magista scarpe da calcio Kampung Biogas Sanan, Lahir dari Tangan Para Doktor UB


Kampung Biogas Sanan, Lahir dari Tangan Para Doktor UB


MALANG - Kalau selama ini Sanan dikenal sebagai tempat wisata oleh-oleh keripik tempe, kini ada yang baru di sana. Tepatnya di RT 5 RW 15 Sanan, Kelurahan Purwantoro telah diresmikan wisata baru Kampung Biogas. Atas ide cemerlang dari para Doktor di Kampus Universitas Brawijaya (UB), Kampung Biogas berhasil diwujudkan di sana. peresmian Kampung Biogas ini dilakukan langsung Rektor UB Prof Dr Ir Muhammad Bisri, M.S.
Kepada Malang Post Ketua Program Doktor Mengabdi sekaligus Wakil Rektor IV UB Dr. Ir. Moch. Sasmito Djati, M.S menuturkan, Sanan ternyata memiliki potensi limbah yang bisa dimanfaatkan. Yaitu limbah dari sisa kedelai yang diproduksi menjadi tempe dan airnya yang digunakan untuk makanan sapi. Menariknya, tak banyak yang tahu jika di Sanan terdapat sekitar 600 sapi. Dari situlah, UB melihat ada potensi limbah kotoran sapi yang bisa dimanfaatkan.
“Melalui teknologi biogas inilah kami ingin memanfaatkan limbah kotoran sapi agar tidak terbuang dengan percuma. Sehingga bisa bermanfaat bagi warga untuk memasak. Selain itu, kotoran yang tersimpan dalam digester juga bisa dimanfaatkan untuk pupuk organik,” ujar Sasmito.
Dosen Biologi FMIPA UB ini menjelaskan, dengan letak tempat yang sempit pihaknya akan melakukan berbagai pengembangan teknologi lainnya. Ia berharap akan ada berbagai kampung- kampung yang mencontoh teknologi Biogas ini. “Kami ingin program ini betul-betul bermanfaat di masyarakat. Dari diresmikannya Kampung Biogas bisa jadi inisiator bagi kampung lainnya,” harapnya.
Rektor UB Prof. Dr. Ir. Muhammad Bisri, M.S, mengatakan, berkat inisiatif program “Doktor Mengabdi” dari Dr. Widodo telah banyak manfaat yang telah diberikan UB untuk masyarakat. Program yang dilakukan oleh setidaknya tiga Doktor dan beberapa mahasiswa ini tahun lalu telah menjalankan 72 program di seluruh Indonesia.
“Tahun kemarin program ini dianggarkan sebesar Rp 4 miliar. Dengan persyaratan harus ada di daerah lingkar kampus seperti Kota Malang, Kabupaten Malang dan luar Jawa. Sedang untuk Kampung Biogas Sanan ini kita anggarkan secara internal sebesar Rp 70 juta. Itu masih ada sisa untuk membangun biogas lainnya,” ujar Bisri kepada Malang Post.
Bahkan, diungkapnya, anggaran untuk pengabdian masyarakat juga ada yang dari universitas dan fakultas. Ia merencanakan, dengan melihat kondisi kandang sapi yang tidak tertata rapi akan mendorong Fakultas Teknik untuk perancangan arsitekur.
“Terutama untuk penataan kandang sapi yang kurang layak. Untuk program Doktor Mengabdi, kami akan fokus di sini. Agar ke depannya bisa seperti Glintung Go Green,” tegasnya.
Ia juga berharap, ke depannya melalui program yang difokuskan di Sanan, kampung tersebut akan bersih dan memiliki manfaat maksimal dari pengolahan limbah yang dikembangkan menjadi biogas dan pupuk, serta menjadikan Sanan sebagai sektor pariwisata.
Sementara itu, Lurah Purwantoro Drs. Moch. Hadi M.Ap sangat mengapresiasi program Doktor Mengabdi yang dilaksanakan UB di wilayahnya tersebut. Ia juga ingin ada komitmen dari semua elemen untuk menjaga dan terus mengembangakan inovasi biogas yang ada di Sanan. Sehingga energi yang didapat bisa dimanfaatkan untuk energi listrik mulai penerangan lampu dan untuk memasak.
Sementara ini, ada satu digaster biogas yang telah dimiliki Kampung Biogas Sanan dan telah diuji cobakan untuk dua rumah tangga milik Karyono dan Nanang yang berada di Rt 5 RW 15, Sanan. Uji coba tersebut berupa kompor gas yang digunakan untuk masak sehari-hari dan lampu berbentuk petromak dari gas biogas. (eri/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :