Ketika Mahasiswa Seni Lahirkan Karya Perdana


MALANG – Sebanyak 41 karya dipamerkan di Dewan Kesenian Malang (DKM) sejak tanggal 12-18 Februari. Karya yang terdiri dari 39 seni lukis dan dua karya seni intalasi tersebut merupakan hasil dari ekspresi dan ide yang ditumpahkan dalam kanvas oleh mahasiswa semester II program studi Seni Rupa Murni Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya.
Puluhan karya yang terpampang tertata rapi dengan sorot lampu yang menghiasi setiap karya membuat nampak lebih hidup. Tak hanya itu, puluhan karya yang memiliki pesan dan makna yang tetentunya ingin disampaikan kepada masyarakat luas sebagai eksistensi pengkarya.
Ketua Program Studi Seni Rupa Murni FIB UB, Femi Eka Rahmawati, S.Sn, M.Pd mengatakan bahwa tidak ada batas tema untuk pameran pertama yang diikuti oleh mahasiswa angkatan 2017 semester II. Pameran untuk pertama kalinya di luar kampus tersebut, wajib diikuti serta setiap mahasiswa harus mengirimkan karya terbarunya.
“Di pameran pertama mereka, kami bebaskan anak-anak mengekspresikan apa yang ingin disampaikan. Selain itu, tidak ada seleksi khusus, karena tujuan utamanya untuk memperkenalkan bakat diri masing-masing. Kalau biasanya hanya di pajang di kampus dan yang mengapresiasi para teman-temannya, dengan pameran di DKM paling tidak mendapat respons apresiasi dari masyarakat umum,” ujar Femi kepada Malang Post.
Pameran yang bertemakan Cul-Culan Ngadek Bareng ini, dikatakan Femi mengartikan sebagai anak kecil yang sedang berlajar untuk berjalan. Sehingga sama dengan apa yang dilakukan oleh mahasiswa UB yang baru pertama kalinya untuk belajar dan berani untuk terjun di dunia luar secara bersama dan saling membantu menuju impian mereka.
Sementara itu, salah satu pengkarya Rosalia Fabidyahwati, mahasiswa prodi Seni Rupa UB menampilkan karyanya dengan judul “introduce beside hope”. Selama dua minggu ia tungkan ide dalam media kanvas ukuran 120x80 cm bergambar bunga mawar yang berada di tengah-tengahbanyaknya rumput. Ia menceritakan jika karyanya tersebut memiliki makna persaingan di dunia seni.
“Saya masih baru di dunia seni, karena itu saya tungkan apa yang ada dalam pikiran saya dengan mengumpamakan kuncup mawar yang awal tumbuh dengan dikelilingi banyak daun sekitar banyak tumbuhan liar lainnya. Saya maknai seniman pemula bagi kuncup mawar itu yang nantinya akan tumbuh dengan berbagai untuk salin berlomba menjadi mawar yang paling indah,” bebernya.
Beberapa karya lainnya milik Muchammad Sofin Mustofa dengan judul “Secercah Harapan” menggambarkan seorang anak di tengah gedung perkotaan yang suram dengan membawa bunga. Serta milik Rizka Suhita Parasinta dengan judul “Terjerumus” yang menggambarkan dua perempuan dengan satu duduk dengan mulut dibungkam membawa lonceng. Sedang satunya jongkok menunduk dengan lilin menyala di atas kepalanya. Pameran ini dimeriahkan pula dengan berbagai pertunjukan, antara lain Keroncong Woekir, Begalnoise, Pemuda Harapan Studio, Magic Art, Antrokustik. (eri/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...