Gawat, 98 SMA Belum Selesaikan PDSS



MALANG – Kurang satu hari, Pengisian Pangkalan Data Siswa dan Sekolah (PDSS) sebagai salah satu tahap pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) akan berakhir. Sesuai jadwal, Sabtu, (10/2/18), adalah hari terakhir pendataan PDSS. Namun, sebanyak 98 SMK/SMA/MA Swasta yang terdaftar di Kota Malang belum melakukan pengisian data. Di Jatim, jumlahnya sebanyak 1.185 sekolah.
Wakil Rektor I UB, Prof. Dr. Ir. Kusmartono mengatakan, jika sekolah terlambat mengisi data, maka akan merugikan siswa yang memiliki nilai di atas rata-rata. Mengakibatkan kesempatan siswa untuk memperebutkan kuota yang disediakan pada jalur SNMPTN tidak dimanfaatkan oleh sekolah.
“Kami berharap sekolah segera mengisi pangkalan data siswa, supaya siswa tidak dirugikan,” ujar Kusmartono kepada Malang Post, Kamis (8/2).
Seperti diketahui, setiap sekolah mendapatkan jatah kuota berbeda dalam jalur ini. Yakni tergantung dari track record sekolah, nilai rata-rata rapor, dan banyaknya alumni sekolah di PTN yang bersangkutan. Kebijakan tersebut diungkapnya, adalah kebijakan dari pusat yang telah melakukan perangkingan sekolah.
Selain itu, Kusmartono menekankan kepada sekolah supaya melakukan pemetaan terlebih dahulu kepada siswanya. Hal tersebut bertujuan agar siswa tidak salah dan sia-sia memilih jurusan sesuai dengan nilai rata-rata dan kemampuan lulusan.
“Untuk pilihan program studi kami imbau jangan melenceng, karena akan percuma nantinya. Jadi guru, orangtua dan siswa harus tahu prestasi kemampuan dan nilai agar pilihan prodi memiliki peluang besar untuk masuk,” bebernya usai menggelar sosialisasi SNMPTN kepada kepala sekolah dan guru BK di Gedung Serbaguna Widyaloka UB.
Sementara itu, untuk jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) para siswa yang mendaftar dan tidak lulus masih bisa melanjutkan di jalur mandiri. Di mana, kebijakan yang dibuat untuk jalur mandiri, calon mahasiswa harus ikut dalam SBMPTN. Sehingga saat masuk dalam jalur mandiri tinggal memasukkan nilai dari SBMPTN.
“Untuk jalur mandiri siswa boleh pilih PTN lain atau berbeda dengan SBMPTN. Selain itu, jalur mandiri juga dilihat dari penilaian non akademik,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Swasta Kota Malang, Purnomo Adji menagatakan, jika permasalah yang dialami di lapangan adalah sosialisi yang kurang bagi operator yang bertugas memasukkan PDSS.
Sehingga di beberapa sekolah swasta masih dalam tahap pengerjaan. Dengan permasalahan yang dialami di lapangan, ia menjelaskan jika sudah dua kali ini, pihaknya sudah mengadakan pertemuan operator.
“Permasalahannya yang membuat sekolah swasta belum menyelesaikan PDSS karena sosialisasi yang seharunya turut menghadirkan operator. Jadi saat kampus mengadakan sosialisasi tidak hanya kepala sekolah dan guru BK yang diundang. Apalagi masih banyak kepala sekolah maupun guru BK yang masih gaptek. Sehingga saat memberikan penjelasan kepada operator akan kesulitan,” ungkap laki-laki yang akrab disapa Ipung ini. (eri/oci)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :