Ada Kelas Konsentrasi, Layanan Khusus Bagi Siswa Inklusi

 
SEBAGAI salah satu sekolah penyelenggara pendidikan inklusi, SDN Sumbersari 2 memiliki program khusus bernama Kelas Konsentrasi. Seperti namanya, kelas ini menjadi layanan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) agar lebih fokus sebelum belajar.
Hari masih pagi, jam menunjukkan pukul 06.45. Seluruh siswa SDN Sumbersari 2 dengan tertib masuk ke kelas masing-masing. Sementara 13 siswa inklusi diajak masuk ke Kelas Konsentrasi. Seorang guru terlihat amat telaten menggiring siswanya melalui ragam permainan yang tersedia di sana. Ada mozaik, pewarna dan lain sebagainya. Kegiatan ini rutin dilakukan selama dua jam di awal pelajaran. 
Menurut Kepala SDN Sumbersari 2 Sri Utami, S.Pd M.Pd, setelah guru sukses mengajak siswa konsentrasi, selanjutnya mereka akan bergabung kembali dengan temannya di kelas reguler.
“Hal ini dilakukan untuk pemfokusan siswa sehingga mampu menerima pelajaran lebih baik. Setelah dua jam di kelas konsentrasi, siswa mengikuti pelajaran seperti biasa di kelas bersama teman yang lainnya,” beber Sri Utami.
Kelas konsentrasi merupakan pembelajaran individual yang mempermudah guru pendamping mengevaluasi kemampuan siswa. Program ini dikembangkan ditengarai perilaku siswa inklusi yang tidak stabil dan tergantung mood. Saat siswa inklusi melakukan pembelajaran kreativitas di kelas konsentrasi, maka konsentrasi dan fokus mereka lebih stabil.
Ia melanjutkan, siswa inklusi ini diajak untuk berkreasi sesuai kemampuan mereka bersama dengan GPK dan guru shadow. Siswa inklusi dapat menggambar, mewarna, meronce, dan melakukan kreativitas lain sesuai dengan keinginan mereka. Tak ayal, beragam kreasi juga telah dihasilkan siswa inklusi di ruang sumber.
Ternyata kelas konsentrasi ini ada efeknya, mereka lebih fokus, emosinya tertata, lebih stabil sehingga masuk kelas lebih siap.
“Awalnya program ini mengundang pro-kontra dari wali murid, ada yang sempat protes juga. Berarti anak saya disendirikan?” ujar Bu Ut sapaan akrabnya sambil menirukan protes wali murid.
Tantangan SDN Sumbersari 1 sebagai sekolah inklusi utamanya pada sarana dan prasarana penunjang siswa. Faktor dari keterbatasan sarpras adalah tidak ada biaya khusus bagi sekolah inklusi karena semua tergantung pada bosnas dan bosda saja. Sementara untuk kurikulum siswa inklusi dari pusat memang tidak ada, sehingga guru melakukan penyederhanaan konsep materi.
“Kurikulum siswa inklusi sama dengan siswa regular hanya disederhanakan saja,”imbuh wanita berjilbab itu.
Setelah program berjalan, ternyata banyak yang diperoleh siswa inklusi seperti lebih konsentrasi dan perilaku merekapun tertata. Sehingga wali murid mendukung serta bersinergi bersama sekolah dalam menyuport kreatifitas siswa khususnya bidang non akademik. Untuk itu sekolah juga sering menyelenggarakan event pada setiap peringatan hari besar nasional meliputi lomba antar kelas juga bazar yang tentunya mengikutsertakan siswa inklusi.
“Iya, biasanya siswa inklusi lebih baik dalam hal non akademik. Jadi ya harus disupport dengan beragam event-event yang membuat mereka belajar berani berinteraksi dengan teman-teman yang lain. Antusias mereka tinggi tentu sekolah juga turut mengapresiasi dengan memberikan hadiah. Diharapkan ke depan akan semakin banyak event-event kreatifitas yang mampu mewadahi siswa inklusi untuk lebih berkarya sehingga merekapun termotivasi,” tutup guru yang juga lulusan PLB di Surabaya itu. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :