Aku Maafkan Segala Salah Muridku


 
MALANG - Keheningan tiba-tiba menyeruak ketika M. Leo Zaini mulai membacakan puisi yang dibuat oleh Prof. Dr. Djoko Saryono, M.P yaitu "Obituari Guru Budi". Iringan biola dan gitar menambah syahdu suasana dalam gedung Sasana Budaya, UM, Kamis (8/2) pagi. 
“Maafkan aku guruku. Aku tak berniat bikin onar gempar. Apalagi menjadikan kamu terkapar" adalah bagian dari penggalan puisi yang dibaca oleh Leo di depan ratusan mahasiswa yang terlihat merenungi takdir yang diterima oleh Guru Budi. Alunan biola dan gitar terus dimainkan, pembacaan puisi “Obituri Guru Budi” semakin menjelaskan  kompleksitas peristiwa tersebut. 
“Sehalus syair yang muncul dari situ. Tentu aku memaafkan kamu muridku. Aku selalu mengasihimu, muridku” 
Kalimat yang amat menyejukkan itu membuat ratusan mahasiswa yang hadir dalam peringatan tujuh hari kepergian Guru Budi yang juga alumni UM tersebut tak kuasa menahan haru. Puisi ini menjelaskan bagaimana seorang guru yang akan memafkan segala salah muridnya.
Susasana aksi keprihatianan semakin dalam untuk diresapi. Apalagi dalam puisi tersebut menjelaskan tentang dua sudut pandang antara murid dengan guru, krisis keteladanan yang melanda serta sikap yang harus diperbuat. Di mana kata-kata tersebut dimaknai pada barisan puisi yang berbunyi.
“Bukankan aku guru yang gemilang, Pembawa terpercaya obor terang, Agar kegelapan jiwa insan hilang, Meski dihargai tak seberapa, Meski harus pulang di usia muda.” 
Itulah salah satu aksi yang dipersembahkan UM atas peristiwa tewasnya Ahmad Budi Cahyono yang merupakan guru tidak tetap SMA N 1 Torjun, Desa Jrengik, Kecamatan Jrengik, Kabupaten Sampang, Madura di tangan muridnya sendiri.
Acara sederhana yang diselenggarakan pada tujuh hari Guru Budi meninggal tersebut merupakan deklarasi sikap dari perguruan tinggi yang dulunya menjadi tempat Budi mencari ilmu. Alumni Jurusan Seni Rupa, Fakultas Sastra UM 2009-2013 menjadi contoh bagi dunia pendidikan di Indonesia bahwa ada masalah yang segera harus diselesaikan.
Tidak hanya pemerintah tetapi dari semua pihak, baik guru dan orangtua. Wakil Dekan III Fakultas Sastra UM, Dr. H. Kholisin, M mengatakan bahwa, dalam acara yang dihadiri oleh civitas akademisi UM itu, memiliki harapan besar untuk memberikan penyadaran pada mahasiswa dan semua elemen masyarakat.
Bahwa guru adalah sosok yang harus dihormati karena telah mendidik, membesarkan dan mengajarkan moral kepada genarasi bangsa.
“Dari peristiwa kelam tersebut, kita tidak bisa saling menyalahkan. Tetapi negara maupun kita harus punya sikap mestinya harus punya sikap. Sehingga kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali,” ujar Kholis kepada Malang Post, Kamis (8/2). (eri/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :