih praktis dan ekspres sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan pekerjaan, apalagi jika dalam keadaan urgen.

Meredam Ujaran Kebencian Menjelang Pemilu 2019

Oleh Awang Dharmawan,
dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya


Semakin mendekati waktu kontestasi politik 2019, menunjukkan adanya sikap fanatik yang semakin kuat antar dua kelompok yang berbeda pilihan politik. Dalam ruang demokrasi, memang sudah sewajarnya setiap orang bebas mendukung pilihan politiknya. Tapi menjadi persoalan, ketika masing-masing kelompok terus-menerus saling menyalahkan lawannya yang berbeda pilihan politik. Kegaduhan politik diantara dua kelompok tersebut muncul begitu gamblang khususnya dalam realitas sosial media. Fanatisme yang berlebihan tersebut diungkapkan melalui postingan dalam bentuk ejekan, prasangka negatif, hinaan, pemboikotan, dan ujaran kebencian lainnya. Sikap fanatisme yang demikian tentu saja akhirnya tidak mencerminkan etika berpolitik dalam masyarakat kita.