PTS Antusias Sambut Kuliah Online


MALANG – Pertengahan 2018 ini, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) sedang membuat regulasi penyelenggaraan e-learning atau kuliah secara daring (online) yang akan diterbitkan oleh pemerintah. Rencananya peraturan yang akan diterbitkan dalam bentuk peraturan menteri tersebut tentang pelaksanaan kuliah jarak jauh atau online.
Wakil Rektor I (Bidang Akademik) Universitas Widyagama Malang Prof. Dr. Ir. Sukamto, M.S mengatakan, regulasi kuliah secara daring (online) merupakan salah satu peningkatan dan pemerataan kualitas pendidikan di PT. Meskipun begitu, pihaknya tidak akan terburu-buru untuk langsung terjun dalam pembelajaran e-learning.
“Kita tidak terburu-buru dulu, tiga tahun ke depan masih menyiapkan sarana dan prasarana, kurikulum pembelajaran, SDM dosen yang harus tersertifikasi dan manajemennya. Karena jika tidak ditata dengan benar nantinya malah amburadul,” ujar Sukamto kepada Malang Post.
Ia menjelaskan, regulasi pembelajaran online yang masih akan digodok Menristek Dikti tersebut diungkapnya sebagai “gayung bersambut”. Pasalnya UWG memang telah menyiapkan diri sebagai kampus digital pada tahun 2025. Sehingga pihaknya akan menata dengan sungguh-sungguh kuliah secara online tersebut.
Dengan adanya peraturan tersebut, juga dimungkinkan nantinya kampus PTS maupun PTN akan menerima mahasiswa baru lebih banyak. Tapi masih mengikuti peraturan atau regulasi yang telah ditetapkan oleh Dikti.
“Naiknya kuota mahasiswa memang dimungkinkan, tetapi kita tidak akan menerima mahasiswa melebihi rasio dosen dengan mahasiswa yang telah ditetapkan,” tegasnya.
Sementara itu, ditempat yang berbeda Wakil Rektor 1 Bidang Akademik dan Kerjasama Unmer Malang Prof. Ir. H. Respati Wikantiyoso, MSA,Ph.D mengatakan bahwa regulasi pembelajaran online yang akan dijalankan oleh Kemenristek Dikti telah diterapkan oleh salah satu Fakultas Teknik di beberapa prodi pada tahun lalu.
“Kami memang telah menerepkan tetapi belum semua. Karena mengikuti dengan support dari kelembagaannya,” kata Respati kepada Malang Post.
Menurutnya, pembelajaran e-learning memang tepat sebagai alternatif pembelajaran mengikuti perkembangan teknologi. Sehingga mahasiswa yang berada jauh bisa lebih efisien dan efektif dalam penagajarannya.
“Tentu dalam pelaksanaannya harus menggunakan sistem yang bisa diaudit. Selain itu, persiapan infrastruktur, sertifikasi kompetensi dosen juga menjadi bagian penting,” terangnya.
Ia mengeaskan, dalam pemebelajaran online akan tetap dilakukan pertemuan tatap muka. Dengann persentasi yang diperkirakan sebanyak 60 persen tatap muka dan 40 persen daring. Sementara saat ditanyai tentang biaya penyelenggaraan e-learning, diutarakannya akan menunggu regulasi dari peraturan kementerian. (eri/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :