magista scarpe da calcio Pancing Nalar Anak, Gunakan Kubus Rubik untuk Belajar Tematik


Pancing Nalar Anak, Gunakan Kubus Rubik untuk Belajar Tematik



MALANG - PARA guru makin gencar mengembangkan media belajar yang inovatif untuk menunjang pembelajaran. Membuat kegiatan belajar mengajar menjadi lebih enjoy menjadi motivasi setiap guru dalam merubah mindset siswa, khususnya pada pelajaran tertentu yang selalu dianggap sulit. Seperti matematika, pelajaran yang jadi momok bagi sebagian besar siswa sampai saat ini. 
Matematika menjadi asik bagi siswa di SDN Kauman 1 Malang melalui kubus tematik. Sebuah kubus dari kardus bekas yang multi fungsi dalam menjelaskan konsep matematika dan IPA, sehingga banyak dinamai siswa sebagai kubus tematik mirip permainan kubus rubik.  Kubus yang membentuk pola ini mudah diotak-atik siswa sehingga tiap belajar tematik mereka cenderung lebih menikmati seperti main rubik. Kubus tematik pun juga memiliki bagian kubus lebih kecil yang dapat dilepas siswa untuk belajar konsep materi di sana.  
“Ya jadi seru dong karena kita belajar sambil muter-muterin kubusnya, bisa dilepas juga. Ada pembahasan ekosistem, ada matematika juga, ya jadi lebih enak belajarnya daripada lihat buku, bosen. Kita juga bisa diskusi sama temen,” tutur Mehadon Noor siswa kelas 6 yang sekaligus ketua kelas kepada Malang Post kemarin.
Dalam prakteknya, guru mendapat tantangan tersendiri untuk memaparkan materi tematik dengan menerangkan konsep visual yang mudah diterima siswa. Mengacu pada penggunaan alat yang mudah, siswa SDN Kauman 1 menjadi lebih bersemangat saat belajar dan tentu saja prestasi siswa melejit hingga 50 persen dibanding belajar tanpa kubus tematik.
Hampir semua pelajaran di SDN Kauman 1 menggunakan alat peraga. Efek belajar menggunakan kubus tematik membuat anak belajar dengan senang. 
“Jika anak belajar tegang ya nggak bisa-bisa. Nalar anak harus dipancing. Untuk guru sudah terkondisi dalam membuat media belajar. Selain itu, juga ada diskusi dalam kelompok mini antara guru kelas enam untuk evaluasi,” ujar Kepala SDN Kauman 1, Dra Anita Rose Maria MPd. 
Menurutnya, Ujian Sekolah Berstandart Nasional (USBN) tahun ini yang memiliki level kognitif lebih tinggi dan soal ujian yang sudah terbentuk dalam uraian. Maka, penggunaan alat peraga mulai dari konsep hingga pemecahan masalah sangat diperlukan, karena digunakan sesuai kebutuhan di pelajaran. 
“Jika bingung dengan pelajaran abstrak maka perlu digunakan alat peraga dan penting untuk melibatkan siswa dalam membuat dan berlaku sebagai alat peraga. Membuat konsep mudah diterima siswa itu tidak gampang harus ada cara lainnya ya lewat kubus tematik ini,” ungkap guru kelas pendesain kubus tematik Sentot Hariyanto SPsi.
Ia melanjutkan, setelah kesuksesannya membuat alat peraga berupa kataka yang berhasil meraih penghargaan media pembelajaran nasional 2014 lalu, rencananya akan kembali mengembangkan media pembelajaran baru untuk materi pecahan yang disusun menggunakan kaleng bekas. Selanjutnya kaleng bekas ini akan dikonsep yang harus sinkron dengan materi. 
“Kesulitan yang mendasar adalah merubah persepsi anak soal pelajaran matematika yang sulit. Kadang matematika langsung diajarkan rumus tanpa konsep berpikir yang benar dan ini yang membuat siswa cenderung bosan,” tutupnya lagi. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :