Anggarkan Ratusan Juta Demi UNBK


MALANG - Seluruh siswa MTs di bawah Kantor Kementerian Agama (Kankemenag)  mengikuti simulasi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) secara serempak, kemarin. Simulasi tersebut diselenggarakan pada masing-masing sekolah. Salah satunya, MTs Nurul Huda yang tahun ini baru mengikuti UNBK secara mandiri.
“Hari ini, (kemarin,Red) simulasi lancar seperti pembelajaran biasa. Suasananya tenang dan tidak ada kendala,” ujar siswa kelas IX, Achmad Misbahul Muta’alim kepada Malang Post kemarin.
Sebelumnya, sekolah telah menyelenggarakan try out sebanyak 4 kali. Saat simulasi, Misbah bersama teman-temannya merasakan tata cara mengoperasikan komputer hingga login mudah dimengerti. Dimulai dari mendapatkan username dan password sesuai NISN yang akhirnya mereka dapat langsung mengerjakan soal. Dua pelajaran yakni Bahasa Indonesia dan Matematika harus diselesaikan siswa selama dua jam. Siswa yang hobby membaca ini mengaku koneksi internet lancar. “Internet tadi lancar. Kalau soal tidak jauh beda dengan try out, tapi ya matematika masih sulit. Saya sih berharap semoga dapat nilai yang bagus,” lanjut siswa asli Blitar ini.
Tahun ini, siswa MTs Nurul Huda pantas merasa senang karena sekolahnya mampu melaksanakan UNBK secara mandiri. Berbeda dengan tahun lalu yang menyelenggarakan UN masih berbasis kertas. Hal ini membuat siswa merasa lebih nyaman menghadapi ujian.
“Sebelumnya, kami bersama lima madrasah lainnya UN tidak pakai komputer karena berbasis kertas,” ujar Kepala MTs Nurul Huda, Abdul Rokhim SPd kepada Malang Post kemarin.
Tahun lalu antara iya dan tidak ikut UNBK, lanjutnya. Dasarnya, bukan karena kota Malang wajib 100% UNBK tapi lebih pada komitmen yayasan untuk mengikuti aturan pemerintah dengan berbasis komputer. Jumlah peserta ujian yang terdaftar sebanyak 50 siswa dengan dua sesi.
“Kami memang tahun lalu tidak UNBK, pakai kertas saja karena kasihan mental siswa pasti terpengaruh kalau ujian menumpang di sekolah lain. Berhubung tahun ini 25 laptop dan 3 cadangan sudah disiapkan yayasan, jadi kami siap ikut UNBK secara mandiri,” imbuh pria kelahiran Pasuruan ini.
Untuk keperluan itu, pihaknya menganggarkan Rp 150 juta untuk pengadaan 28 laptop, 2 server dan instalasi ruang UNBK.
Dari Kankemenag sendiri sudah mengimbau agar seluruh madrasah dapat saling berkoordinasi untuk kelancaran bersama. Sejauh ini proktor dan teknisi dari madrasah lain juga saling membantu menyelesaikan masalah. Terkait dengan jaringan internet, pihaknya mengaku tidak merasakan kendala mengingat wilayahnya masih mudah dijangkau. Hanya saja, MTs Nurul Huda berkoordinasi dengan proktor dan teknisi dari MTsN 1 Malang terkait kapasitas internet yang dibutuhkan. “Saat berkoordinasi, diberitahukan minim butuh 15 Mbps, jadi kami menyediakan 30 Mbps dirasa sudah cukup. Kemarin sempet mengalami kendala sinkronisasi, tapi proctor dan teknisi madrasah lain mau membantu,” ungkapnya.
Sementara itu, pihaknya mengaku tidak menyiapkan genset untuk pelaksanaan UNBK. Sehingga sekolah juga berharap adanya koordinasi yang baik antara Kankemenag, Dindik, Telkom dan PLN dalam menghindarkan pemadaman pada saat pelaksanaan UNBK nanti. “Saya sih berharap adanya MoU antara pihak terkait agar tidak sampai ada pemadaman nantinya, ya karena kami tidak menyediakan genset. Pernah dulu ada sekolah yang UNBK terus padam, kan kasihan siswanya jadi cemas,” tutupnya. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :